Ilmuwan PBB Peringatkan Dampak Lingkungan Pusat Data Kecerdasan Buatan
Ilmuwan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan sejumlah pakar lingkungan mengeluarkan peringatan global mengenai lonjakan konsumsi air dan energi listrik dari pembangunan infrastruktur pusat data kecerdasan buatan pada Juni 2026.
Investigasi terbaru dari United Nations University Institute for Water, Environment and Health memproyeksikan penggunaan air untuk AI pada tahun 2030 akan menyamai kebutuhan 1,3 miliar orang, sementara konsumsi listriknya mencapai tiga kali lipat gabungan kebutuhan Pakistan, Bangladesh, dan Nigeria.
Direktur United Nations University Institute for Water, Environment and Health, Kaveh Madani menjelaskan bahwa masyarakat sering kali hanya melihat AI sebagai teknologi digital virtual di awan tanpa menyadari infrastruktur fisiknya.
"Most people understand AI as a digital technology, as a virtual thing, as something that is in the clouds," kata Kaveh Madani, Direktur United Nations University Institute for Water, Environment and Health.
Kaveh Madani menambahkan bahwa laporan tersebut bertujuan untuk mengingatkan publik mengenai adanya aspek fisik dan rantai pasok material yang panjang di balik inovasi teknologi ini.
"What we tried to do in this report was to remind people that there’s some physics to all of this." ujar Kaveh Madani, Direktur United Nations University Institute for Water, Environment and Health.
Laporan bertajuk "Environmental Cost of AI’s Energy Use: Carbon, Water, and Land Footprints" ini juga menyoroti masalah keadilan lingkungan karena 90 persen komputasi AI terpusat di AS dan Cina, sementara wilayah lain menanggung dampaknya.
Di sisi lain, perdebatan mengenai signifikansi dampak air ini juga terjadi di kalangan akademisi, di mana sebagian menganggap isu energi dan keandalan jaringan listrik jauh lebih mendesak.
Asisten Profesor dari Purdue University, Yi Ding menyatakan bahwa saat ini belum ada standar praktik terbaik dari industri untuk pengoperasian pusat data yang sadar lingkungan.
"Yes, it’s significant." kata Yi Ding, Asisten Profesor Purdue University.
Pendapat berbeda disampaikan oleh peneliti komputasi berkelanjutan dari Oxford University yang menilai fokus utama seharusnya berada pada penambahan energi bersih ke dalam jaringan listrik.
"Water is often brought up as the primary concern when it’s less important," kata David Mytton, Peneliti Komputasi Berkelanjutan Oxford University.
Menurut David Mytton, hal yang lebih krusial adalah bagaimana membawa lebih banyak energi bersih dan tenaga nuklir ke dalam jaringan listrik untuk menghasilkan energi yang cukup bagi pusat data tersebut.
"The more important thing is going to be how you bring more clean energy onto the grid, and nuclear power, so that we can generate sufficient energy to build these centers." ujar David Mytton, Peneliti Komputasi Berkelanjutan Oxford University.
Menanggapi krisis hubungan masyarakat ini, perusahaan teknologi besar seperti Google dan Amazon mulai merilis komitmen untuk mengembalikan lebih banyak air daripada yang mereka konsumsi pada tahun 2030.
Kepala Infrastruktur dan Keberlanjutan Google, Ben Townsend mengakui bahwa proses pembangunan pusat data akan lebih mudah tanpa adanya perdebatan mengenai penggunaan air.
"from a comms and PR perspective" kata Ben Townsend, Kepala Infrastruktur dan Keberlanjutan Google.
Ben Townsend menggarisbawahi adanya kelangkaan transparansi dan diskusi dari para operator pusat data mengenai alasan serta jumlah air yang mereka gunakan.
"Data centers operators are not explaining why they’re using water or how much water they use. There’s a complete lack of transparency or discussion." ujar Ben Townsend, Kepala Infrastruktur dan Keberlanjutan Google.
Direktur Energi dan Air di Amazon Web Services, Brandon Oyer juga merefleksikan bahwa industri seharusnya bisa bertindak lebih cepat dalam mengomunikasikan masalah ini guna mencegah kekhawatiran masyarakat.
"could’ve done better" kata Brandon Oyer, Direktur Energi dan Air Amazon Web Services.
Brandon Oyer menilai misinformasi telah membuat masyarakat menjadi alarmis, dan hal itu wajar terjadi jika warga merasa pasokan air di komunitas mereka akan terdampak.
"There’s just been a lot of misinformation that has led people to [be] a little bit alarmist. And rightfully so. I would get alarmed if I thought that water was going to be impacted in my community," ujar Brandon Oyer, Direktur Energi dan Air Amazon Web Services.
Sementara itu, profesor dari CU Boulder, Dr. Kyri Baker mengingatkan bahwa untuk wilayah seperti Colorado, ancaman pemadaman listrik dan keandalan jaringan akibat beban besar pusat data menjadi kekhawatiran utama.
"But my main worry in Colorado would probably be related to the blackouts and reliability, just from something that we haven’t dealt with on the scale yet," kata Dr. Kyri Baker, Profesor Departemen Teknik Sipil, Lingkungan, dan Arsitektur CU Boulder.
Dr. Kyri Baker menambahkan bahwa kegagalan transformator serta peningkatan penggunaan AC dan kendaraan listrik saat ini sudah membebani jaringan distribusi listrik yang menua.
"So we are experiencing aging components. Transformers are failing. People are installing more air conditioners and electric vehicles, which are straining the distribution grid." ujar Dr. Kyri Baker, Profesor Departemen Teknik Sipil, Lingkungan, dan Arsitektur CU Boulder.
Warga yang tinggal di dekat lokasi rencana proyek pusat data di Colorado Springs terus berupaya mencari informasi demi memastikan proyek berjalan ramah lingkungan.
Salah seorang warga setempat, Melissa Hills mempertanyakan langkah yang bisa diambil agar fasilitas tersebut dapat beroperasi selaras dengan kepentingan komunitas.
"How can we make this so that it works well with the community in the best possible way?" kata Melissa Hills, Warga.
Melissa Hills juga mempertanyakan metode untuk membuat pembangunan infrastruktur tersebut menjadi seramah mungkin bagi lingkungan sekitar.
"How can we make this as eco-friendly as possible?" ujar Melissa Hills, Warga.
Pihak penyedia utilitas Colorado Springs Utilities menyatakan kesiapan pasokan listrik mereka dan berencana memperluas output energi terbarukan sebesar 300 megawatt serta membangun generator gas alam baru di Williams Creek.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow