Geolog UPN Temukan Gas Metana Bekas Rawa Picu Kebakaran Rumah di Sleman

Smallest Font
Largest Font

Tim geolog Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta menemukan indikasi kuat emisi gas metana bekas rawa purba menjadi penyebab utama fenomena kebakaran misterius di sebuah rumah warga di Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kepastian tersebut diperoleh setelah para ahli geologi melakukan penelitian lapangan di lokasi kejadian pada Minggu (31/5/2026). Tim mengonfirmasi bahwa material organik yang tertimbun di bawah pemukiman warga tersebut memicu kemunculan titik api secara berulang.

Peristiwa yang melanda rumah milik warga bernama Amri di Seyegan ini menarik perhatian publik setelah dilaporkan mengalami puluhan kali kebakaran dalam waktu singkat. Pemilik rumah sempat bingung mengenai faktor utama yang memicu kemunculan api secara tiba-tiba di berbagai sudut ruangan.

Pihak PLN telah melakukan pemeriksaan intensif di seluruh jaringan instalasi listrik rumah tersebut. Hasil pemeriksaan resmi memastikan bahwa tidak ditemukan adanya korsleting listrik atau kegagalan arus yang memicu rentetan kebakaran tersebut.

Api Muncul Misterius & Bakar Perabotan Rumah Warga di Sleman 55 Kali, UPN: Indikasi Kuat Gas Metana | KOMPASTV

Pakar geologi UPN Veteran Yogyakarta menjelaskan bahwa wilayah Seyegan secara historis merupakan kawasan lahan basah atau bekas rawa. Lapisan tanah di bawah bangunan mengandung endapan material tumbuhan yang mengalami dekomposisi anaerobik selama bertahun-tahun.

Proses alami dekomposisi tersebut menghasilkan gas metana dangkal yang terjebak di dalam tanah. Tekanan udara dan pergeseran struktur tanah kemudian membuat gas tersebut merembes keluar melalui retakan lantai atau fondasi bangunan.

"Kondisi bawah tanah di lokasi ini memiliki karakteristik bekas rawa yang kaya akan material organik. Akumulasi gas metana dangkal ini keluar ke permukaan dan memicu api saat bercampur dengan oksigen serta dipicu suhu hangat," ujarnya.

Fenomena ini menjawab pertanyaan publik mengenai "kenapa rumah di sleman kebakaran puluhan kali" selama satu pekan terakhir. Sifat gas metana yang mudah terbakar dan tidak berbau membuatnya sulit dideteksi tanpa alat khusus.

Kronologi dan Data Titik Api

Berdasarkan data yang dihimpun oleh tim gabungan di lapangan, intensitas kemunculan api mengalami peningkatan signifikan sejak pertama kali dilaporkan pada akhir Mei 2026. Api umumnya membakar benda-benda yang bersentuhan langsung dengan lantai atau dinding bawah.

Berikut adalah rincian data perkembangan kemunculan titik api berdasarkan laporan investigasi berkala di lokasi pemukiman warga Seyegan:

Tabel Data Frekuensi Kejadian Kebakaran di Rumah Warga Sleman
Hari PengamatanJumlah Titik ApiLokasi Utama Munculnya Api
Hari ke-111Kamar tidur dan dapur
Hari ke-228Ruang tamu dan ruang tengah
Hari ke-3 hingga ke-555Seluruh area bagian bawah rumah

Rentetan kejadian yang berulang dalam waktu singkat ini sempat memicu kekhawatiran mengenai adanya faktor non-teknis. Namun, pendekatan ilmiah dari para ahli geologi berhasil memberikan penjelasan rasional terkait fenomena geologi lingkungan ini.

Rekomendasi Penanganan untuk Pemilik Rumah

Untuk mengantisipasi bahaya lanjutan, tim geolog bersama instansi terkait telah merumuskan sejumlah langkah mitigasi darurat bagi penghuni rumah dan warga di sekitarnya. Karakteristik emisi gas bumi memerlukan penanganan khusus agar tidak kembali menyulut kebakaran.

Beberapa tindakan teknis penanganan emisi gas metana di area pemukiman meliputi:

  • Membuat lubang ventilasi atau pipa pelepas gas (gas venting) di sekitar fondasi rumah untuk mengalirkan gas ke udara bebas.
  • Membongkar material lantai yang retak untuk memetakan arah rembesan utama gas dari dalam tanah.
  • Menjauhkan benda-benda yang mudah terbakar seperti kain, kertas, dan kasur dari permukaan lantai untuk sementara waktu.
  • Meningkatkan sirkulasi udara di dalam seluruh ruangan guna mencegah akumulasi gas di ruang tertutup.

Pemerintah daerah setempat bersama tim ahli dari UPN Veteran Yogyakarta dan UGM berencana melakukan pemetaan geofisika lebih lanjut menggunakan alat detektor gas untuk mengetahui sebaran volume gas metana di bawah pemukiman tersebut.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed