Erdogan Gagalkan Rencana Israel Gulingkan Rezim Iran

Smallest Font
Largest Font

Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan menjadi faktor utama yang menggagalkan rencana rahasia Israel untuk menggulingkan rezim Iran dengan dukungan Amerika Serikat (AS), menurut laporan The Telegraph pada 16 Agustus 2026.

Rencana tersebut melibatkan pengiriman ribuan pejuang Kurdi ke wilayah barat Iran dengan dukungan udara AS untuk memicu pemberontakan yang diharapkan menjatuhkan pemerintahan Teheran. Namun, Erdogan menentang keras dan mendorong pembatalan operasi tersebut.

Penolakan Erdogan berakar pada kekhawatiran lama terhadap gerakan separatis Kurdi yang dianggap ancaman keamanan nasional selama lebih dari empat dekade oleh Turkiye. Erdogan menyampaikan kepada Presiden AS Donald Trump bahwa Turkiye tidak akan menerima kemerdekaan Kurdi di wilayah manapun.

Menurut sumber Israel dan negara Teluk, Erdogan khawatir persenjataan kelompok Kurdi di sekitar Iran akan memperkuat musuh Turkiye di perbatasan timurannya. Kelompok Kurdi sendiri merupakan etnis tanpa negara terbesar di dunia yang tersebar di Iran, Irak, Suriah, dan Turkiye.

Israel diketahui menjalin hubungan dengan kelompok Kurdi sebagai penyeimbang terhadap musuh regionalnya, namun pejabat AS meragukan kelayakan rencana invasi darat pasukan Kurdi ke Iran. Presiden Trump bahkan menyebut skenario perubahan rezim itu tidak masuk akal.

Meski demikian, Trump sempat menjajaki kemungkinan tersebut dan berbicara dengan para pemimpin Kurdi, sementara Israel melancarkan serangan terhadap target di Iran barat yang diasumsikan sebagai persiapan jalur operasi Kurdi.

Pada 18 Maret, faksi Kurdi Iran bersiap bergerak, namun operasi memerlukan persetujuan Trump yang tidak pernah diberikan. Kelompok Kurdi pun mulai mempertanyakan keberhasilan operasi dan meminta jaminan politik selain dukungan militer.

Rincian rencana bocor ke media Amerika, dan Erdogan terus melobi Washington agar membatalkan rencana itu. Negara-negara Teluk juga memperingatkan pemecahan Iran berdasarkan garis etnis dapat mengguncang stabilitas Timur Tengah.

Kegagalan ini memicu ketidakpuasan di Israel, termasuk pencopotan dua pejabat senior Mossad yang menyusun skenario tersebut. Dalam pertemuan Netanyahu dan Trump pada 28 Juli, isu pergantian rezim kembali dibahas namun Netanyahu gagal meyakinkan Trump yang memilih melanjutkan tekanan ekonomi terhadap Iran.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed