Endrick Bidik Posisi Utama di Real Madrid Lewat Piala Dunia 2026
Penyerang timnas Brasil Endrick membidik posisi utama di Real Madrid di bawah asuhan pelatih baru Jose Mourinho lewat performa apik di Piala Dunia 2026 setelah menyelesaikan masa pinjaman di Lyon pada Sabtu, 13 Juni 2026.
Pemain berusia 19 tahun tersebut sempat mengalami cedera kaki kanan selama 173 hari pada tahun 2025 dan kesulitan mendapat menit bermain di Real Madrid di bawah asuhan Xabi Alonso sebelum akhirnya dipinjamkan ke Lyon.
Selama enam bulan di Prancis, Endrick mencetak delapan gol dan delapan assists dalam 21 laga di semua kompetisi berdasarkan data Fotmob, atau lima gol dan tujuh assists dalam 16 laga menurut laporan Goal, yang membantu Lyon lolos ke Liga Champions.
Keputusan pindah ke Prancis diambil Endrick demi mengembalikan kebugaran bertanding serta kepercayaan diri agar bisa menembus skuat timnas Brasil untuk Piala Dunia 2026 di bawah arahan pelatih Carlo Ancelotti.
Meskipun Lyon tertarik untuk memperpanjang masa pinjaman, Endrick memilih fokus bersaing di Santiago Bernabeu dengan meniru kedisiplinan militer dan etos kerja keras dari idola sekaligus legenda Real Madrid, Cristiano Ronaldo.
“It’s going to be tough, it always is. That’s the law of football. It’s going to be tough, it always is.
That’s the law of football. Wanting to work hard, from an early age, is something I have in common with Cristiano Ronaldo, but I don’t admire him just for his work ethic,” kata Endrick dalam wawancaranya bersama GQ Brazil.
Penyerang muda ini juga menambahkan bahwa Ronaldo memiliki talenta luar biasa serta kisah inspiratif dalam melewati masa-masa sulit saat masih berusia muda.
“He has tremendous talent and an inspiring story of overcoming adversity when he was young. If you’re in the middle of a season, you can’t do things that will set you back. It’s going to be tough; it always is. That’s the law of football,” tutur Endrick.
Di sisi lain, Endrick mengungkapkan peran sang istri, Gabriely Miranda, yang mendorongnya mengambil keputusan besar untuk meninggalkan Madrid sementara waktu demi membangun kariernya sendiri.
"She asked me what I wanted. And she kept putting that into my head, and I started thinking about the importance of standing on my own two feet and making it happen," jelas Endrick.
Selain dukungan keluarga, Endrick mengakui adanya peran besar dari rekan setimnya di Madrid seperti Jude Bellingham dan Trent Alexander-Arnold yang terus menghubungi dan menyemangatinya saat terpuruk.
“The first year is always tough. You arrive at a club with players like [Luka] Modric, Vinicius, Rodrygo… It’s very difficult to play with all of them, but you also learn a lot. I’ve been able to put everything I’ve learned into practice at Lyon, and when I return I’ll be able to demonstrate it there,” ungkap Endrick kepada saluran YouTube Men in Blazers.
Meski mengapresiasi kebaikan rekan-rekan setimnya yang sangat mudah didekati, Endrick mengaku masih memiliki kendala bahasa untuk memahami percakapan mereka.
“Bellingham calls me every day. When I was feeling down, he’d pick me up and we’d talk. He helped me a lot.
Trent too. They’re very approachable players. I try to learn from them, including English, but it’s impossible to understand them,” aku Endrick.
Masa-masa sulit di Spanyol diakhiri dengan keputusan bulat untuk pindah ke Lyon setelah dirinya memantapkan keyakinan untuk mencari menit bermain reguler.
“It wasn’t difficult to go to Lyon. In the end, God told me I had to go, and I went. I wasn’t afraid; it’s been one of the best decisions of my life.
I needed to play. I’ve been able to score goals, provide assists, and play a lot of minutes,” sebut Endrick.
Kini menyongsong turnamen akbar antarnegara, Endrick menyatakan kesiapannya untuk berkorban dan bermain di posisi mana pun demi membantu tim Samba mengakhiri paceklik gelar juara dunia.
“Playing in a World Cup is the greatest thing. Being able to represent my country is a dream come true. The World Cup is very important to people, and it's been a long time since we won it.
Neymar has Brazilian DNA. He's one of the best in our history. I get along very well with Ancelotti.
He's a great coach and understands you very well as a person. I know they have a lot of respect for me,” pungkas Endrick.
Sikap dewasa Endrick di luar lapangan yang menghindari kehidupan malam membuatnya dijuluki 'Bobby' oleh rekan setimnya karena kekagumannya pada legenda sepak bola Sir Bobby Charlton.
“I’ll come back as a full-back, win the ball back as a defensive midfielder, and challenge for the ball up front as if I were a centre-back,” janji Endrick terkait komitmen bertahannya.
Berdasarkan keterangan Thiago Freitas selaku COO Roc Nation Sports, pemilihan Lyon didasarkan pada kriteria ketat yang menyangkut kompetisi top Eropa, gaya bermain ofensif, serta pelatih yang metodenya mirip dengan pengalaman Endrick di Palmeiras.
“We considered many things: it had to be a club in one of Europe’s top five leagues, with a coach whose methods were similar to what he had experienced at Palmeiras, an attacking style, and participation in a European competition,” papar Thiago Freitas.
Endrick kembali mengulangi kutipan wawancara GQ Brazil miliknya mengenai hukum sepak bola dan komitmen kerja keras sejak usia muda yang dianggap mirip dengan mentalitas megabintang Portugal.
"It's going to be tough; it always is. That’s the law of football," tegas Endrick.
Pemain depan ini juga berharap waktu istirahat yang didapat dari minimnya menit bermain pada awal musim di Spanyol bisa diubah menjadi keuntungan fisik bagi timnas Brasil.
"Wanting to work hard from an early age is something I have in common with Cristiano Ronaldo, but I don't admire him just for his work ethic," tambah Endrick.
Ia menegaskan komitmen totalnya untuk membantu tim nasional meraih hasil terbaik tanpa memedulikan ego pribadi di lini serang.
"He has tremendous talent and an inspiring story of overcoming adversity when he was young," sambung Endrick.
Pemain bernomor kontrak hingga Juni 2030 di Bernabeu tersebut menekankan pentingnya menjaga fokus penuh selama musim kompetisi berjalan agar tidak mengalami kemunduran prestasi.
"If you're in the middle of a season, you can't do things that will set you back. It's going to be tough; it always is. That's the law of football," tutup Endrick.
Penyerang yang kini mengoleksi 16 caps tersebut memfokuskan dirinya membantu timnas Brasil menjalani laga penyisihan Grup C Piala Dunia 2026 melawan Maroko di Stadion MetLife, sebelum menghadapi Haiti dan Skotlandia.
"She asked me what I really wanted and started putting the idea in my head that I needed to stand on my own two feet and build my own future," urai Endrick merefleksikan kembali pesan istrinya sebelum hijrah ke Prancis.
Endrick menegaskan bahwa dirinya tidak keberatan diturunkan di posisi pertahanan sekalipun asalkan kontribusinya berbuah kemenangan bagi kolektif tim.
"I hope I can make use of the time I spent away from the pitch. I wanted to play every game from the start of the season, but if having fewer minutes than others gives me some advantage, I'll use it to help Brazil," tandas Endrick.
Pemain bertalenta ini berkomitmen penuh untuk melakukan transisi permainan melebar maupun memenangkan duel udara layaknya seorang bek tengah demi kepentingan taktik pelatih.
"I'll play at full-back if necessary, win the ball back like a midfielder and fight for aerial duels like a defender. The important thing is helping the team," pungkas Endrick menatap laga pembuka grup.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow