Harga Batu Bara Dunia Turun ke Level USD 132 per Ton Sore Ini
Harga batu bara termal global terkoreksi tipis ke level USD 132,05 per ton pada perdagangan Kamis (21/5/2026) sore setelah sempat melonjak tajam beberapa waktu lalu. Penurunan komoditas energi ini dipicu oleh aksi ambil untung pelaku pasar setelah harga komoditas melandai dari level tertingginya.
Berdasarkan data perdagangan global Trading Economics, nilai kontrak berjangka batu bara tersebut mencatatkan penurunan sebesar 0,30 persen dibandingkan dengan hari sebelumnya. Selain itu, performa harga komoditas tambang ini juga memperlihatkan tren penurunan sebesar 0,64 persen selama sebulan terakhir.
Kendati mengalami pelemahan dalam skala harian dan bulanan, posisi harga saat ini dinilai masih cukup solid. Jika dihitung sepanjang tahun berjalan (year to date), harga batu bara global tercatat masih tumbuh signifikan sebesar 22 persen lebih tinggi.
Nilai komoditas tambang ini juga menunjukkan ketahanan yang kuat apabila disandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu. Data pasar menunjukkan bahwa harga batu bara saat ini berada 31,46 persen lebih tinggi dibandingkan posisi harga setahun yang lalu.
Jika melihat pergerakan dalam jangka panjang yang dihimpun oleh TradingView, statistik performa kontrak berjangka Newcastle menunjukkan fluktuasi yang dinamis. Dalam kurun waktu enam bulan terakhir, komoditas ini menguat hingga 22,00 persen, sementara performa sepanjang tahun berjalan melonjak 30,07 persen.
Sebagai informasi, volume untuk satu kontrak berjangka batu bara Newcastle yang terdaftar di bursa ICE mewakili komoditas sebanyak 1.000 ton metrik. Perdagangan harian instrumen ini terus dipantau secara ketat oleh para pelaku usaha sektor energi di seluruh dunia.
Harga komoditas dapat berfluktuasi sewaktu-waktu. Berbelanja dengan bijak dan pantau informasi harga resmi dari pemerintah.
Pasar batu bara sendiri memiliki rekam jejak volatilitas yang sangat tinggi dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan rentang data historis harian dari tahun 2008 hingga 2026, harga tertinggi sepanjang masa tercatat mencapai level USD 457,80 per ton metrik pada September 2022, sementara level terendahnya berada di angka USD 48,40 per ton metrik.
Lonjakan Permintaan Impor Asia Timur
Penurunan harga yang terjadi saat ini dinilai sebagai konsolidasi wajar di tengah kuatnya fundamental permintaan dari kawasan Asia Timur. Sejumlah negara mitra dagang utama terpantau terus menggenjot aktivitas impor mereka untuk mengamankan pasokan energi domestik.
Laporan pasar menunjukkan bahwa impor batu bara termal mengalami peningkatan yang cukup masif pada bulan April. Korea Selatan mencatatkan kenaikan volume impor hingga 40 persen menjadi 5,7 juta ton, sedangkan Jepang membukukan kenaikan impor sebesar 2,5 persen menjadi 7,9 juta ton.
Aktivitas perdagangan internasional ini melibatkan sejumlah negara yang memegang peranan penting dalam rantai pasok global. Peta kekuatan industri batu bara global saat ini masih didominasi oleh kombinasi negara-negara produsen dan eksportir besar sebagai berikut:
- China: Bertindak sebagai produsen sekaligus konsumen terbesar batu bara di dunia.
- Negara Produsen Utama: Meliputi China, Amerika Serikat, India, Australia, Indonesia, Rusia, Afrika Selatan, Jerman, dan Polandia.
- Negara Eksportir Terkemuka: Didominasi oleh Indonesia, Australia, Rusia, Amerika Serikat, Kolombia, Afrika Selatan, dan Kazakhstan.
Statistik Performa Komoditas Global
Guna memberikan gambaran yang lebih komprehensif bagi para pelaku industri dan investor, berikut adalah rangkuman data performa historis dari globalCOAL Newcastle Coal Futures dalam berbagai rentang waktu perdagangan:
| Periode Waktu | Persentase Perubahan Harga |
|---|---|
| 1 Hari | +0,07% |
| 5 Hari | +0,77% |
| 1 Bulan | +14,86% |
| 6 Bulan | +22,00% |
| Year to Date | +30,07% |
| 1 Tahun | +29,40% |
| 5 Tahun | +31,00% |
| 10 Tahun | +166,05% |
Meskipun harga saat ini berada jauh di bawah rekor tertinggi tahun 2022 yang dipicu oleh krisis energi geopolitik, tren jangka panjang menunjukkan komoditas ini tetap menjadi salah satu instrumen energi yang paling dicari. Para pelaku usaha di Indonesia kini terus mengantisipasi pergerakan harga acuan ini untuk menentukan volume produksi tambang pada kuartal berikutnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow