Cahaya Bulan Purnama Berpotensi Redupkan Hujan Meteor Juli 2026
Dua fenomena hujan meteor, Southern Delta Aquariids dan Alpha Capricornids, diperkirakan mencapai puncak aktivitas secara bersamaan pada malam 30 Juli hingga dini hari 31 Juli 2026. Namun, kondisi pengamatan terancam tidak optimal akibat fase Bulan yang mencapai 98 persen purnama.
Berdasarkan data American Meteor Society (AMS) dan panduan pengamatan NASA, kurun waktu terbaik untuk memantau langit berada di antara tengah malam hingga menjelang fajar. Meski telah aktif sejak pertengahan Juli hingga pertengahan Agustus, jumlah meteor tampak lebih dominan pada malam puncak.
Fenomena Southern Delta Aquariids yang berasal dari komet 96P/Machholz mencatatkan Zenithal Hourly Rate (ZHR) sebanyak 25 meteor per jam dengan kecepatan 41 kilometer per detik. Peristiwa astronomi ini ideal disaksikan di wilayah belahan Bumi selatan, meskipun meteor yang dihasilkan cenderung redup dan jarang menyisakan bola api.
Di saat bersamaan, hujan meteor Alpha Capricornids yang bersumber dari objek induk 169P/NEAT turut mencapai puncaknya dengan intensitas ZHR sekitar 5 meteor per jam. Kendati menghasilkan frekuensi lebih rendah dengan kecepatan 23 kilometer per detik, Alpha Capricornids kerap memancarkan bola api yang terang di kedua sisi khatulistiwa.
Terangnya pancaran cahaya Bulan purnama berpotensi mengikis visibilitas meteor berukuran kecil dari kedua jenis hujan meteor tersebut. NASA merekomendasikan masyarakat yang ingin memantau untuk memilih lokasi yang minim polusi cahaya, mengarahkan pandangan 45 derajat dari rasi Aquarius, serta memberi waktu sekitar 20 hingga 30 menit bagi mata untuk beradaptasi dengan kegelapan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow