DSI Tingkatkan Tata Kelola dan Nilai Ekspor Komoditas Strategis Indonesia
PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) mulai beroperasi sejak 1 Juni 2026 dengan mandat mengelola ekspor tiga komoditas strategis, yaitu batu bara, kelapa sawit, dan ferroalloy, untuk memperkuat tata kelola dan nilai ekspor Indonesia.
Dalam waktu lebih dari dua bulan, DSI telah memantau sekitar 6.500 deklarasi ekspor dengan nilai lebih dari US$14 miliar dan volume lebih dari 90 juta ton, melibatkan 50 pelabuhan di 25 provinsi serta tujuan ekspor ke lebih dari 100 negara, menurut data yang disampaikan pada Agustus 2026.
Direktur Utama DSI Luke Mahony menjelaskan, perusahaan berfokus membangun sistem dan kapabilitas agar mandat dapat dijalankan secara kredibel dan berkelanjutan.
"Sejak mulai beroperasi, kami telah mengembangkan visibilitas terhadap ribuan transaksi ekspor serta fondasi analitis yang diperlukan untuk mendukung mandat DSI. Kami akan terus mengukuhkan kapabilitas pemantauan, verifikasi, dan operasional guna mendukung ekosistem ekspor yang lebih transparan, akuntabel, dan efisien," ujar Luke Mahony.
DSI juga mengidentifikasi potensi optimalisasi nilai ekspor hingga US$5 miliar atau setara Rp88,5 triliun per tahun berdasarkan analisis awal bersama BUMN, kata CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani.
"Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, tetapi sumber daya saja tidak cukup. Kita memerlukan tata kelola yang lebih kuat, visibilitas yang lebih baik, dan sistem yang lebih akuntabel untuk memastikan nilai yang dihasilkan dari komoditas-komoditas ini dicatat dan dioptimalkan dengan baik bagi kepentingan nasional," ujar Rosan Roeslani.
Direktur Keuangan DSI Sinthya Roesly menegaskan bahwa margin atau keuntungan yang dikenakan kepada eksportir merupakan wajar dan untuk menutup biaya operasional perusahaan sebagai PT.
"Ada ongkos yang dikeluarkan, tentu ada margin yang reasonable, yang wajar, yang dapat diperoleh oleh DSI," ujar Sinthya Roesly.
Dia menambahkan bahwa penentuan margin tersebut tidak memberatkan eksportir dan sedang dikonsultasikan dengan pihak terkait, dengan prinsip efisiensi agar tidak menambah biaya ekspor.
Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Rizal Taufikurrahman, menyatakan keberhasilan DSI tidak hanya diukur dari nilai transaksi yang diawasi, melainkan juga kemampuan menutup kebocoran akibat praktik under-invoicing, transfer pricing, dan deviasi harga ekspor.
"Jika itu efektif, basis pajak, PNBP, royalti, dan devisa hasil ekspor yang masuk ke dalam negeri akan meningkat," ujar Rizal Taufikurrahman.
Lebih lanjut, Rizal melihat DSI berpotensi memperkuat suplai valuta asing domestik dan stabilitas rupiah jika ekspor tercatat dan devisa hasil ekspor direpatriasi secara optimal.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow