Gelombang Panas Ekstrem Landa Eropa Hingga Tewaskan Ribuan Warga

Smallest Font
Largest Font

Gelombang panas ekstrem melanda sejumlah negara di kawasan Eropa hingga memicu ribuan korban jiwa dan merusak berbagai infrastruktur publik pada akhir Juni 2026. Berdasarkan data resmi otoritas kesehatan setempat, cuaca ekstrem ini mendorong lonjakan angka kematian yang signifikan serta memaksa penutupan rute transportasi di beberapa wilayah terdampak.

Dilansir dari detikcom, Jerman mencatatkan rekor suhu tertinggi sepanjang sejarah yang mencapai 41,7 derajat Celsius di stasiun pemantau Coschen, wilayah Brandenburg bagian timur, pada Minggu (28/6/2026). Layanan cuaca Jerman (DWD) juga melaporkan malam menjelang Minggu menjadi malam paling hangat dalam 150 tahun terakhir dengan suhu 29,4 derajat Celsius di Saxony.

Dampaknya, aspal yang meleleh di atas rel memaksa otoritas transportasi di Leipzig menghentikan operasional trem untuk pemeriksaan keselamatan. Menurut laporan Euro News, kerusakan dan deformasi permukaan jalan juga terjadi di jalan tol A2 dekat Burg, Saxony-Anhalt, serta beberapa rute lain di Brandenburg.

Sementara itu, badan kesehatan dan WHO melaporkan situasi darurat yang jauh lebih parah di Prancis dengan lebih dari 1.300 kematian akibat cuaca panas ini. Kamar jenazah di Paris dan sekitarnya dilaporkan telah kehabisan ruang penyimpanan akibat lonjakan drastis jumlah korban meninggal, khususnya warga lanjut usia di atas 65 tahun.

Pemilik kamar mayat di Paris, Zouhaeir Hertelli, mengungkapkan situasi darurat yang dihadapi oleh industri pemakaman akibat tingginya angka kematian harian.

“Apakah Anda punya tempat untuk satu orang lagi?” ujar Zouhaeir Hertelli saat menirukan pertanyaan ratusan penelepon yang menghubungi tempat usahanya.

Kapasitas fasilitas pendingin milik Hertelli yang berjumlah 32 ruangan kini sudah terisi penuh oleh jenazah baru.

“Tidak,” kata Zouhaeir Hertelli ketika terpaksa menolak kedatangan jenazah tambahan.

Hertelli menambahkan bahwa kondisi saat ini sudah masuk dalam kategori darurat yang sangat mengkhawatirkan bagi para petugas medis dan pengurus pemakaman.

“Kita menghadapi situasi yang benar-benar bencana,” kata Zouhaeir Hertelli.

Permintaan tempat penyimpanan terus berdatangan tanpa henti dari berbagai rumah sakit dan keluarga korban sepanjang pekan tersebut.

“Saya menerima ratusan panggilan telepon,” ujar Zouhaeir Hertelli.

Hertelli juga memaparkan bahwa seluruh fasilitas penampungan di ibu kota Prancis sudah tidak mampu lagi menerima jenazah baru.

“Kami menghadapi lonjakan kematian yang sangat besar karena gelombang panas dan (kamar mayat) kami benar-benar penuh, penuh, penuh,” kata Zouhaeir Hertelli.

Akibat keterbatasan ruang tersebut, para pengurus pemakaman terpaksa mencari tempat penyimpanan hingga sejauh 80 kilometer ke luar kota Paris.

“Keluarga-keluarga menderita,” ujar Zouhaeir Hertelli.

Pihaknya kini tengah berupaya meminta perizinan khusus dari otoritas setempat untuk mendirikan kontainer berpendingin sementara di luar area bandara Orly.

“Kami tidak punya solusi untuk menawarkannya, karena rumah duka sudah penuh. Jadi kami sangat terpengaruh, kami berempati kepada mereka, tetapi tidak ada yang bisa kami lakukan. Kami benar-benar menghadapi masalah, masalah besar,” kata Zouhaeir Hertelli.

Di sisi lain, Badan Kesehatan Masyarakat Prancis mencatat bahwa angka kematian harian melonjak dari kisaran normal 900 jiwa menjadi lebih dari 1.200 hingga 1.400 jiwa per hari sejak pertengahan pekan lalu.

"Akibatnya, angka kematian akan lebih tinggi daripada angka awal ini," tulis Badan Kesehatan Masyarakat Prancis dalam peringatan resminya.

Selain Prancis dan Jerman, dampak cuaca ekstrem ini juga dirasakan langsung oleh sejumlah warga negara Indonesia (WNI) yang menetap di Inggris dan Swiss.

Diaspora Indonesia di London, Anton Alifandi (59), menceritakan penyesuaian yang harus dilakukannya karena mayoritas rumah di Inggris dirancang tanpa pendingin ruangan (AC).

“Rumah-rumah di Inggris dibangun justru untuk menyimpan panas. Rumah saya dibangun tahun 1937 dan memang tidak dilengkapi pendingin ruangan,” kata Anton Alifandi saat diwawancarai kumparan.

Kondisi suhu yang menyentuh pertengahan 30 derajat Celsius tersebut diakuinya sangat mengganggu produktivitas harian.

“Hari Kamis saya kerja dari rumah, rasanya susah sekali konsentrasi karena panas. Besoknya saya memilih kerja di kantor karena ada AC,” ujar Anton Alifandi.

Hal ini memicu perubahan sudut pandang warga lokal yang kini berbondong-bondong berniat memasang alat pendingin udara di kediaman mereka.

“Di grup lingkungan tempat saya tinggal banyak yang mulai bertanya bagaimana cara pasang AC yang cepat dan murah tanpa merusak rumah,” kata Anton Alifandi.

Ia juga menambahkan bahwa sistem transportasi umum dan operasional institusi pendidikan di London sempat mengalami gangguan jangka pendek.

“Sebagian jalur kereta sempat dihentikan sementara dan ada beberapa sekolah dasar yang tutup,” ujar Anton Alifandi.

Guna mengantisipasi dampak buruk terhadap kesehatan, pihak pengelola transportasi London secara berkala menyebarkan pesan peringatan kepada seluruh penumpang.

“drink a lot, stay hydrated” kata Anton Alifandi menirukan bunyi pengumuman di dalam kereta dan bus setempat.

Menurut Anton, karakter suhu udara di Eropa membuat warga setempat memiliki sensitivitas yang berbeda terhadap cuaca panas dibandingkan masyarakat Asia.

“Saya pernah dengar orang bilang, 'Pagi-pagi sudah 20 derajat, panas banget.' Teman-teman mereka di Singapura atau Hong Kong sampai menertawakan karena bagi mereka itu masih sejuk,” ujar Anton Alifandi.

Anton melanjutkan bahwa dirinya mengandalkan sirkulasi angin alami di malam hari sebagai solusi alternatif untuk beristirahat.

“Kalau tidur ya buka semua jendela dan pintu supaya angin masuk,” kata Anton Alifandi.

Langkah ini dinilai cukup aman karena lingkungan tempat tinggalnya di Inggris tidak memiliki gangguan hama serangga seperti di tanah air.

“Kalau di Jakarta mungkin pintu dibuka nyamuk masuk. Untungnya di sini anginnya masuk tanpa nyamuk,” ujar Anton Alifandi.

Sementara itu, WNI di Jenewa, Swiss, Dandi Yuda (28), menjelaskan ketatnya regulasi birokrasi terkait penggunaan alat pendingin ruangan permanen di negara tersebut.

“Kalau mau pasang AC harus urus izin. Ditanya sumber energinya apa, berisik atau enggak, sampai dampaknya ke lingkungan,” kata Dandi Yuda.

Bahkan, pemohon terkadang diwajibkan menyertakan dokumen pembuktian khusus dari otoritas medis setempat.

“Kadang harus ada surat dokter kalau memang benar-benar butuh AC,” ujar Dandi Yuda.

Faktor status kepemilikan tempat tinggal juga menjadi kendala utama bagi para pendatang untuk memodifikasi fasilitas apartemen mereka.

“AC harus ngebor tembok. Rata-rata pendatang tinggal sementara, jadi enggak boleh mengubah struktur bangunan,” kata Dandi Yuda.

Dandi menyebut kebijakan operasional sejumlah korporasi di Swiss bervariasi dalam menghadapi situasi heatwave ini.

“Enggak ada pengurangan jam kerja secara umum, tapi ada kantor yang jam kerjanya jadi half day, half week, atau WFH (work from home),” ujar Dandi Yuda.

Otoritas dan media massa di Swiss juga terus mengimbau penduduk untuk mengisolasi diri di dalam ruangan selama puncak suhu tertinggi.

“Dari media lokal imbauannya ya stay at home dan minum banyak,” kata Dandi Yuda.

Untuk meredakan rasa panas, Dandi meluangkan waktu luangnya dengan mengunjungi area perairan umum di sekitar wilayahnya.

“Keseharian ya stay di dalam rumah, minum banyak, sama renang di danau, biasanya ke Plage des Eaux-Vives” ujar Dandi Yuda.

Ia bahkan memilih melakukan perjalanan ke luar Swiss demi mencari wilayah dengan tingkat suhu yang lebih rendah.

“Aku lagi escape ke Slovenia. Panas juga, tapi at least enggak sepanas Jenewa,” kata Dandi Yuda.

Dandi memaparkan bahwa gelombang panas ekstrem di Swiss sudah berlangsung sejak tanggal 19 Juni dengan akumulasi suhu yang sangat pekat.

“Heatwave mulai sekitar 19 Juni. Tanggal 22 sampai 24 panas banget, 37-38 derajat, feels like 40,” ujar Dandi Yuda.

Sebagai warga yang berasal dari Surabaya, ia merasakan perbedaan karakteristik kelembapan udara yang mencolok antara Eropa dan Indonesia.

“Panasnya tuh sebenernya sama, tapi di Eropa (udaranya) kering, jadi panasnya benar-benar nyakitin kulit. Naruh air di tangan aja langsung kering,” kata Dandi Yuda.

Kurangnya kandungan air dalam udara di Eropa membuat dampak sengatan matahari terasa jauh lebih membakar permukaan kulit.

“Kalau di Indonesia masih kebantu karena udaranya lembap,” ujar Dandi Yuda.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed