Elon Musk Jadi Triliuner Pertama Dunia Usai IPO SpaceX
Pengusaha teknologi Elon Musk resmi menjadi triliuner pertama di dunia setelah perusahaan antariksa miliknya, SpaceX, melantai di bursa saham pada Jumat, 12 Juni 2026.
Dilansir dari detik.com, saham SpaceX mulai diperdagangkan pada harga US$ 150 per lembar, yang membuat kepemilikan saham Musk di perusahaan tersebut mencapai lebih dari US$ 766 miliar. Jika digabungkan dengan kepemilikan sahamnya di Tesla yang bernilai sekitar US$ 280 miliar, total kekayaan bersih Musk menembus angka US$ 1,05 triliun hingga US$ 1,1 triliun.
Berdasarkan laporan CNBC Indonesia, lonjakan nilai kapitalisasi pasar tersebut menempatkan kekayaan satu individu ini di atas skala ekonomi mayoritas negara di dunia. Merujuk data Produk Domestik Bruto (PDB) World Bank tahun 2024, terdapat 162 negara berdaulat yang memiliki nilai PDB di bawah total kekayaan bersih Musk, termasuk Swiss yang mencatat PDB sebesar US$ 936,5 miliar. Di kawasan Asia Tenggara, nilai harta Musk berada di atas Singapura, Thailand, dan Malaysia, sedangkan hanya Indonesia yang ekonominya lebih tinggi dengan nilai PDB menembus US$ 1,4 triliun per akhir 2025.
Kekayaan Musk yang luar biasa ini juga menarik investasi besar dari taipan tambang Australia, Gina Rinehart, melalui perusahaannya, Hancock Prospecting, yang membeli saham SpaceX senilai lebih dari US$ 1 miliar dalam proses IPO tersebut. Pada hari pertama perdagangan, saham SpaceX melonjak sekitar 19% sehingga kapitalisasi pasarnya melampaui US$ 2 triliun dan menjadikannya perusahaan terbesar keenam di Amerika Serikat.
"Ini merupakan investasi yang signifikan bagi Hancock, dan kami senang telah memperoleh alokasi saham dalam IPO yang sangat diminati dan mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed)," kata Rinehart seperti dikutip dari internasional.kontan.co.id.
Rinehart menambahkan bahwa langkah ini membuka potensi kerja sama strategis dalam penyediaan mineral kritis yang dibutuhkan industri teknologi canggih masa depan.
"Kami memandang SpaceX sebagai perusahaan yang langka, dipimpin oleh sosok yang benar-benar luar biasa, memiliki keunggulan teknis, beroperasi di sektor-sektor yang sangat penting, dan mempunyai potensi jangka panjang," ujar Rinehart.
Selain memberikan pujian terhadap keunggulan teknis perusahaan, Rinehart juga menyoroti efisiensi birokrasi yang dilakukan oleh Musk di pemerintahan Amerika Serikat.
"SpaceX merupakan contoh nyata lainnya mengapa dunia membutuhkan lebih banyak semangat kewirausahaan, lebih banyak para pembangun, dan jauh lebih sedikit birokrasi," kata Rinehart.
Pihak manajemen Hancock Prospecting juga melihat peluang besar dari keterlibatan mereka dalam investasi di sektor kedirgantaraan ini.
"Ke depan, kami juga melihat adanya kemungkinan terciptanya kerja sama yang saling menguntungkan antara SpaceX dan investasi besar Hancock Prospecting di sektor mineral kritis, seiring meningkatnya permintaan terhadap material dan infrastruktur yang dibutuhkan untuk mendukung teknologi maju," kata Garry Korte, Chief Executive Officer (CEO) Hancock Prospecting.
Pencapaian status baru Musk ini terjadi sekitar 110 tahun setelah John D Rockefeller tercatat sebagai miliarder pertama di dunia pada tahun 1916. Status triliuner ini diperkirakan akan memicu kembali perdebatan mengenai kesenjangan kekayaan global serta dominasi para pendiri perusahaan teknologi di Amerika Serikat.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow