Banjir Bandang dan Longsor di Perbatasan Nepal-Tibet Tewaskan Ratusan Orang
Banjir bandang dan tanah longsor dahsyat melanda perbatasan Nepal dan Tibet pada Rabu, 26 Agustus 2026, menewaskan sedikitnya 633 orang dan menyebabkan ribuan lainnya hilang, menurut laporan dari otoritas Nepal dan China.
Di Nepal, 626 korban tewas dan 2.426 orang masih hilang, sementara China melaporkan tujuh kematian dan 554 orang hilang di wilayah Tibet. Korban hilang termasuk 517 warga asing di Nepal dan 260 di China, banyak di antaranya pekerja pembangkit listrik tenaga air.
Pemerintah China menanggapi bencana dengan operasi penyelamatan besar yang melibatkan ratusan petugas darurat, dengan Presiden Xi Jinping memimpin rapat koordinasi darurat. Namun, media dan internet di China membatasi penyebaran video dan informasi terkait bencana, terutama di wilayah Tibet yang sensitif secara politik.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian memperingatkan risiko bencana susulan akibat banyaknya gletser dan danau glasial di sekitar lokasi bencana, menekankan perlunya rencana penyelamatan yang matang. Sementara itu, Premier Li Qiang melakukan kunjungan ke lokasi terdampak, menunjukkan perhatian tinggi pemerintah terhadap bencana ini.
Di Nepal, Menteri Luar Negeri Shisir Khanal menyatakan kesulitan menghadapi kondisi di lapangan, seperti sulitnya mengakses daerah terisolasi yang hanya bisa dijangkau helikopter. Khanal juga mengungkapkan permintaan bantuan teknis dari negara tetangga seperti India dan China, terutama untuk membuka kembali jalur transportasi dan mengidentifikasi korban tewas.
Khanal menegaskan bahwa pencarian dan penyelamatan masih dilakukan oleh tim Nepal tanpa perlu bantuan asing dalam operasi tersebut, tetapi mereka membutuhkan dukungan dalam pengelolaan jenazah dan perbaikan infrastruktur yang rusak parah.
Para penyintas di Nepal menggambarkan kehancuran total, seperti yang dialami Sadip Nepal yang kehilangan rumah dan keluarganya akibat banjir.
Situasi di Tibet lebih sulit dipantau karena kontrol ketat pemerintah China terhadap informasi. Video dramatis yang beredar luas di dunia internasional sulit ditemukan di internet China. Kelompok-kelompok hak asasi Tibet menyatakan kekhawatiran atas penghapusan informasi oleh pihak berwenang.
Operasi penyelamatan di lokasi terdampak seperti kompleks perbatasan Gyirong menunjukkan kehancuran total. Tim penyelamat China melaporkan hanya menemukan reruntuhan dan kondisi yang sangat sulit untuk dijangkau akibat kerusakan infrastruktur.
Respon internasional terus berlangsung dengan berbagai organisasi kemanusiaan yang bergerak membantu lebih dari 90.000 orang yang terdampak, termasuk penyediaan makanan dan kebutuhan dasar lainnya.
Ancaman bencana lanjutan masih ada akibat danau penghalang yang terbentuk dari material longsor dan gletser yang mencair, yang berpotensi menyebabkan banjir susulan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow