Gedung Joang 45 Menteng Menyimpan Perjalanan Sejarah Panjang

Smallest Font
Largest Font

Gedung Joang 45 yang berdiri di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, menyimpan jejak sejarah panjang bangsa Indonesia. Bangunan bersejarah tersebut dulunya difungsikan sebagai penginapan sebelum akhirnya menjadi museum perjuangan kemerdekaan, dilansir dari Detik Travel.

Pengembangan area Menteng dimulai pada tahun 1912 saat pemerintah Hindia Belanda merancang pemukiman baru bagi warga Belanda. Lokasi Menteng diprioritaskan karena letaknya tergolong strategis dan dilengkapi jalur trem yang terhubung ke Cikini hingga Gondangdia.

Edukator museum Gedung Joang 45, Muslim, menjelaskan bahwa jalan raya utama di depan area tersebut dulunya merupakan perlintasan trem. Selain itu, Menteng dirancang khusus sebagai kawasan perumahan pertama di Batavia yang menerapkan konsep taman.

Peluang bisnis penginapan kemudian dilirik oleh pengusaha asal Belanda bernama L.C. Schomper seiring berkembangnya kawasan elit tersebut. Gedung Joang 45 lantas didirikan sekitar tahun 1930 untuk difungsikan sebagai hotel.

Bangunan hotel berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 5.000 meter persegi dengan luas bangunan utama mencapai 693 meter persegi. Tempat penginapan tersebut turut dijadikan kediaman pribadi bagi keluarga L.C. Schomper.

Operasional hotel berhenti saat militer Jepang mengambil alih aset-aset milik Belanda pada tahun 1942. Penguasa Jepang kemudian menyerahkan pengelolaan gedung tersebut kepada kelompok pemuda Indonesia melalui lembaga propaganda Gunseikanbu Sendenbu.

Para pemuda Indonesia memanfaatkan bangunan ini sebagai pusat pendidikan politik. Tempat tersebut diubah namanya menjadi Asrama Angkatan Baru Indonesia.

Sejumlah tokoh pergerakan nasional hadir memberikan pengajaran politik di asrama ini. Tokoh golongan tua yang menjadi pengajar antara lain Soekarno, Mohammad Hatta, Ahmad Soebarjo, dan Mohammad Yamin.

Fungsi bangunan bergeser kembali pada tahun 1943 setelah diambil alih oleh Pusat Tenaga Rakyat (Putera). Organisasi pimpinan Empat Serangkai ini menaungi Soekarno, Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan K.H. Mas Mansyur.

Pengelolaan gedung beralih ke organisasi Jawa Hokokai pada tahun 1944. Wadah pergerakan tersebut menggunakan fasilitas gedung hingga menjelang proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945.

Kelompok pemuda kembali menguasai gedung ini usai proklamasi kemerdekaan diproklamasikan. Tokoh pemuda seperti Sukarni, Chaerul Saleh, A.M. Hanafi, Adam Malik, Wikana, hingga Nitimihardjo menjadikan lokasi tersebut markas berkumpul dan kantor komando Komite van Aksi.

Gedung tersebut sempat dimanfaatkan oleh Kementerian Pengerahan Tenaga Kerja Rakyat pada tahun 1957. Pemerintah kemudian menetapkan bangunan ini sebagai cagar budaya bersejarah pada tahun 1972.

Pemerintah meresmikan bangunan ini sebagai museum bernama Museum Joang 45 pada 19 Agustus 1974 setelah melalui proses renovasi. Elemen asli bangunan seperti lantai marmer dan struktur semen masih dipertahankan hingga saat ini.

Pengelola museum kini melengkapi fasilitas dengan ruang imersif serta teknologi video mapping. Pembaruan teknologi tersebut dihadirkan guna meningkatkan daya tarik wisata serta kenyamanan para pengunjung.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed