BMKG Prediksi Dinamika Atmosfer Picu Cuaca Ekstrem Musim Kemarau

Smallest Font
Largest Font

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan dinamika atmosfer seperti fenomena gelombang Rossby Ekuator hingga faktor interferensi manusia memicu bencana banjir di tengah periode musim kemarau nasional pada awal Juni 2026.

Hingga akhir Mei lalu, sistem pemantauan BMKG mencatat baru sekitar 24 persen dari total 699 Zona Musim (ZOM) di seluruh wilayah tanah air yang secara resmi telah memasuki masa kemarau. Dampak penurunan intensitas hujan yang dipengaruhi oleh fenomena El Nino umumnya terkonsentrasi di bagian garis khatulistiwa sisi selatan.

Kondisi kemarau dipengaruhi oleh aktifnya fenomena El Nino yang mulai muncul pada akhir April hingga awal Mei 2026. Intensitas El Nino tersebut diperkirakan meningkat dari kategori lemah menjadi moderat pada triwulan III tahun 2026, tepatnya sekitar bulan Agustus, September, hingga Oktober berdasarkan analisis tim klimatologi BMKG.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani saat ditemui di ANTARA Heritage Center Jakarta, Kamis (4/6/2026), menjelaskan bahwa kondisi cuaca pada masa peralihan menuju kemarau saat ini bersifat sangat kompleks karena dipengaruhi oleh berbagai variasi harian.

"Ada juga terkait dengan gelombang Rossby ekuator, gelombang Kelvin, MJO (Madden-Julian Oscillation), yard sebagainya yang dapat menimbulkan variasi harian," kata Teuku Faisal Fathani, Kepala BMKG.

Fathani menjelaskan indikasi tersebut membuat curah hujan masih tetap berpotensi turun di beberapa wilayah perairan dan daratan Indonesia, meskipun direktorat klimatologi telah mengumumkan masuknya periode kemarau tahun ini. Selain faktor dinamika atmosfer, BMKG juga menyoroti andil besar faktor lokal dan interferensi manusia, seperti masifnya pembangunan kawasan perumahan serta pendangkalan struktur sungai di berbagai daerah.

Prakirawan BMKG, Nur M. Rizky, menjelaskan bahwa pada awal Juni angin timuran mulai aktif dan memengaruhi kondisi atmosfer Indonesia yang diperkuat oleh sejumlah gelombang atmosfer selama Dasarian I Juni 2026.

“Memasuki awal Juni, angin timuran diprediksi aktif dengan belokan angin di sekitar wilayah Ekuator. Beberapa gelombang atmosfer juga diprediksi aktif di wilayah Indonesia selama Dasarian 1 Juni 2026,” jelas Nur M. Rizky, Prakirawan BMKG.

Rizky menjabarkan bahwa fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) masih aktif di fase enam dan tujuh di sekitar Samudra Pasifik bagian barat dan diperkirakan bertahan hingga akhir Dasarian 1 Juni 2026 menuju fase delapan.

“Sementara tutupan awan di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi lebih sedikit dibandingkan kondisi klimatologis normalnya,” kata Nur M. Rizky, Prakirawan BMKG.

Rizky mengonfirmasi anomali suhu permukaan laut yang mengarah pada peluang terbentuknya fenomena El Nino dengan jumlah Zona Musim (ZOM) sebanyak 28,6 persen wilayah Indonesia atau 200 ZOM telah memasuki musim kemarau.

“Nilai indeks Nino 3.4 menunjukkan kondisi hangat yang melewati batas netral. BMKG memprediksi adanya peluang El Nino,” ujar Nur M. Rizky, Prakirawan BMKG.

Sebanyak 55,2 persen atau 386 ZOM masih diprediksi mengalami hujan dengan kategori rendah, menunjukkan musim kemarau belum sepenuhnya mendominasi. Berdasarkan laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), banjir sempat merendam Kota Manado pada 28 Mei yang memaksa 747 jiwa mengungsi, sementara kebakaran hutan melanda Sumatera Selatan seluas 182,54 hektare dan Riau 3.474,74 hektare hingga 1 Juni 2026.

“Kondisi ini menunjukkan bahwa transisi menuju musim kemarau masih berlangsung secara bertahap, dengan karakter cuaca yang berbeda-beda di setiap wilayah akibat pengaruh dinamika atmosfer yang masih aktif,” pungkas Nur M. Rizky, Prakirawan BMKG.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed