BPOM Siapkan Relaksasi Industri Farmasi Redam Dampak Pelemahan Rupiah

Smallest Font
Largest Font

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyiapkan sejumlah kebijakan relaksasi bagi industri farmasi nasional guna meredam dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap pasokan bahan baku dan harga obat di Indonesia pada Kamis (4/6/2026).

Langkah strategis ini diambil menyusul ketergantungan besar sektor farmasi domestik terhadap komponen impor yang dibeli menggunakan mata uang dolar Amerika Serikat (AS). Dilansir dari Kompas.com, nilai tukar rupiah terpantau merosot ke level Rp 18.038 per dolar AS setelah sempat menyentuh posisi Rp 18.044 per dolar AS yang menjadi level terendah sepanjang masa.

Kepala BPOM Taruna Ikrar menjelaskan bahwa pelonggaran aturan ini bertujuan membantu pemerintah menjaga stabilitas operasional industri obat dalam negeri.

"Pelemahan rupiah tentu itu faktornya banyak. Tapi yang jelas kami dari Badan POM ingin membantu pemerintah semaksimal mungkin supaya dampak dari pelemahan rupiah itu tidak berdampak signifikan terhadap ketersediaan bahan-bahan kita," ujar Taruna Ikrar, Kepala BPOM.

Kemudahan yang disiapkan mencakup fleksibilitas penggantian pemasok bahan baku tanpa jalur birokrasi panjang, regulasi baru untuk mempermudah penggunaan bahan kemasan alternatif, hingga penerapan sistem pelabelan elektronik (e-labeling) untuk memangkas ongkos produksi.

"Jadi kesimpulannya adalah Badan POM berkomitmen untuk secara maksimal pelemahan rupiah jangan berpengaruh terhadap harga obat nasional kita," kata Taruna Ikrar, Kepala BPOM.

Merespons situasi ekonomi ini, pelaku industri mengonfirmasi adanya tekanan besar pada struktur biaya produksi akibat kenaikan kurs mata uang asing.

"Kita tahu Indonesia masih sangat tergantung bahan bakunya dari impor. Tetapi bahan itu bukan cuma raw material. Ada juga packaging material yang seluruhnya sumbernya dari lokal," ujar Benny Sutisna Suwarno, Direktur Utama PT Ferron Par Pharmaceuticals.

Benny menambahkan bahwa efek penurunan nilai mata uang ini bervariasi pada tiap lini produk, di mana obat injeksi memiliki ketahanan lebih baik dibandingkan produk tablet karena porsi bahan aktifnya yang relatif kecil.

"Kenaikan harga obat itu sebuah keniscayaan menurut saya. Karena kita mendapatkan bahan baku juga harganya naik, biaya transportasi naik. Secara logika pasti akan berpengaruh terhadap harga obat," kata Benny Sutisna Suwarno, Direktur Utama PT Ferron Par Pharmaceuticals.

Guna mengatasi pembengkakan biaya, pihak perusahaan memutuskan untuk menggenjot volume ekspor ke pasar global demi mengamankan pendapatan dalam bentuk dolar AS.

"Kita genjot ekspor supaya mendapatkan devisa. Yang kita tekor dengan pelemahan dolar bisa diimbangi. Saat ini dampaknya ke Ferron dan Dexa Group belum terlalu signifikan," jelas Benny Sutisna Suwarno, Direktur Utama PT Ferron Par Pharmaceuticals.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed