Bumi Resources Putuskan Tidak Bagikan Dividen untuk Tahun Buku 2025

Smallest Font
Largest Font

PT Bumi Resources Tbk (BUMI) memutuskan untuk tidak membagikan dividen kepada pemegang saham untuk tahun buku 2025 dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar di Jakarta. Keputusan penahanan laba tersebut diambil demi mendukung strategi pengembangan dan diversifikasi usaha perseroan ke depan.

Dilansir dari Liputan6.com, RUPST dan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) tersebut menyetujui laporan pertanggungjawaban Direksi serta mengesahkan laporan keuangan auditan tahun buku 2025 yang berakhir pada 31 Desember 2025. Laporan keuangan emiten batu bara itu memperoleh opini wajar tanpa pengecualian dari Kantor Akuntan Publik Amir Abadi Jusuf, Aryanto, Mawar dan Rekan (RSM Indonesia).

Selain kebijakan dividen, rapat menyetujui perombakan susunan Dewan Komisaris dan Direksi. Posisi Presiden Komisaris merangkap Komisaris Independen kini dijabat oleh Sharif Cicip Sutardjo, sementara posisi Presiden Direktur tetap ditempati oleh Adika Nuraga Bakrie.

Perseroan juga melaporkan realisasi penggunaan dana Penawaran Umum Berkelanjutan Obligasi Berkelanjutan I BUMI (PUB I BUMI) Tahap I hingga V dengan total nilai mencapai Rp5 triliun. Per 31 Mei 2026, sisa dana hasil emisi obligasi tercatat sebesar Rp980,8 miliar dan dinyatakan telah direalisasikan sesuai rencana prospektus.

Di pasar modal, pergerakan saham emiten milik Grup Bakrie dan Salim ini diwarnai aksi jual bersih (net sell) oleh investor asing senilai Rp553,3 miliar selama periode 15-19 Juni 2026. Data Stockbit Sekuritas yang dilansir Suara.com menunjukkan nilai pelepasan tersebut menempatkan BUMI di posisi ketiga volume net sell asing terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI), di bawah PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) sebesar Rp838,6 miIiar dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) senilai Rp630,2 miliar.

Meski ditekan aksi jual masif, saham BUMI menutup perdagangan Jumat (19/6/2026) di level Rp168 per lembar setelah terkoreksi harian 1,75 persen, namun secara mingguan performanya melonjak hingga 7 persen. Penguatan ini terjadi di tengah tren keluarnya modal internasional dari pasar modal dalam negeri dengan total net sell asing mencapai Rp904 miliar dalam sepekan terakhir.

Kondisi fundamental BUMI yang ditopang pendapatan dalam mata uang dolar AS menarik perhatian para analis di tengah fluktuasi pasar. Lembaga Samuel Sekuritas Indonesia mengeluarkan rekomendasi beli untuk saham BUMI dengan target harga Rp300 per lembar saham.

“Untuk saham emiten logam dan batu bara berbasis pendapatan dolar AS, pilihan utama kami adalah Antam (ANTM), Amman Mineral Internasional (AMMN), Bumi Resources (BUMI), dan Timah (TINS),” ulas Head of Equity Research Samuel Sekuritas Indonesia, Prasetya Gunadi.

Analis menilai sektor komoditas kini mendekati titik terendah didorong regulasi domestik yang kondusif seperti kepastian tarif royalti, skema gross split, serta penambahan kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pertambangan pada semester II-2026. Berdasarkan data historis perusahaan yang dilansir KabarBursa.com, BUMI yang berdiri sejak 1973 awalnya bernama PT Bumi Modern di bidang perhotelan sebelum beralih ke industri minyak, gas, dan pertambangan pada tahun 1998, hingga menjadi raksasa batu bara melalui akuisisi PT Arutmin Indonesia dan PT Kaltim Prima Coal (KPC).

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed