BRIN Pamerkan Pesawat Udara Tanpa Awak Alap-Alap di IISE 2026

Smallest Font
Largest Font

Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa (ORPA) BRIN memamerkan pesawat udara tanpa awak (PUNA) Alap-alap dalam ajang Indonesia Innovation Summit & Expo (IISE) 2026 di Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (8/9/2026). Wahana buatan ilmuwan lintas disiplin Indonesia ini dirancang untuk pemetaan wilayah, pemantauan bencana, dan operasi modifikasi cuaca secara adaptif, sebagaimana dilansir dari Detik iNET.

Pengembangan wahana udara ini melibatkan kolaborasi riset ahli teknik dirgantara, teknik mesin, hingga teknik elektro. Keterlibatan akademisi lintas sektor tersebut bertujuan memastikan aspek stabilitas penerbangan, ketahanan struktur, serta sistem navigasi autopilot berfungsi optimal saat dioperasikan.

"Kalau teman-teman teknik dirgantara kan mereka di kampus diajarin bagaimana caranya menerbangkan sebuah pesawat, stabilitasnya gimana, ngontrolnya gimana supaya bisa landing safely, menghitung beratnya gimana, dan lain-lain. Kemudian teman-teman yang teknik mesin itu kan diajarin untuk bikin struktur misalnya landing gear-nya, gimana ngontrol mesinnya, supaya stabil dan tidak panas," kata Dr Robertus Heru Triharjanto, B.Eng, M.Sc, Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa (ORPA).

Integrasi sistem elektronik seperti antena GPS tracking memungkinkan drone ini bergerak mandiri menuju titik koordinat tujuan. Proses perancangan awal hingga pembuatan PUNA Alap-alap membutuhkan waktu beberapa bulan dengan skema pembiayaan fleksibel yang bergantung pada kebutuhan komponen.

"Basically habis biayanya itu buat beli komponen, mesin, perangkat elektronik, kemudian sensor kameranya. Kameranya tergantung isinya mau kamera kayak apa, ada kamera yang mahal banget, kamera ada yang ratusan juta, ada yang cuman puluhan juta, tergantung opsinya," terang Heru.

Fleksibilitas lepas landas menjadi keunggulan operasional wahana ini, terutama saat dikerahkan ke lokasi darurat bencana yang tidak memiliki landasan pacu standar. PUNA Alap-alap dapat memanfaatkan jalan aspal pemukiman atau area terbuka di tepi hutan untuk landasan pemanduan.

"Fungsinya kalau pas bencana itu kan biasanya kita memonitor. Misalnya waktu kemarin Sumatra-Aceh itu. Dari situ tim dapat menerbangkan drone untuk melihat setelah jalan yang putus, apalagi yang rusak?

Apakah jalan satu itu aja yang rusak, atau nanti di sana ada jalan lagi yang rusak, atau rumah, atau adakah korban? Misalnya," jelas Heru.

Seluruh data citra visual yang terekam akan dianalisis oleh tim ilmuwan BRIN untuk diserahkan kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) guna penanganan lebih lanjut. Teknologi serupa sebelumnya juga pernah dikerahkan untuk memetakan erupsi Gunung Krakatau pada 2018 lalu.

"Ada saudaranya pesawat ini yang namanya LSU, dulu waktu Krakatau meletus 2018, kita terbangin dia dari Banten sampai ke Krakatau. Kita foto-foto gunungnya, balik lagi. Jadi untuk membuat citra yang lebih detail tentang kondisi di daerah itu," tutup Heru.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed