Harga Cabai Rawit Naik Tajam Akibat Cuaca Panas dan Krisis Air

Smallest Font
Largest Font

Harga cabai rawit di tingkat konsumen melonjak hingga mencapai Rp 90.000 per kilogram akibat cuaca panas ekstrem dan krisis ketersediaan air yang mengganggu produksi tanaman cabai, dilansir dari Detik Finance.

Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional Bank Indonesia, harga cabai merah keriting naik 9% menjadi Rp 62.950/kg, sementara cabai rawit merah naik 7,2% ke Rp 90.050/kg.

Ketua Asosiasi Champion Cabai Indonesia, Tunov Mondro Atmojo, menjelaskan bahwa tren kenaikan harga sudah terasa di tingkat petani sejak pertengahan Agustus. Ia menyebut cuaca sangat panas dan fenomena El Nino menyebabkan ketersediaan air habis sehingga produksi cabai terganggu.

"Penyebab kenaikan ini disebabkan karena murni faktor cuaca dan mengakibatkan ketersediaan air habis, tanaman cabai yang telah petani tanam akhirnya hanya mengandalkan tanaman eksisting yang sedang berproduksi," ujar Tunov.

Cuaca panas tanpa pasokan air membuat tanaman cabai gagal bunga dan berhenti menghasilkan bunga baru, sehingga petani hanya bisa merawat cabai yang masih bertahan di pohon.

Menurut Tunov, penurunan produksi sudah sangat terasa di tingkat produsen karena bibit gagal tumbuh tanpa air yang cukup.

"Keadaan cuaca seperti ini sangat mengkhawatirkan stok nasional terus berkurang nanti di 3 bulan kedepan," tambahnya.

Tunov juga menyebut pemerintah mulai menyalurkan bantuan berupa sumur bor dan pipanisasi ke wilayah sentra produksi cabai, meskipun bantuan tersebut datang agak terlambat.

"Bantuan pemerintah sudah mulai turun meski agak terlambat yaitu sumur sumur bor dan pipanisasi yang diperuntukkan tanaman cabai di berbagai wilayah sentra," kata Tunov.

Ketua Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia, Abdul Hamid, menambahkan kenaikan harga cabai ini disebabkan gangguan produksi di daerah sentra, walaupun beberapa daerah di Jawa Timur masih panen dengan volume minim.

"Mungkin diperkirakan volume panen, ini masalahnya karena cuaca, diperkirakan sampai dengan Oktober. tapi pada November cukup," ujar Abdul.

Harga cabai di tingkat petani saat ini berkisar Rp 53.000 hingga Rp 65.000 per kilogram, lalu naik menjadi Rp 70.000 sampai Rp 75.000 di pasar induk, dan mencapai Rp 90.000 sampai Rp 95.000 di pasar konsumen akhir.

"Di tingkat petani sekarang sekitar Rp 53.000 sampai Rp 65.000/kg, kalau kita lihat di pasar induk bisa sampai Rp 70.000 sampai Rp 75.000. Kalau ibu-ibu belanja sekitar Rp 90.000 sampai Rp 95.000 lah," jelas Abdul.

Badan Pangan Nasional berupaya menstabilkan harga cabai dengan memobilisasi stok dari daerah surplus ke daerah defisit melalui program Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP).

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional, I Gusti Ketut Astawa, mengatakan kolaborasi dengan Kementerian Pertanian dilakukan agar FDP dapat mengatasi dinamika harga cabai rawit di daerah yang mengalami fluktuasi.

"Untuk cabai rawit, berdasarkan informasi dari Kediri, saat ini terdapat dinamika harga dan pasokan yang perlu segera kita respons. Karena itu, kami ingin berkoneksi kembali dengan teman-teman Kementan untuk melihat wilayah mana yang dapat kita dukung melalui FDP," ujar Ketut.

Ketut menekankan pentingnya peran petani Champion Cabai yang dibina Kementan dalam penstabilan harga cabai dengan mendistribusikan cabai dari daerah harga terjangkau ke wilayah harga tinggi.

"Misalkan di daerah di luar Jawa yang harganya relatif masih terjangkau, sehingga kita bisa FDP ke wilayah-wilayah yang harganya tinggi. Kita undang kembali para petani champion kita untuk membantu distribusikan ke wilayah-wilayah yang harganya relatif tinggi," jelas Ketut.

Bapanas mencatat pada triwulan pertama 2026, FDP cabai rawit mencapai total 5.590 kilogram dengan stok dari Enrekang ke Jakarta sebesar 3.150 kg dan ke Lombok Tengah serta Lombok Timur masing-masing 1.140 kg dan 1.300 kg.

Upaya ini berdampak positif pada penurunan inflasi pangan pada April 2026 setelah periode Hari Besar Keagamaan Nasional Ramadan dan Idulfitri, di mana cabai rawit menjadi salah satu penyumbang deflasi.

Dalam rapat koordinasi Bapanas bersama petani cabai pada Agustus 2026, faktor penyebab fluktuasi harga meliputi kemarau panjang, Organisme Pengganggu Tanaman seperti trips dan kutu kebul, serta alih tanam ke komoditas lain.

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementan, Sudi Mardianto, menyatakan produksi cabai rawit nasional masih aman sampai akhir tahun dengan produksi September sekitar 119 ribu ton, dan penanaman di beberapa wilayah sudah mulai meningkat.

"Untuk cabai rawit secara nasional itu produksinya di bulan September itu sekitar 119 ribu ton. Di Jawa Timur itu Banyuwangi standing crop yang ada sekarang sekitar 1.486 hektare. Kemudian di Sampang itu ada 1.691 hektare. Itu produksinya sudah mulai tinggi sekitar 5 ribuan," ujar Sudi.

"Kemudian untuk di daerah Jawa masih terpusat di Temanggung, Brebes, dan Magelang. Produksinya walaupun masih relatif rendah karena mungkin baru sebagian besar tanam, tapi nanti itu dapat mengatasi potensi adanya kenaikan menjelang hari Natal dan Tahun Baru," tambahnya.

Sudi menegaskan petani cabai rawit binaan Kementan siap mendukung program penstabilan harga pemerintah melalui FDP agar dapat segera dijalankan di daerah dengan fluktuasi harga tinggi.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed