Klaim Desa Tertua di Purworejo Belum Memiliki Dasar Historis

Smallest Font
Largest Font
Table of Contents
[ Show ]

Sebuah narasi lokal menyebut Desa Bagelen di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, sebagai desa tertua di Indonesia yang telah berdiri sejak abad ke-6. Namun, klaim sejarah yang berakar dari legenda masyarakat tersebut dinilai belum memiliki dasar bukti historis yang kuat oleh pakar sejarah.

Sesepuh Desa Bagelen, R Mulato, menjelaskan bahwa nama awal wilayah tersebut adalah Pagelen. Kata Pagelen merujuk pada tempat penyimpanan abu pembakaran jenazah pada peradaban Hindu di bawah kepemimpinan Prabu Swelacala dari Kerajaan Medang Kamulan.

"Prabu Swelacala itu yang mempunyai Kerajaan Medang Kamulan, itu abad ke-6. Ya karena sejarahnya dari abad ke-6 itu, mungkin dari dasar itu, Pagelen itu ya dari abad ke-6 sudah ada, kan seperti itu. Ya kalau Bagelen itu kan kalau kita bisa komparasi dengan Kerajaan Tarumanegara, umpamanya seperti itu, lebih tua dari sini. Makanya bisa dikatakan tertua di Indonesia," kata R Mulato saat diwawancarai, seperti dikutip dari Detik Travel.

Masyarakat setempat juga sangat menghormati sosok Nyai Bagelen yang dipercaya sebagai putri Prabu Swelacala. Tokoh legenda ini dipandang sebagai pengayom yang mengajari warga bercocok tanam hingga menjadi figur pemimpin adat pada masa lampau.

"Konon dulu sosok Nyai Bagelen itu mengayomi, mengajari bercocok tanam, dan sebagainya. Jadi sosok putri yang mengayomi. Maka menjadi panutan dari dulu ya untuk masyarakat setempat. Jadi seolah-olah ya tokoh adatnya atau ratunya," ujar Mulato.

Pandangan berbeda disampaikan oleh filolog sekaligus Pengarsa Kearsipan Kadipaten Pakualaman, Dr Drs Sudibyo. Menurutnya, belum ada prasasti tertua di wilayah setempat yang mencantumkan nama Bagelen.

"Prasasti Kayu Ara Hiwang tahun 901 M yang ditemukan di Desa Boro Wetan maupun Prasasti Watukura tahun 902 M belum menyebut nama Bagelen atau nama desa yang dapat dikaitkan dengan etimologi Bagelen," kata Sudibyo saat dimintai konfirmasi.

Nama Pagelen baru muncul dalam dokumen tertulis Babad Tanah Jawi yang dibuat pada abad ke-18. Naskah tersebut mengisahkan Pagelen sebagai daerah keturunan Prabu Swelacala melalui tokoh bernama Panuhun.

"Sampai saat ini saya belum menemukan sumber yang lebih tua daripada Babad Tanah Jawi mengenai Bagelen," ujar Sudibyo.

Sudibyo menegaskan bahwa status Bagelen sebagai desa tertua belum bisa dipertanggungjawabkan dalam kajian akademik.

"Berdasarkan data sejarah yang ada, pernyataan bahwa Bagelen adalah desa tertua di Indonesia sama sekali tidak terdukung. Kalau yang dibahas Desa Watukura atau Desa Boro, itu masih bisa didiskusikan," lanjutnya.

Sejauh ini, dokumen tertulis mengenai wilayah tersebut berakar dari naskah abad ke-18 hingga abad ke-20. Sementara itu, catatan tertulis tertua berada dalam Arsip Bagelen Nomor 18 peninggalan era VOC dan Hindia Belanda di Arsip Nasional Republik Indonesia.

Antara Nilai Tradisi Lisan dan Fakta

Terkait figur Nyai Ageng Bagelen, Sudibyo memandangnya sebagai pahlawan dalam cerita rakyat dibanding tokoh sejarah nyata.

"Sampai saat ini saya tidak memiliki bukti bahwa Nyai Ageng Bagelen merupakan sosok historis. Beliau lebih merupakan tokoh yang berasal dari legenda," tuturnya.

Meskipun demikian, cerita rakyat tersebut menyimpan pesan moral mengenai kemandirian dan kesetaraan hak perempuan yang melampaui zamannya.

"Legenda itu memperlihatkan sosok perempuan yang mandiri, emansipatif, dan asertif, bahkan sejalan dengan gagasan tentang perempuan pada era modern," tambah Sudibyo.

Secara geopolitik pada era Mataram Islam hingga masa kolonial, Bagelen memegang peranan penting sebagai wilayah penyangga pusat pemerintahan. Warganya dikenal setia membela kerajaan pada era Panembahan Senopati, Sultan Agung, hingga keterlibatan besar prajuritnya dalam Perang Jawa pada 1829-1830.

Sudibyo menyimpulkan bahwa batas antara reka cerita rakyat dan catatan sejarah perlu dipisahkan secara bijak lewat riset ilmiah mutakhir.

"Terdapat jurang yang cukup lebar antara fakta sejarah dan cerita tentang Bagelen. Sebagian besar narasi seperti asal-usul Bagelen, Nyai Ageng Bagelen, maupun Sunan Geseng masih berupa sejarah lisan yang diwariskan turun-temurun dan belum sepenuhnya terkonfirmasi oleh data sejarah," ucapnya.

"Hanya saja, diperlukan interpretasi baru agar nilai-nilai dalam legenda tersebut tetap relevan bagi generasi masa kini," pungkas Sudibyo.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed