Erupsi Gunung Sinabung Ganggu Penerbangan Lion Group di Kualanamu

Smallest Font
Largest Font

Aktivitas erupsi Gunung Sinabung berdampak pada gangguan operasional penerbangan Lion Group dari dan menuju Bandara Internasional Kualanamu pada Selasa (1/9/2026). Maskapai terpaksa melakukan penyesuaian berupa penundaan hingga pembatalan rute demi menjamin keselamatan penerbangan.

Langkah ini diambil akibat risiko sebaran abu vulkanik yang melayang mengikuti arah angin hingga memasuki ruang udara jalur penerbangan serta area sekitar bandar udara, sebagaimana dilansir dari Detik Travel.

Corporate Communications Strategic of Lion Group, Danang Mandala Prihantoro menegaskan bahwa karakter penyebaran abu vulkanik sangat dinamis dan berbeda dibandingkan perubahan cuaca pada umumnya.

"Abu vulkanik berbeda dengan kondisi cuaca biasa. Penyebarannya sangat bergantung pada arah dan kecepatan angin, intensitas erupsi, serta kondisi atmosfer, sehingga situasinya dapat berubah dalam waktu yang relatif cepat," jelas Danang Mandala Prihantoro.

Dampak dari pergerakan material vulkanik tersebut memicu perubahan mendadak pada jadwal yang sebelumnya telah dirancang oleh pihak maskapai.

"Karena itu, penerbangan yang sebelumnya dijadwalkan beroperasi dapat mengalami penyesuaian apabila perkembangan sebaran abu vulkanik menunjukkan adanya potensi risiko terhadap keselamatan penerbangan," imbuh Danang.

Opsi penyesuaian operasional yang disiapkan Lion Group mencakup penundaan jadwal keberangkatan atau kedatangan, pengalihan rute udara, sampai tindakan pembatalan penerbangan.

"Keputusan operasional dilakukan berdasarkan perkembangan kondisi aktual dan hasil koordinasi dengan pihak-pihak terkait, termasuk pengelola bandar udara, otoritas penerbangan, serta pihak yang memantau aktivitas dan sebaran abu vulkanik," terang dia.

Perubahan status penerbangan secara mendadak menjadi prosedur standar pengamanan ketika pemantauan di lapangan menunjukkan peningkatan potensi bahaya.

"Penundaan atau pembatalan yang terjadi secara tiba-tiba merupakan bagian dari penyesuaian operasional yang dapat dilakukan ketika kondisi di lapangan berubah," kata Danang.

Kepastian waktu penerbangan tidak dapat diukur hanya dari situasi visual di bandara titik keberangkatan semata.

"Waktu keberangkatan dan kedatangan tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan kondisi pada saat pesawat akan berangkat, karena pesawat juga harus mempertimbangkan kondisi sepanjang jalur penerbangan dan wilayah tujuan," sambung Danang.

Material abu vulkanik sangat berbahaya jika terhisap masuk ke dalam mesin udara atau memicu penurunan jarak pandang pilot saat mengudara.

"Abu vulkanik dapat membahayakan apabila masuk ke jalur penerbangan karena dapat mengurangi jarak pandang dan berdampak terhadap kinerja mesin serta komponen pesawat," jelas Danang.

Pertimbangan keselamatan tersebut menjadi acuan utama bagi seluruh awak pesawat yang bertugas dalam menentukan kelayakan penerbangan.

"Kondisi tersebut juga menjadi pertimbangan bagi kru dalam menjalankan penerbangan. Oleh karena itu, pesawat tidak akan dioperasikan melalui wilayah yang dinilai memiliki risiko abu vulkanik terhadap keselamatan penerbangan," ucap dia.

Pihak maskapai mengategorikan seluruh gangguan rute akibat fenomena erupsi gunung api ini sebagai situasi darurat di luar kendali perusahaan.

"Kondisi akibat erupsi gunung api merupakan force majeure, yaitu keadaan di luar kendali dan kemampuan maskapai Lion Group yang terjadi karena faktor alam atau keadaan luar biasa sehingga dapat memengaruhi pelaksanaan penerbangan. Dalam situasi seperti ini, keselamatan penerbangan menjadi pertimbangan utama dalam setiap keputusan operasional," tutup Danang.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed