DPR Usul Polisi Usut Dugaan Pemalsuan Riset WNI di Denmark
Wakil Ketua Komisi X DPR Lalu Hadrian Irfani mengusulkan agar Kepolisian RI mendalami dugaan pemalsuan riset oleh sejumlah warga negara Indonesia di konferensi International Society for Pneumococci and Pneumococcal Diseases (ISPPD) di Kopenhagen, Denmark, yang berlangsung pada 17 hingga 21 Mei 2026.
Langkah pengusutan ini dinilai perlu melibatkan aparat penegak hukum selain investigasi internal dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek). Kasus manipulasi tersebut dikhawatirkan mencoreng reputasi peneliti Indonesia di tingkat internasional akibat praktik rekayasa data dan identitas akademik.
Desakan penyelidikan pidana disampaikan oleh Lalu Hadrian Irfani melalui keterangan tertulis pada Kamis, 28 Mei 2028.
"Kasus ini (bisa) dibawa ke ranah pidana jika ada bukti otentik pemalsuan dokumen atau penipuan materiil. Saya mendesak aparat kepolisian turun tangan melakukan penyelidikan lebih lanjut demi menegakkan supremasi hukum," kata Lalu, Wakil Ketua Komisi X DPR.
Lalu menambahkan bahwa integritas ilmiah harus dijaga ketat agar tidak merusak kredibilitas pendidikan tinggi nasional.
"Dunia riset harus tegak di atas integritas dan kejujuran ilmiah. Kemendiktisaintek perlu segera bergerak melakukan investigasi menyeluruh. Pengusutan tuntas diperlukan agar reputasi para peneliti profesional Indonesia lainnya tidak ikut layu di kancah internasional,” ujar Lalu.
Menteri Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi Brian Yuliarto menyatakan pihaknya tengah mendalami laporan yang awalnya diungkap oleh epidemiolog Wa Ode Dwi Daningrat dari Oxford University. Dua nama yang diduga terlibat, yaitu Prihantini dan Rifaldy Fajar, dipastikan tidak memiliki afiliasi aktif dengan lembaga riset atau kampus di Indonesia.
Klarifikasi mengenai status kedua terduga pelaku disampaikan oleh Brian Yuliarto melalui pesan tertulis pada Rabu, 27 Mei 2026.
"Based on early information we obtained, the parties mentioned in this case are not indicated as active lecturers or researchers in Indonesian higher education institutions. However, this issue remains a concern because it can affect the perception of the national research ecosystem more broadly," kata Brian, Menteri Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi.
Pihak Universitas Negeri Yogyakarta membenarkan bahwa Prihantini dan Rifaldy Fajar merupakan alumni Program Studi Matematika FMIPA lulusan tahun 2017 dan 2018. Kendati demikian, pihak kampus masih melakukan upaya klarifikasi dan belum mengambil tindakan hukum atau administratif.
Pernyataan mengenai proses tabayyun tersebut disampaikan oleh Wakil Rektor Bidang Akademik UNY Nur Hidayanto pada Rabu, 27 Mei 2026.
"Kami masih dalami, kami tabayyun dan coba klarifikasi kepada yang bersangkutan," kata Nur, Wakil Rector Bidang Akademik UNY.
Secara terpisah, Institut Teknologi Bandung mengonfirmasi bahwa Prihantini adalah lulusan program magister matematika FMIPA ITB angkatan 2020 yang lulus pada tahun 2022. ITB menegaskan akan menghormati segala proses hukum yang berjalan terkait tindakan alumni tersebut.
Berdasarkan kesaksian Wa Ode Dwi Dwiningrat di lokasi konferensi, Prihantini kedapatan menggunakan identitas palsu bernama Dimas Fajar Prasetyo saat sesi presentasi lisan poster spotlight. Selain itu, abstrak dan poster penelitian kelompok tersebut diindikasikan menggunakan fabrikasi data berbasis kecerdasan buatan demi mendapatkan dana bantuan perjalanan luar negeri.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow