Gelombang Panas Ekstrem Landa Jepang Suhu Tembus 41 Derajat Celsius
Gelombang panas ekstrem melanda berbagai wilayah di Jepang hingga menyebabkan lonjakan pasien rawat inap dan menewaskan puluhan warga pada pertengahan Juli 2026. Pemerintah setempat menetapkan status siaga tinggi setelah suhu udara tercatat menembus angka ekstrem melebihi 40 derajat Celsius di sejumlah kota.
Departemen Pemadam Kebakaran Tokyo melaporkan sebanyak 453 orang dilarikan ke rumah sakit akibat gangguan kesehatan terkait cuaca panas pada Rabu (22/7/2026). Jumlah pasien dalam sehari tersebut menjadi yang tertinggi sejak pencatatan data dimulai pada 2010. Panggilan darurat medis yang masuk di wilayah ibu kota juga melonjak ke level tertinggi sejak 1963.
Suhu udara ekstrem tercatat mencapai 41,1 derajat Celsius di Kota Hamamatsu, Prefektur Shizuoka, pada Kamis (23/7/2026). Wilayah lain seperti Kota Toyota mencatatkan suhu 40,8 derajat Celsius dan Kuwana menyentuh 40,7 derajat Celsius. Lonjakan suhu tinggi ini telah berlangsung sejak berhentinya musim hujan secara bertahap pertengahan Juli.
Di wilayah Prefektur Tokyo yang berpenduduk 14 juta jiwa, satu korban dilaporkan meninggal dunia, sementara empat orang berada dalam kondisi kritis dan 18 orang dalam kondisi serius. Secara nasional, sedikitnya 14 orang tewas dalam kurun waktu sepekan, dan lebih dari 11.000 orang membutuhkan perawatan medis darurat.
Otoritas penanggulangan bencana di Jepang secara resmi memperkenalkan istilah baru meteorologi yaitu kokushobi untuk menggambarkan kondisi hari dengan suhu mencapai 40 derajat Celsius atau lebih. Langkah ini diambil guna memicu kewaspadaan ekstra dari seluruh lapisan masyarakat.
Perwakilan Departemen Pemadam Kebakaran mengimbau warga untuk meningkatkan kewaspadaan di tengah tingginya risiko sengatan panas.
"Kami mengimbau masyarakat untuk tetap terhidrasi dan menggunakan pendingin udara," kata juru bicara pemadam kebakaran kepada Channel News Asia.
Pihak pemadam kebakaran memperkirakan lonjakan jumlah pasien masih dapat terus bertambah mengikuti kenaikan suhu udara harian.
"Kami mengimbau masyarakat untuk tetap terhidrasi dan menggunakan pendingin udara," kata juru bicara pemadam kebakaran kepada AFP.
Pernyataan resmi dari Badan Manajemen Kebakaran dan Bencana Jepang turut menekankan bahwa situasi fenomena cuaca yang melanda negara tersebut telah masuk dalam kategori kondisi darurat keselamatan.
"Tidak berlebihan untuk menyebut gelombang panas ekstrem ini sebagai 'bencana' dengan banyak orang dilarikan ke rumah sakit atau bahkan meninggal akibat heat stroke," tegas badan tersebut.
Otoritas keselamatan bencana juga memperingatkan warga bahwa paparan suhu ekstrem diperkirakan masih bertahan dalam beberapa hari ke depan di sebagian besar wilayah.
"Suhu telah meningkat sejak pertengahan Juli, dan gelombang panas ekstrem diperkirakan akan berlanjut di seluruh negeri. Tidak berlebihan untuk menyebut gelombang panas ekstrem ini sebagai bencana, dengan banyak orang dilarikan ke rumah sakit atau bahkan meninggal akibat serangan panas," demikian pernyataan badan tersebut.
Dampak cuaca ekstrem juga dirasakan langsung oleh wisatawan asing yang sedang melakukan perjalanan di Jepang. Beberapa keluarga turis terpaksa mengubah rencana kunjungan untuk menghindari bahaya dehidrasi dan kelelahan akibat panas.
"Kami telah merencanakan perjalanan untuk memastikan bisa menghabiskan waktu di metro untuk mendinginkan diri, mencari toko-toko kecil yang ber-AC, melakukan segala yang kami bisa untuk tetap sejuk," cerita Nick Estes (35), seorang turis asal Amerika Serikat yang memboyong keluarganya.
Nick Estes menyebutkan bahwa kondisi cuaca pada musim panas tahun ini terasa jauh lebih berat dibandingkan tahun sebelumnya.
"Terutama untuk anak-anak kecil, ini benar-benar berat. Musim panas lalu saya ke sini, tapi entah kenapa tahun ini terasa jauh lebih panas," lanjutnya.
Badan Meteorologi Jepang (JMA) mengimbau masyarakat untuk rutin mengonsumsi air putih tanpa menunggu haus, menggunakan pakaian ringan dan longgar, serta memakai pelindung diri seperti payung atau topi saat beraktivitas di luar ruangan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow