Bulan Purnama Buck Moon Hiasi Langit Indonesia 29 Juli 2026

Smallest Font
Largest Font

Langit malam di wilayah Indonesia dihiasi fenomena astronomi Bulan Purnama Buck Moon yang mencapai puncak fasenya pada Rabu, 29 Juli 2026 pukul 21.35 WIB. Peristiwa yang terjadi saat Bumi berada di aphelion ini dapat diamati langsung setelah Matahari terbenam.

Pengamat di Indonesia bagian tengah dan timur dapat menyaksikan puncak fase purnama ini masing-masing pada pukul 22.35 WITA dan 23.35 WIT. Bulan memancar terang dari arah ufuk timur dan tampak nyaris bulat penuh sejak malam sebelum hingga sesudah puncak fenomena.

Buck Moon menjadi bulan purnama terjauh dari Matahari sepanjang tahun 2026 sekaligus berada pada posisi sangat rendah di cakrawala. Kondisi kedekatan dengan horizon tersebut menciptakan ilusi optik yang membuat piringan Bulan tampak lebih besar dan berubah warna secara visual saat terbit.

Astronom Kaitlyn Martin dari Te Whatu Stardome Observatory memaparkan karakteristik pengamatan fenomena ini dari sudut pandangnya.

"Bulan Rusa tidak memiliki karakteristik yang berbeda secara signifikan dari bulan purnama lainnya. Namun, jika cuaca mendukung, pengamat masih dapat mengagumi bulan purnama yang sangat terang dan indah," kata Kaitlyn Martin.

Ia juga memberikan saran terkait momen terbaik bagi masyarakat yang ingin menikmati keindahan pemandangan tersebut secara maksimal.

"Waktu terbaik untuk mengamati Bulan Rusa adalah ketika bulan baru saja terbit di timur sebagai bola oranye. Pengamat sebaiknya memilih lokasi dengan pemandangan yang tidak terhalang, jauh dari lampu kota, atau dari tempat yang tinggi agar dapat lebih baik mengagumi dan memotret bulan," ujar Kaitlyn Martin.

Pakar astronomi lain membagikan penjelasannya untuk meluruskan kekeliruan persepsi publik mengenai istilah fenomena ini.

"Bulan Rusa sering disalahartikan sebagai supermoon. Namun, supermoon hanya terjadi ketika bulan purnama berada di dekat perigee dalam orbitnya, menyebabkan ukuran tampak bulan tersebut terlihat lebih besar dari biasanya," tutur Antony Gomez dari International Astronomical Union (IAU).

Kemunculan Buck Moon juga bertepatan dengan masa aktif tiga hujan meteor, yakni Southern Delta Aquariids, Alpha Capricornids, dan Perseids. Hujan meteor Southern Delta Aquariids serta Alpha Capricornids diprediksi mencapai puncak intensitasnya pada 31 Juli hingga 1 Agustus 2026.

Meskipun Southern Delta Aquariids mampu menghasilkan sekitar 20 meteor per jam dan Alpha Capricornids memancarkan meteor sangat terang, pancaran sinar Buck Moon berpotensi menyamarkan kilatan meteor redup. Sementara itu, puncak hujan meteor Perseids diproyeksikan terjadi pada pertengahan Agustus 2026 dalam kondisi pengamatan yang lebih ideal karena bertepatan dengan fase Bulan Baru.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed