BMKG Minta Pemda Waspadai Karhutla Dan Kekeringan Hingga Oktober 2026
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa 76,5 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau yang dipicu oleh fenomena El Nino intensitas sangat kuat hingga akhir Agustus 2026. Kondisi ini memperpanjang potensi kekeringan serta meningkatkan ancaman kebakaran hutan dan lahan di berbagai daerah.
Analisis BMKG menunjukkan curah hujan kategori rendah kini mendominasi 90,79 persen wilayah Indonesia. Dampak kekeringan tersebut telah memicu munculnya titik panas dan sebaran asap di Kalimantan serta Sumatera bagian tengah dan selatan berdasarkan pantauan satelit Himawari-9.
Empat wilayah ditetapkan sebagai prioritas penanganan titik panas karhutla, yaitu Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Papua Selatan, dan Kalimantan Timur. Pertumbuhan awan hujan diperkirakan masih sangat minim di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, hingga sebagian Papua.
"Saat ini terkait dengan analisis titik panas untuk update 19 Agustus, ada empat provinsi yang menjadi prioritas. Yang pertama Kalimantan Barat, kebetulan jumlah hotspot-nya paling banyak ketua. Kemudian Kalimantan Tengah, selanjutnya Papua Selatan dan juga Kalimantan Timur," kata Teuku Faisal Fathani, Ketua BMKG.
Faisal menambahkan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia masih mengalami hari tanpa hujan yang cukup panjang. Fenomena cuaca kering diprediksi bertahan hingga memasuki bulan berikutnya.
"Untuk potensi pertumbuhan awan hingga sepuluh hari ke depan ini kami sampaikan bahwa diperkirakan masih minim di sebagian besar Indonesia terutama Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Kalimantan, Maluku, dan sebagian Papua," ujarnya.
Musim hujan diperkirakan baru akan mulai mengguyur secara merata pada pertengahan bulan mendatang. Untuk memitigasi dampak kekeringan dan kebakaran, pemerintah menggencarkan operasi modifikasi cuaca.
"Kalau dari prediksi BMKG Bapak Ketua mohon izin para anggota Komisi V, diperkirakan pada pertengahan Oktober musim hujan baru mulai datang Pak, pertengahan Oktober," tuturnya.
Operasi modifikasi cuaca tersebut tidak hanya difokuskan pada penanganan kebakaran di area perkebunan dan hutan, tetapi juga diarahkan untuk pengisian pasokan air di waduk-waduk vital.
"Seluruh operasi modifikasi cuaca di bulan Agustus tidak hanya untuk kebakaran hutan dan lahan di Riau juga kami sampaikan juga ada operasi yang masih berlangsung kemudian untuk Jawa Barat ini untuk pengisian waduk dan juga di IKN untuk pengisian waduk Sepaku Semoi di sana yang juga mulai mengalami kekeringan," ujarnya.
Masyarakat mengantisipasi datangnya hujan dengan mempersiapkan drainase pemukiman dan taman. Langkah-langkah penataan lahan seperti pembersihan saluran air, penggunaan mulsa, hingga perbaikan resapan tanah direkomendasikan guna mencegah genangan saat musim hujan tiba nanti.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow