BMKG Catat Dua Gempa Kecil Beruntun di Barat Daya Bogor

Smallest Font
Largest Font

Dua gempa bumi kecil beruntun mengguncang wilayah barat daya Kota Bogor, Jawa Barat, pada Kamis siang, 3 September 2026, menurut catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Gempa pertama terjadi pukul 11.23 WIB dengan magnitudo 2,0, berpusat 25 kilometer barat daya Kota Bogor pada kedalaman 10 kilometer.

Belum genap semenit kemudian, gempa kedua tercatat pada pukul 11.24 WIB dengan magnitudo 2,3 dan pusat gempa 27 kilometer barat daya Kota Bogor pada kedalaman 6 kilometer, lebih dangkal dari gempa pertama.

Kedua gempa ini berpusat di darat dan lokasi pusatnya hanya berselisih sekitar dua kilometer, dengan kedalaman kurang dari 10 kilometer, sehingga tergolong gempa dangkal.

BMKG melaporkan bahwa getaran dari gempa berkekuatan di bawah 3,0 ini biasanya tidak dirasakan secara signifikan oleh masyarakat di permukaan.

Selain di Bogor, gempa berkekuatan M2,3 pada pukul 11.24 WIB juga dirasakan di wilayah Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, dengan intensitas II pada Skala Modified Mercalli Intensity (MMI), yang berarti getaran terasa oleh beberapa orang dan benda ringan bergoyang.

Kepala BMKG Wilayah II Tangerang Selatan, DR. Hartanto, ST, MM, mengatakan, "Berdasarkan laporan dari masyarakat, gempabumi ini dirasakan di wilayah Kabandungan Kabupaten Sukabumi dengan Skala Intensitas II MMI (Getaran dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang digantung bergoyang)."

Hingga saat ini belum ada laporan kerusakan bangunan akibat gempa tersebut, dan BMKG belum mendeteksi adanya gempa susulan.

Ahli kebencanaan dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, mengungkapkan bahwa gempa Bogor pada 3 September ini berkaitan dengan gempa dangkal yang terjadi dua hari sebelumnya di wilayah Cianjur.

Ia menjelaskan, gempa Bogor dipicu oleh aktivitas sesar aktif di zona segmen sesar Awi Bengkok dan segmen sesar Cianten-Muara, sementara gempa Cianjur disebabkan oleh pelepasan energi di Sesar Cisokan yang merupakan bagian dari sistem Zona Sesar Cimandiri.

Daryono menyatakan, "Rangkaian kejadian ini menguraikan kenyataan geologis bahwa wilayah Jawa Barat dan DKI Jakarta berdiri tepat di atas zona transisi tektonik yang sangat dinamis."

Menurutnya, aktivitas seismik yang mengguncang Jawa Barat awal September 2026 menunjukkan kompleksitas geodinamika akibat penunjaman Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia, yang menyebabkan ancaman kegempaan dari deformasi internal lempeng dan jaringan sesar kerak dangkal di daratan.

Lebih lanjut Daryono mengingatkan pentingnya mitigasi risiko bencana melalui penerapan standar bangunan tahan gempa, penguatan sistem peringatan dini, edukasi kebencanaan, dan pemetaan jalur evakuasi di kawasan padat penduduk.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed