Gempa Magnitudo 6,7 Ganggu Jaringan BTS di Palu Sigi dan Poso

Smallest Font
Largest Font

Infrastruktur telekomunikasi di Kota Palu, Kabupaten Sigi, dan Kabupaten Poso mengalami gangguan akibat gempa tektonik dangkal berkekuatan magnitudo 6,7 yang mengguncang wilayah Sulawesi Tengah pada Selasa (16/6/2026) pukul 10.27 WIB.

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mencatat sebanyak 29 situs Base Transceiver Station (BTS) dari total 2.601 situs di tiga wilayah terdampak mengalami kendala operasional. Gangguan pada 1,04 persen infrastruktur telekomunikasi tersebut dipicu oleh terputusnya jalur transmisi serta pasokan daya listrik pascaguncangan gempa.

Hingga pukul 15.00 WIB, Pusat Monitoring Telekomunikasi (PMT) Komdigi melaporkan delapan situs BTS atau sekitar 27,59 persen dari total menara yang terdampak sudah berhasil dinormalisasi, sementara 21 situs lainnya masih berada dalam kondisi mati.

"Pemulihan tercepat terjadi di Kota Palu dengan 5 site yang telah kembali beroperasi, disusul Kabupaten Sigi sebanyak 3 site," kata Komdigi dikutip dari pernyataan tertulisnya.

Proses perbaikan saat ini masih terus berjalan di Kabupaten Poso yang memiliki kendala pada 13 situs BTS terdampak. Komdigi memastikan tidak ada korban jiwa dari personel di lingkungan fasilitas telekomunikasi dan koordinasi bersama operator serta pemerintah daerah terus dipercepat.

"Kementerian Komunikasi dan Digital akan terus menyampaikan perkembangan terkini mengenai proses pemulihan jaringan sesuai hasil pemantauan dan laporan dari operator telekomunikasi," kata Komdigi.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi pusat gempa berada di darat pada kedalaman 10 kilometer yang berjarak 42 kilometer arah tenggara Kota Palu dan tidak berpotensi tsunami. Tiga menit setelah gempa utama, Lembaga Pemantau Geologi Internasional (USGS) juga mendeteksi gempa susulan bermagnitudo 5,2 di kedalaman yang sama.

Kepala BMKG Wijayanto menjelaskan bahwa aktivitas seismik ini bersumber dari pergerakan sesar aktif Sausu, bukan dari Sesar Palu Koro yang pernah memicu bencana besar pada tahun 2018 silam.

"Jadi gempa ini akibat aktivitas sesar aktif sausu di Sulawesi Tengah. Jadi ini bukan segmen Palukoro seperti gempa di 2018," kata Wijayanto saat konferensi pers yang disiarkan melalui YouTube BMKG, Selasa (16/6/2026).

Pihak BMKG menerangkan bahwa kawasan Kota Palu memiliki beberapa struktur sesar aktif lainnya termasuk Sesar Ampana yang karakternya cenderung independen.

"Sesar-sesar aktif ini biasanya tidak memicu aktivitas sesar di sekitarnya. Jadi misalkan nanti memicu sesar di sekitarnya bukan berarti nanti akan memicu gempa yang lebih besar, tentunya nanti hanya memicu gempa-gempa kecil saja," jelasnya.

Saat ini BMKG masih terus melakukan monitoring serta evaluasi terhadap aktivitas gempa susulan yang terjadi di wilayah terdampak tersebut.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed