Brasil Tekuk Jepang 2-1 Lewat Gol Gabriel Martinelli
Tim nasional Brasil berhasil menundukkan Jepang dengan skor 2-1 pada pertandingan babak 32 besar Piala Dunia 2026 setelah Gabriel Martinelli mencetak gol penentu di masa injury time.
Dilansir dari CNN Indonesia, Jepang sempat memimpin terlebih dahulu pada babak pertama melalui tendangan jarak jauh Kaishu Sano sebelum disamakan oleh sundulan Casemiro memanfaatkan umpan Gabriel Magalhaes pada menit ke-56. Pelatih Brasil, Carlo Ancelotti, kemudian memasukkan Gabriel Martinelli pada menit ke-66 untuk menggantikan Matheus Cunha demi menambah tenaga baru di lini depan.
Keputusan tersebut terbukti tepat setelah Martinelli sukses memanfaatkan umpan Bruno Guimaraes di kotak penalti dan melepaskan tembakan yang gagal dibendung oleh kiper Jepang, Zion Suzuki. Kemenangan ini mengantarkan Selecao lolos ke babak 16 besar sekaligus menghindarkan laga berlanjut ke babak perpanjangan waktu.
Sebelum pertandingan berlangsung, Ancelotti sempat mengungkapkan kondisi kebugaran Neymar yang terus menunjukkan perkembangan positif dalam sepekan terakhir sebelum laga krusial menghadapi Jepang. Pertandingan ini dinilai menjadi pembuktian penting mengingat Brasil pernah menelan kekalahan dari lawan yang sama pada laga uji coba tahun lalu.
"Dalam sepekan terakhir perkembangannya sangat signifikan. Sayangnya pada pertandingan sebelumnya dia tidak bisa bermain lebih dari 15 menit, tetapi sekarang kondisinya sudah cukup baik untuk bermain lebih lama," ujar Carlo Ancelotti, Pelatih Brasil.
Ancelotti juga menegaskan bahwa timnya tidak akan meremehkan kekuatan Jepang karena pengalaman kekalahan 2-3 di Tokyo pada Oktober lalu menjadi pelajaran berharga. Karakter pertandingan fase gugur yang hidup-mati menuntut persiapan yang maksimal layaknya sebuah partai puncak.
"Pertandingan itu menjadi pengalaman yang sangat baik karena kami mengetahui bahwa Jepang adalah salah satu tim terbaik di dunia. Kami sangat menghormati mereka dan akan mempersiapkan pertandingan ini seperti sebuah final, karena bagi kami ini memang adalah final," ujar Carlo Ancelotti, Pelatih Brasil.
Kesiapan mental dan keberanian yang besar menjadi poin utama yang ditekankan oleh sang pelatih dalam menghadapi tekanan di sistem gugur. Skuad Brasil dipastikan siap mengantisipasi segala skenario yang mungkin terjadi di lapangan.
"Kami membutuhkan mental yang kuat dan keberanian yang besar. Kami harus siap menghadapi apa pun yang bisa terjadi dalam pertandingan sistem gugur, termasuk jika harus bermain hingga perpanjangan waktu atau adu penalti," kata Carlo Ancelotti, Pelatih Brasil.
Ekspektasi tinggi mengiringi langkah Brasil di turnamen ini, namun sang pelatih tetap mengingatkan bahwa setiap laga memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. Motivasi dan kepercayaan diri yang penuh menjadi modal utama anak asuhnya.
"Tim ini sudah siap, termotivasi, dan penuh percaya diri. Namun setiap pertandingan dalam kompetisi ini selalu sangat sulit," terang Carlo Ancelotti, Pelatih Brasil.
Terkait jadwal pertandingan yang dimulai pada pukul 12.00 waktu Houston, Ancelotti menganggap kondisi cuaca siang hari tersebut bukan menjadi kendala besar. Waktu kick-off tersebut dinilai mirip dengan rutinitas latihan harian mereka.
"Saya rasa tidak banyak yang perlu diubah. Justru ini adalah waktu yang biasa kami gunakan untuk berlatih. Pada akhirnya kami hanya akan bermain sepak bola," ungkap Carlo Ancelotti, Pelatih Brasil.
Fokus dan pemahaman taktik yang matang tetap menjadi penekanan utama untuk meredam permainan Jepang yang dikenal memiliki organisasi sangat rapi. Hal ini krusial untuk mempertahankan dominasi permainan sepanjang laga.
"Kami harus tetap fokus. Kami akan menghadapi lawan yang sangat tangguh dan terorganisasi dengan baik. Karena itu kami harus benar-benar memahami apa yang ingin kami lakukan di lapangan," sebut Carlo Ancelotti, Pelatih Brasil.
Ancelotti juga sempat melontarkan candaan mengenai ketegangan yang biasa dihadapi oleh seorang manajer menjelang pertandingan besar. Ia membandingkan kondisi mental dirinya dengan para pemain yang tetap tenang.
"Para pemain pasti akan tidur dengan sangat nyenyak. Jauh lebih nyenyak dibandingkan pelatih kepala, itu sudah pasti," ujar Carlo Ancelotti, Pelatih Brasil.
Mengenai peta persaingan secara keseluruhan di Piala Dunia, pelatih berusia 67 tahun tersebut berpendapat bahwa belum ada satu tim yang mendominasi sebagai kandidat juara tunggal. Persaingan ketat di fase grup menunjukkan kekuatan tim peserta yang merata.
"Mungkin ada beberapa tim yang tampil lebih baik dibandingkan yang lain pada fase grup, tetapi saya belum melihat adanya favorit yang benar-benar menonjol. Saya rasa turnamen ini akan berlangsung sangat ketat dan seimbang," katanya Carlo Ancelotti, Pelatih Brasil.
Di sisi lain, pertemuan antara Brasil dan Jepang di babak gugur ini memicu nostalgia mendalam bagi para penggemar sepak bola era 80-an dan 90-an terkait serial manga "Captain Tsubasa". Dilansir dari vietnam.vn, laga ini memicu kembali perdebatan mengenai sosok legenda Brasil di dunia nyata yang menginspirasi karakter Roberto Hongo, pelatih Tsubasa Ozora.
Karakter Hongo digambarkan sebagai gelandang serang nomor 10 bertinggi 1,78 meter yang terpaksa pensiun dini karena cedera mata. Detail serta kemampuannya sering kali dikaitkan oleh pembaca dengan perpaduan beberapa maestro sepak bola Brasil seperti Pele, Socrates, Zico, hingga kisah hidup Tostao yang juga mengalami cedera retina parah pada masa kejayaannya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow