DSI Optimalkan Nilai Ekspor Batu Bara dan Komoditas Strategis Lainnya
PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) mengumumkan potensi optimalisasi nilai ekspor tiga komoditas strategis mencapai US$ 5 miliar atau setara Rp 88,5 triliun per tahun, yang mencakup batu bara, minyak kelapa sawit mentah (CPO), dan ferroalloy, menurut pernyataan resmi pada Selasa (25/8/2026). Dalam dua bulan awal operasinya, DSI membangun visibilitas analitis atas lebih dari 6.500 deklarasi ekspor dengan nilai total lebih dari US$ 14 miliar dan volume lebih dari 90 juta ton yang melewati lebih dari 50 pelabuhan di 25 provinsi ke lebih dari 100 negara tujuan, dilansir dari finance.detik.com. Direktur Keuangan dan Treasury DSI, Sinthya Roesly, menjelaskan DSI akan mengambil margin yang wajar untuk menutup biaya operasional dalam menjalankan mandat tata kelola ekspor sumber daya alam strategis tersebut.
"Sehingga, atas mandat itu, ada ongkos yang dikeluarkan, tentu ada margin yang reasonable, yang wajar, yang dapat diperoleh oleh DSI," ujar Sinthya dalam konferensi pers di Wisma Danantara, Senin (24/8/2026).
Sinthya menambahkan bahwa besaran keuntungan masih dalam tahap penghitungan dan akan mempertimbangkan prinsip efisiensi agar tidak menambah beban biaya bagi eksportir. "Jadi kira-kira seperti itu semangatnya untuk tadi bicara bagaimana fee yang akan kita bebankan kepada masyarakat karena akan dihitung bagaimana export cost-nya bagi si produsen atau eksportir Indonesia," tambahnya.
Direktur Utama DSI, Luke Thomas Mahony, menegaskan bahwa DSI tidak menentukan harga referensi ekspor secara sendiri, melainkan mengintegrasikan data dari berbagai kementerian dan lembaga serta menggunakan referensi pasar untuk memverifikasi setiap transaksi, termasuk harga, kuantitas, kualitas, dan klasifikasi komoditas. "Sejak mulai beroperasi, kami telah mengembangkan visibilitas terhadap ribuan transaksi ekspor serta fondasi analitis yang diperlukan untuk mendukung mandat DSI," ujar Luke Mahony.
Luke juga menyatakan DSI berfokus pada penguatan kapabilitas pemantauan, verifikasi, dan operasional guna mendukung ekosistem ekspor yang transparan dan efisien sambil menjaga kepastian berusaha dan keberlanjutan ekspor. Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Rizal Taufikurrahman, menilai potensi DSI dalam menutup celah manipulasi ekspor sumber daya alam sangat besar, namun keberhasilan DSI harus diukur dari efektivitas menutup kebocoran akibat praktik under-invoicing dan transfer pricing. "Jika itu efektif, basis pajak, PNBP, royalti, dan devisa hasil ekspor yang masuk ke dalam negeri akan meningkat," ujar Rizal.
Rizal menambahkan bahwa keberadaan DSI berpotensi memperkuat suplai valuta asing domestik dan mendukung stabilitas rupiah, asalkan terintegrasi dengan kebijakan devisa hasil ekspor dan sistem perpajakan nasional.
Meskipun sejumlah saham emiten batu bara melemah pada perdagangan Rabu (26/8/2026) setelah pengumuman DSI akan mengambil keuntungan secara wajar, saham sektor mineral dan tambang lain seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) justru mengalami penguatan, menurut data Bloomberg Technoz.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow