Bupati Bogor Imbau Warga Jaga Persatuan Usai Viral Tukang Cukur Ditegur
Bupati Bogor Rudy Susmanto mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga persatuan di tengah sorotan publik terkait dugaan intimidasi terhadap seorang tukang cukur di Bantar Kambing, Desa Bantarjaya, Kecamatan Rancabungur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Peristiwa tersebut terungkap setelah potongan video peneguran akibat belum memasangnya bendera Merah Putih menjelang Hari Kemerdekaan Republik Indonesia viral di media sosial.
Aksi adu mulut bermula saat Camat Rancabungur Dita Aprilia bersama jajarannya dan seorang rekan media memberikan imbauan pemasangan bendera secara langsung kepada warga. Di lokasi pangkas rambut, seorang pria yang merupakan teman media tersebut terlibat ketegangan dengan sang tukang cukur, Nurhidayat alias Abuy, saat dimintai alasan tidak mengibarkan bendera Merah Putih.
"Buat kami, hal yang penting adalah kita memaknai kemerdekaan hari ini bersama-sama," kata Rudy Susmanto, Bupati Bogor.
Rudy mengingatkan bahwa bendera Merah Putih yang berkibar saat ini diraih melalui perjuangan berat dan pengorbanan para pahlawan bangsa.
"Kami hanya bisa menyampaikan kepada semua pihak bahwa bendera yang berkibar hari ini, saya selalu menyampaikan, di situ ada jutaan tetesan keringat, ada tetesan darah, ada nyawa para pahlawan, para pejuang kita yang gugur," ujar Rudy Susmanto, Bupati Bogor.
Ia juga menegaskan pentingnya menjaga kerukunan serta menghindari perselisihan yang dapat memecah belah masyarakat.
"Sesulit apa pun hidup kita hari ini, lebih sulit perjuangan para pahlawan kita berjuang," kata Rudy Susmanto, Bupati Bogor.
Rudy mengimbau warga agar minimal tidak menimbulkan kegaduhan apabila belum sanggup melakukan kebaikan bagi orang banyak.
"Kalau kita tidak bisa berbuat baik untuk 100 orang, berbuat baiklah untuk 10 orang. Kalaupun kita tidak bisa berbuat baik untuk 10 orang, berbuat baiklah untuk satu orang," ujar Rudy Susmanto, Bupati Bogor.
Ia menambahkan landasan utama stabilitas daerah terletak pada sinergi antarwarga di tingkat paling bawah.
"Tapi, kalaupun kita tidak bisa berbuat baik untuk satu orang, minimal kita tidak membuat gaduh dan mendukung apa yang sedang dikerjakan, apa yang sedang dilaksanakan," ucap Rudy Susmanto, Bupati Bogor.
Pemerintah daerah berharap seluruh elemen dapat merawat persatuan demi mendukung kemajuan bersama.
"Kunci keberhasilan membangun bangsa hanya satu, kami selalu menyampaikan, benteng pertahanan terakhir bangsa kita adalah persatuan. Musuh utama bangsa kita adalah perpecahan," kata Rudy Susmanto, Bupati Bogor.
Rudy menutup arahannya dengan menekankan perlunya merajut segala bentuk perbedaan di masyarakat.
"Mari bersatu padu membangun bangsa, merajut segala perbedaan, merajut kerukunan bersama-sama. Kekuatan bangsa kita cukup besar. Indonesia itu adanya di paling bawah.
Di paling bawah itu di mana? Dukungan dari seluruh masyarakatnya, dari tingkat RT, tingkat RW, tingkat desa, tingkat kecamatan, tingkat kabupaten, tingkat provinsi, maka disebutlah itu Indonesia," ujar Rudy Susmanto, Bupati Bogor.
Menanggapi polemik tersebut, Camat Rancabungur Dita Aprilia memberikan klarifikasi terkait proses peneguran dan membantah adanya unsur pemaksaan dalam pembuatan video klarifikasi dari tukang cukur tersebut.
"Nggak ada (pemaksaan) Saya tahu itu ditegur oleh RT, RW. Atinya jangan lah dengan ada bahasa tidak mau mengibarkan bendera, jangan ada bahasa belum merdeka, jangan seperti itu. Hanya sekedar itu saja untuk ininya untuk penyampaian dari Pak RT Pak RW-nya tuh hanya seperti itu saja," kata Dita Aprilia, Camat Rancabungur.
Dita menerangkan kejadian awal bermula saat tim kecamatan mengadakan program kebersihan lingkungan pada Jumat, 7 Agustus 2026.
"Saya itu kan setiap hari Jumat dan Selasa itu, serta dengan tim kecamatan, itu kan selalu ada kegiatan bersih-bersih ya di jalan. Nah, pada momen itu karena sekarang bulan Agustus, jadi kita sekalian bagi-bagi bendera," kata Dita Aprilia, Camat Rancabungur.
Menurutnya, persediaan bendera gratis dari kecamatan saat itu telah habis sehingga dirinya hanya memberikan imbauan lisan kepada Abuy.
"Nah, pas di tukang cukur itu karena kan kita juga ya di Rancabungur tahu, oh tukang cukurnya masih muda, masih produktif, ramai juga di situ kan. Nah, waktu itu memang untuk di daerah situ saya sudah habis benderanya, jadi saya imbau gitu. Wah, ini belum pasang bendera, pasang ya gitu," tutur Dita Aprilia, Camat Rancabungur.
Penegasan secara konsisten dilakukan pihak kecamatan tiap tahun guna mendorong nasionalisme warga sesuai instruksi edaran Bupati Bogor.
"Karena kan tahun-tahun sebelumnya juga kita imbau, tidak hanya tahun sekarang aja menghimbau untuk pemasangan bendera. Nah, sekarang itu sampai saya harus door to door karena sekarang sudah tanggal berapa," beber Dita Aprilia, Camat Rancabungur.
Ia meluruskan identitas oknum yang tersulut emosi dalam rekaman video yang beredar luas.
"Itu saya pastikan bahwa itu bukanlah pegawai Kecamatan Rancabungur. Tapi itu adalah ada teman media yang memang pada saat itu sedang membantu untuk mengimbau warga masyarakat. Bukan mau peliputan, hanya membantu menghimbau warga," kata Dita Aprilia, Camat Rancabungur.
Kehadiran rekan media tersebut pada dasarnya bukan untuk melakukan peliputan atau tindakan publikasi.
"Nah, pada saat itu ada, ada teman media ya yang membantu kita nih. Awalnya sih bukan mau bantu publikasi gitu, dia mau bantu mengimbau warga, mau bantu kebersihan juga, awalnya bukan mau bantu kita untuk publikasi," terang Dita Aprilia, Camat Rancabungur.
Kesepakatan imbauan di tempat usaha dilakukan secara persuasif sebelum situasi berubah menjadi tegang.
"Ketika masuk. 'Tolong di iniin ya apa tolong dipasang benderanya,' gitu lah. Ada bahasa yang memang saya kurang pas di situ. Terus saya keluar, aduh karena saya lagi pusing lagi keliyengan saya nyari kursi," kata Dita Aprilia, Camat Rancabungur.
Dita mengaku terkejut ketika mendapati rekan media tersebut merespons ucapan tukang cukur secara emosional.
"Terus si teman media itu karena mendengar itu akhirnya dia emosi. Saya juga kaget, kok jadi dia yang emosi gitu kan ya," imbuh Dita Aprilia, Camat Rancabungur.
Penjelasan mengenai rekaman video yang memperlihatkan Abuy memegang bendera juga dipastikan bukan atas arahan resmi camat.
"Saya tanya Pak Kasi sama teman-teman ada yang mengintervensi? 'Nggak ada, Bu,' gitu. Justru video itu pun tanpa sepengetahuan kita," ujar Dita Aprilia, Camat Rancabungur.
Penggunaan fasilitas kantor kecamatan untuk merekam klarifikasi tersebut terjadi di luar pengawasan jajaran pimpinan.
"Ruangan Pol PP itu kan ruangan di depannya di pelayanan. Jadi saya juga tidak suka dengan caranya yang sudah menggunakan fasilitas kecamatan, jadi tanpa sepengetahuan Pak Kasi," kata Dita Aprilia, Camat Rancabungur.
Bentuk rekaman video yang memperlihatkan proses interogasi dikritik oleh camat karena dinilai kurang tepat.
"Nah videonya tukang cukur yang naik juga saya juga nggak tahu gitu ya kan, jadi kayak disidang gitu kan ya, sifat dia pegang bendera kayak yang disidang gitu kan," terang Dita Aprilia, Camat Rancabungur.
Teguran telah disampaikan kepada pihak media yang bersangkutan agar tetap mengedepankan pendekatan humanis kepada masyarakat.
"Tapi kan kita juga sama, saya juga ke teman media saya yang itu cara menegur itu tidak seperti itu, jangan emosional yang kita hadapi itu kan warga masyarakat ya, nah seperti itu sudah, sudah kita sampaikan juga ke beliau," sebut Dita Aprilia, Camat Rancabungur.
Situasi di lapangan dipastikan telah selesai secara kekeluargaan bersama pengurus lingkungan tempat usaha berdiri.
"Dan untuk si tukang cukur juga sudah sudah terklarifikasi juga ke Pak RT, ke Pak RW. Sudah, sudah diberikan bendera, sudah pasang juga," tambah Dita Aprilia, Camat Rancabungur.
Sisi lain pengawasan dicermati oleh Kepala Bakesbangpol Kabupaten Bogor Ferdinando Selmi Pardede yang menegaskan aturan pengibaran bendera bersifat imbauan nasionalisme.
“Sanksi sampai saat ini tidak ada. Makanya Surat Edaran Mendagri itu mengimbau mulai tanggal 1 sampai tanggal 31 Agustus untuk mengibarkan bendera merah putih, dan itu pun tidak ada paksaan sama sekali hanya kesadaran masyarakat dalam semangat nasionalisme dalam memperingati hari kemerdekaan,” ujar Ferdinando Selmi Pardede, Kepala Bakesbangpol Kabupaten Bogor.
Penanganan terhadap masyarakat kurang mampu diselesaikan lewat distribusi bendera dari pemerintah daerah.
“Sementara kami mendapatkan informasi bahwa itu dalam rangka monitoring untuk mengimbau memasang bendera, sekaligus membagikan bendera ketika ada masyarakat yang tidak punya,” kata Ferdinando Selmi Pardede, Kepala Bakesbangpol Kabupaten Bogor.
Perbedaan pandangan sosial maupun ekonomi ditegaskan tidak boleh melunturkan identitas kebangsaan warga negara.
“Perbedaan-perbedaan pandangan itu wajar dalam negara demokrasi, namun rasa nasionalisme itu tidak bisa dicampuradukkan dengan perbedaan-perbedaan pandangan,” tegas Ferdinando Selmi Pardede, Kepala Bakesbangpol Kabupaten Bogor.
Ia menolak segala bentuk tindakan penekanan kepada masyarakat dalam urusan simbol negara.
“Rasa nasionalisme seharusnya tidak perlu pakai sanksi, harus dari dalam diri sendiri,” tandas Ferdinando Selmi Pardede, Kepala Bakesbangpol Kabupaten Bogor.
Kritik dari legislatif turut disampaikan Anggota Komisi II DPR RI Fraksi Partai Golkar Ahmad Irawan yang mengingatkan regulasi Pengibaran Bendera Negara berdasarkan UU Nomor 24 Tahun 2009.
"Kalau menurut saya, bendera itu kan manifestasi semangat juang kita sebagai bangsa. Apalagi jelang hari kemerdekaan 17 Agustus," kata Ahmad Irawan, Anggota Komisi II DPR RI Fraksi Partai Golkar.
Penjelasan pasal undang-undang mewajibkan pengibaran bendera sekaligus membebankan bantuan penyediaan bagi warga tidak mampu kepada pemerintah daerah.
"Hal mana menurut Pasal 7 ayat (3) UU No. 24/2009 tentang Bendera, Bahasa dan Lambang Negara bendera negara wajib dikibarkan pada peringatan hari kemerdekaan. Bahkan jika warga negara tidak mampu dan jika tidak memiliki bendera maka pemerintah daerah memberikan bendera kepada warga negara yang tidak mampu tersebut," ujar Ahmad Irawan, Anggota Komisi II DPR RI Fraksi Partai Golkar.
Irawan menolak segala bentuk pemaksaan atau intimidasi petugas terhadap warga di lapangan.
"Tentu intimidasi tidak dapat dibenarkan. Yang bersangkutan harus mendapatkan penjelasan yang cukup tentang kewajiban pemasangan bendera tersebut," kata Ahmad Irawan, Anggota Komisi II DPR RI Fraksi Partai Golkar.
Isu ini berakhir setelah Abuy menyampaikan permohonan maaf secara terbuka atas kekeliruan pernyataannya terkait status kemerdekaan Indonesia.
“Dengan ini saya menyatakan permohonan maaf atas ucapan saya kemarin yang mengatakan bahwa Indonesia itu belum merdeka,” ujar Abuy, Tukang Cukur.
Ia membenarkan status kemerdekaan bangsa Indonesia dan menyesali ucapan spontannya saat melayani pelanggan.
“Sebetulnya omongan saya tentang Indonesia belum merdeka itu salah, yang benar Indonesia itu sudah merdeka, maka saya meminta maaf atas ucapan saya yang salah," tegas Abuy, Tukang Cukur.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow