Gempa Sukabumi Lambatkan Kereta Api dan Picu Pemantauan di Garut

Smallest Font
Largest Font

Guncangan gempa bumi di selatan Kabupaten Sukabumi pada Minggu, 19 Juli 2026 sore mengakibatkan keterlambatan operasional KA Siliwangi dan memicu kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Garut di wilayah pesisir pantai selatan. Badan Meteorologi, Climataologi, dan Geofisika melaporkan aktivitas seismik tersebut berpusat di laut pada jarak 83 kilometer arah selatan Kabupaten Sukabumi dengan kedalaman 23 kilometer. Meskipun tidak memicu potensi tsunami, getaran gempa dirasakan di sejumlah daerah seperti Sukabumi, Cianjur, Bandung, dan Bogor. Imbas dari peristiwa alam ini langsung ditangani oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 2 Bandung melalui penerapan prosedur keselamatan darurat di lintasan yang terdampak.

"Petugas segera melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap seluruh prasarana perkeretaapian di lintas terdampak, meliputi jalur rel, jembatan, terowongan, serta fasilitas pendukung lainnya," jelas Manager Humasda KAI Daop 2 Bandung, Kuswardojo.

Langkah pemeriksaan tersebut memicu penundaan jadwal pada KA Siliwangi relasi Cipatat–Sukabumi selama 19 menit saat memasuki Stasiun Cibeber, kendati prasarana operasional dipastikan tetap aman. "Setiap terjadi gempa bumi, KAI segera menerapkan prosedur tanggap darurat dengan menghentikan sementara perjalanan kereta pada lintas yang terdampak untuk dilakukan inspeksi oleh petugas prasarana," tambahnya.

Pihak manajemen menekankan bahwa inspeksi berkala pascagempa merupakan bagian dari standardisasi perlindungan bagi pengguna jasa transportasi massal tersebut. "Keselamatan pelanggan, awak sarana, dan operasional kereta api selalu menjadi prioritas utama kami," pungkasnya.

Sementara itu, otoritas penanggulangan bencana di Kabupaten Garut turut mengintensifkan pengawasan di sepanjang garis pantai selatan yang berbatasan langsung dengan pusat gempa. "Monitoring wilayah Garut tidak terasa," katanya Sekretaris BPBD Kabupaten Garut, Abud Abdullah. Berdasarkan hasil pemodelan dari lembaga terkait, BPBD Garut menegaskan bahwa pergerakan lempeng tektonik dangkal ini tidak akan memicu gelombang pasang di pesisir Jawa Barat.

"Hasil pemodelan tsunami menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami," katanya.

Hingga saat ini, BMKG masih terus memantau potensi aktivitas seismik susulan guna memperbarui data kepada publik dan instansi terkait.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed