BNPB Luncurkan Operasi Modifikasi Cuaca Tekan Karhutla dan Abu Vulkanik Jawa Tengah
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memulai Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Jawa Tengah pada 7 September 2026 sebagai upaya memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta menghalau penyebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.
Operasi ini menggunakan pesawat Cessna PK-SNH dari Pangkalan Udara Ahmad Yani, Semarang, dengan penyemaian bahan kalsium klorida (CaCl2) untuk memicu hujan buatan yang diharapkan dapat memadamkan titik api, menjaga kelembapan tanah, dan menurunkan abu vulkanik di udara. Hujan buatan juga berfungsi membersihkan udara dari polutan abu vulkanik yang dapat menyebabkan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan gangguan jarak pandang.
Hingga 6 September 2026, BNPB mencatat beberapa kebakaran lahan di Jawa Tengah, termasuk di Kabupaten Klaten (2 hektare), Sragen (4 hektare), dan Banyumas (6,05 hektare) yang sudah berhasil dipadamkan tanpa korban jiwa, namun risiko karhutla susulan tetap tinggi karena kondisi lahan yang kering.
“Dalam penerbangan Sorti 1 pada 7 September, kami menyemprotkan 1.000 liter campuran air dan CaCl2 pada ketinggian 9.000 kaki untuk mendorong pembentukan awan dan hujan,” ujar tim Flight Scientist BNPB. Penyemaian menargetkan awan Cumulus di area pesisir Cilacap, Banyumas, dan Brebes dengan arah angin dari Timur-Timur Laut berkecepatan 5–8 knot.
Selain penyemaian awan, BNPB juga mempersiapkan teknik penyemprotan kabut air (watermist) yang dicampur surfaktan untuk mengikat dan menurunkan partikel abu vulkanik secara fisik.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama BPBD Jawa Tengah turut memantau pergerakan awan, titik rawan karhutla, dan persebaran abu vulkanik secara real-time selama operasi berlangsung.
Gunung Anak Krakatau kembali erupsi pada 10 September 2026 pukul 09.10 WIB dengan durasi 17 detik dan amplitudo 47 mm, menambah rangkaian 13 erupsi Strombolian sejak erupsi menerus yang berlangsung dari 4 hingga 6 September 2026.
Badan Geologi Kementerian ESDM menyatakan aktivitas Gunung Anak Krakatau masih pada Level III (Siaga) dan melarang masyarakat beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah. Masyarakat di pesisir Banten dan Lampung diminta tetap tenang dan tidak mempercayai isu tsunami akibat erupsi.
Erupsi malam sebelumnya pada 9 September pukul 00.47 WIB juga tercatat dengan amplitudo 51 mm dan durasi 28 detik, menegaskan status Siaga yang masih berlaku di gunung tersebut.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow