Gletser Runtuh Picu Banjir Bandang di Nepal dan Tibet
Banjir bandang dan tanah longsor yang dipicu oleh runtuhnya gletser menerjang wilayah perbatasan Nepal dan Tibet pada Rabu (26/8/2026), menewaskan sedikitnya 165 orang dan menyebabkan lebih dari 1.300 orang hilang. Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) mengonfirmasi bahwa gelombang seismik bermagnitudo 5,2 yang sempat disangka gempa bumi murni tersebut sebenarnya disebabkan oleh runtuhnya gletser dan aliran material longsoran. Gelombang lumpur dan puing-puing merusak kawasan pemukiman serta infrastruktur di sepanjang aliran Sungai Bhote Koshi dan Sungai Trishuli, menenggelamkan lantai bawah gedung bertingkat serta kendaraan warga.
Otoritas penanggulangan bencana Nepal mencatat 162 jenazah ditemukan di wilayahnya dengan 823 orang masih belum diketahui keberadaannya, sementara media pemerintah China melaporkan tiga korban jiwa dan 558 orang hilang di Pelabuhan Gyirong, Tibet.
Di antara para korban hilang, terdapat ratusan wisatawan asing dari berbagai negara seperti India, Amerika Serikat, Australia, Inggris, Malaysia, Belanda, Portugal, Afrika Selatan, Korea Selatan, dan Kanada. Sejumlah pejabat dari berbagai instansi serta lembaga internasional memberikan keterangan resmi terkait penanganan darurat serta dampak dari bencana alam ini.
"Tim kami sedang memeriksa rumah sakit tempat para korban datang," kata Direktur Perusahaan Pendakian Himalayan Glacier Sanket Pandey. Perusahaan tersebut mengonfirmasi bahwa sebanyak 47 orang dari satu rombongan pendakian mereka, termasuk dua anak-anak, dilaporkan hilang di wilayah Nepal.
"Ini adalah rute populer bagi wisatawan internasional yang bepergian dari Kathmandu ke Lhasa," kata Sejarawan Lingkungan Universitas La Trobe Australia Ruth Gamble. Gamble menambahkan bahwa terjangan lumpur dan puing-puing bergerak sangat cepat layaknya tsunami daratan sepanjang hampir 170 kilometer menyusuri lembah menuju Nepal Tengah. "Tugas yang paling mendesak adalah melakukan segala upaya untuk mencari dan menyelamatkan orang-orang yang hilang," kata Presiden China Xi Jinping.
Pemerintah China telah mengerahkan hampir 800 pekerja darurat, 150 kendaraan, anjing pelacak, serta perahu cepat ke lokasi bencana di Tibet untuk mendukung operasi pencarian.
"Saat ini memang sedang masih berlangsung pendataannya, masih diupdate," kata Juru Bicarakan Kementerian Luar Negeri Indonesia Vahd Nabyl. Nabyl memastikan bahwa dari sekitar 45 warga negara Indonesia (WNI) yang terdata berada di Nepal, mayoritas bertempat tinggal di Kathmandu dan sejauh ini belum ada laporan terkena dampak langsung. "Dan juga koordinasi juga dengan pemerintah-pemerintah daerah di sana [Tibet] yang kita tahu bahwa tentu dengan kondisi saat ini pastinya seluruh pihak tengah melakukan hal yang serupa dengan kita untuk memastikan keselamatan warga negara-warga negara di sana," kata Juru Bicarakan Kementerian Luar Negeri Indonesia Vahd Nabyl.
Kemlu RI bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Dhaka terus memantau situasi dan mengimbau seluruh WNI untuk tidak mendekati kawasan terdampak bencana.
"Sehubungan dengan terjadinya bencana banjir bandang di Nepal (daerah aliran sungai Bhote Koshi: Rasuwa, Dhading, Nuwakot, Trisuli), kami mengimbau kepada WNI yang berada di Nepal agar tetap tenang, menghindari perjalanan ke daerah bencana," kata Pihak KBRI Dhaka dalam pernyataan resminya. Perwakilan RI mengimbau seluruh agen perjalanan yang membawa wisatawan Indonesia ke Nepal agar segera melaporkan keberadaan serta kondisi anggota rombongannya demi mempermudah pemberian perlindungan.
"Bila terjadi keadaan darurat atau sekiranya terdapat WNI yang terdampak, dapat segera menghubungi Nomor Hotline KBRI Dhaka: +880 1614 444 552 dan +880 1713 084 402 atau Konsul Kehormatan RI di Kathmandu: +977 980 1190 989," kata Pihak KBRI Dhaka. "Peristiwa seismik bermagnitudo 5,2 terjadi di dekat perbatasan antara Nepal dan China pada 26 Agustus. USGS menentukan peristiwa seismik tersebut merupakan keruntuhan gletser dan aliran material longsoran yang kemudian menimbulkan dampak dahsyat di wilayah hilir," kata Pihak USGS.
USGS meluruskan dugaan awal yang sempat menyebutkan adanya gempa tektonik sebelum tanah longsor terjadi di area pegunungan tersebut. "Peristiwa ini awalnya dilaporkan sebagai gempa bumi bermagnitudo 4,4," kata Pihak USGS. Organisasi kemanusiaan internasional seperti IFRC telah menyalurkan bantuan darurat berupa selimut, kantong jenazah, tandu, dan perlengkapan medis ke lokasi bencana.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow