BRIN Siapkan Ekspedisi Perairan Indonesia 200 Hari Jelajahi Zona Megathrust
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengagendakan ekspedisi perairan Indonesia selama 200 hari yang dijadwalkan berlangsung pada periode 2026 hingga 2028. Ekspedisi ini difokuskan menjelajahi zona megathrust, Flores thrust, kompleks gunung bawah laut, serta zona tumbukan di wilayah Indonesia bagian timur, seperti dilansir dari Detikcom. Eksplorasi maritim tersebut bertujuan mengungkap potensi sumber daya alam sekaligus mengumpulkan data penting terkait riset kebencanaan.
Program ini diselenggarakan lewat skema Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) Invitasi Strategis 2026 bertajuk Ekspedisi dan Eksplorasi Keanekaragaman Hayati dan Geologi Maritim Perairan Indonesia. Pelaksanaan program disusun untuk memperluas cakupan penelitian pada kawasan laut dalam dan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia yang hingga kini belum sepenuhnya memiliki data memadai. BRIN mengerahkan sejumlah armada kapal riset untuk menunjang kegiatan ini, meliputi KR Baruna Jaya III, KRI Canopus 936, serta KN Madidihang 03.
KR Baruna Jaya III akan ditugaskan melayani penelitian hidrografi dan geosains di perairan Bali, NTT, Laut Sawu, hingga Sumba. Sementara itu, KRI Canopus 936 dikerahkan untuk riset biodiversitas dan hidro-oseanografi di Selat Malaka serta Natuna, sedangkan KN Madidihang 03 disiapkan sebagai armada pendukung operasional.
Ketua Tim Tata Kelola Ekspedisi Kapal Riset BRIN, Adi Slamet Riyadi, menjelaskan bahwa karakter wilayah perairan Indonesia menyimpan potensi besar sekaligus tantangan tersendiri bagi dunia riset. Keberadaan kawasan laut dalam, gunung bawah laut, dan zona subduksi membutuhkan eksplorasi lebih intensif guna mendukung pemanfaatan sumber daya kelautan secara berkelanjutan. Pengumpulan data primer dari lapangan dinilai esensial untuk memetakan perubahan lingkungan laut, menilai risiko kebencanaan, serta mengidentifikasi potensi sumber daya. Lewat skema ini, BRIN menyediakan akses inklusif bagi peneliti, dosen, hingga mahasiswa untuk melakukan akuisisi data, kontrol kualitas, analisis, dan publikasi ilmiah.
Pelaksanaan riset mencakup empat fokus utama, yaitu geosains kelautan, oseanografi, hidrografi, serta biodiversitas dan perikanan. Ruang lingkup kajian membentang dari eksplorasi keanekaragaman hayati tingkat molekuler, pemetaan dasar laut, analisis proses fisik dan kimia perairan, hingga studi struktur geologi bawah laut. Data yang diperoleh ditargetkan menjadi rujukan bagi kementerian dan lembaga dalam merumuskan kebijakan strategis nasional, seperti pemetaan stok ikan untuk Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI). Tahapan pendaftaran Call for Proposal dibuka pada 20 Agustus hingga 6 September 2026, dilanjutkan proses seleksi pada 7-21 September, dan pengumuman hasil pada 25 September 2026, sebelum memulai hari layar pertama pada 5 November 2026.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow