BMKG Memantau Tiga Zona Megathrust Berpotensi Gempa Besar

Smallest Font
Largest Font

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengawasi secara ketat tiga segmen megathrust di Indonesia karena telah lama tidak melepaskan akumulasi energi tektonik besarnya. Pemantauan intensif ini berfokus pada zona Mentawai-Siberut, Selat Sunda, serta Sumba untuk memperkuat mitigasi bencana.

Pengawasan khusus dilakukan mengingat seluruh zona megathrust pada dasarnya menyimpan potensi memicu gempa bermagnitudo tinggi. Berdasarkan data BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Palu, wilayah Kabupaten Sigi dan sekitarnya sendiri mencatat 3.596 kali kejadian gempa bumi sepanjang periode 2021 hingga 2026.

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto menjelaskan bahwa kewaspadaan ditingkatkan pada area yang sudah lama pasif dari aktivitas seismik skala besar.

"Contohnya ini segmen Mentawai-Siberut, itu yang berkali-kali kita sampaikan sudah lama tidak terjadi gempa. Segmen yang di Selat Sunda ini, sebenarnya masuk ke segmen Jawa bagian Barat ya, ini juga sudah lama tidak terjadi gempa-gempa magnitude besar," kata Wijayanto.

Pihaknya memastikan pengawasan terhadap wilayah rawan tersebut bakal terus berjalan secara konsisten.

"Jadi, tiga segmen ini, yang kita terus monitor saat ini," tambah Wijayanto.

Sementara itu, Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono menyampaikan indikasi keberadaan kekosongan seismik atau seismic gap pada segmen Mentawai-Siberut dan Selat Sunda. Kondisi tersebut merujuk pada wilayah berpotensi gempa tinggi yang belum melepaskan energinya dalam bentuk gempa besar.

Meski begitu, ia menekankan bahwasanya fenomena akumulasi energi ini adalah potensi jangka panjang dan bukan ramalan bencana dalam waktu dekat.

"Secara ilmiah harus dibedakan antara "memiliki kapasitas menghasilkan gempa besar" dan "akan segera mengalami gempa besar," tegas Daryono.

Untuk mengukur kapasitas gempa di zona subduksi, para pakar mengombinasikan kalkulasi geometri, luas bidang kontak, hingga laju konvergensi pergerakan lempeng.

"Slip deficit, selisih antara gerakan yang seharusnya terjadi akibat konvergensi lempeng dan gerakan yang benar-benar dilepaskan secara aseismik," imbuh Daryono.

Pendekatan pemetaan turut memanfaatkan bukti gempa purba, pemutakhiran data geodesi GNSS/GPS, serta pemodelan skenario keretakan maksimum.

"Model skenario rupture dan Mmax digunakan untuk memperkirakan ukuran gempa maksimum yang secara fisik mungkin terjadi," jelas Daryono.

Langkah pemutakhiran Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024 juga terus ditingkatkan seiring bertambahnya data ilmiah terbaru.

"Bertambahnya jumlah segmen pada peta bukan berarti bumi tiba-tiba memiliki lebih banyak megathrust, tetapi menunjukkan bahwa pemetaan sumber gempa menjadi lebih detail dan ilmiah," kata Daryono.

Di sisi lain, Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Palu Djati Cipto Kuncoro mengimbau masyarakat agar tidak panik secara berlebihan dalam merespons informasi seputar megathrust.

"Jadi, isu mengenai megathrust pada dasarnya merujuk pada energi gempa bumi terkumpul yang tertahan di dalam bumi," kata Djati Cipto Kuncoro.

Kehadiran gempa-gempa berskala kecil di wilayah Sulawesi Tengah justru dinilai membantu pelepasan energi secara perlahan.

"Secara teori, dengan adanya gempa-gempa kecil ini, energi itu sudah mulai dilepaskan pelan-pelan. Sehingga, rasa ketakutan kita terhadap megathrust itu diharapkan tidak begitu dahsyat," ucap Djati Cipto Kuncoro.

Ia menekankan bahwa tidak ada metode ilmiah yang sanggup memprediksi waktu pasti terjadinya gempa bumi di masa depan.

"Kami mengimbau masyarakat untuk tidak mudah terpengaruh oleh isu-isu simpang siur, melainkan terus meningkatkan kesiapsiagaan mandiri dalam menghadapi potensi bencana," sebut Djati Cipto Kuncoro.

Edukasi dan kesiapsiagaan dinilai menjadi langkah krusial untuk menekan potensi risiko dampaknya.

"Harapannya seluruh masyarakat semakin siap dan tanggap, sehingga risiko korban jiwa maupun kerugian material saat bencana terjadi dapat diminimalkan," ujar Djati Cipto Kuncoro.

Langkah edukasi masyarakat salah satunya direalisasikan melalui pelaksanaan Sekolah Lapang Gempabumi di Kabupaten Sigi pada Selasa, 1 September 2026.

"Harapannya adalah kami melatih beberapa peserta, baik itu dari instansi pemerintah, kemudian pengajar, dan kemudian mungkin masyarakat umum," ujar Djati Cipto Kuncoro.

Pembekalan ini melatih kesiapsiagaan serta penanganan darurat sebelum dan sesudah bencana guncangan terjadi.

"Kita tidak pernah tahu gempa bumi itu terjadi di pagi, siang, atau malam. Sehingga kami mengharapkan kesiapsiagaan dari masyarakat sebelum terjadi, saat terjadi, dan setelah terjadi bencana gempa bumi itu benar-benar masyarakat sudah semakin siap," jelas Djati Cipto Kuncoro.

Dukungan keberlanjutan program pelatihan kebencanaan tersebut disuarakan pula oleh Pemerintah Kabupaten Sigi.

"Harapannya seluruh lapisan masyarakat di Kabupaten Sigi semakin siap dan tanggap sehingga risiko korban jiwa maupun kerugian material saat bencana terjadi dapat diminimalkan," kata Djati Cipto Kuncoro.

Sektor peralatan pemantauan kegempaan juga diperkuat dengan menempatkan dua hingga tiga unit alat pemantau khusus di wilayah Sigi.

"Di Sigi khususnya ada kurang lebih dua sampai tiga alat. Jadi alat yang saat memang terjadi gempa, itu bisa termonitor di kantor kita," jelas Djati Cipto Kuncoro.

Pemerintah Daerah menganggap pelatihan mitigasi bencana sebagai prioritas utama demi keselamatan warga.

"Kalau untuk Sigi bukan saja urgent, urgent sekali," ujar Henri Kusuma Rombe, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sigi.

Pemahaman mengenai proteksi diri harus dimiliki setiap anggota masyarakat secara mandiri.

"Diri dan keluarga. Keluarga itu masa depan," tegas Henri Kusuma Rombe.

Peneliti Ahli Utama Geologi Kuarter dan Paleotsunami dari BRIN Eko Yulianto menjelaskan bahwa megathrust secara teknis merupakan patahan atau sesar naik berskala raksasa pada zona pertemuan dua lempeng tektonik utama, seperti lempeng Indo-Australia dan Eurasia.

Guncangan gempa bumi tidak bisa diprediksi secara pasti tanggal maupun jam kejadiannya, sehingga mitigasi taktis dan evakuasi mandiri menjadi fokus utama penyelamatan di daerah pesisir.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed