Gunung Anak Krakatau Erupsi Empat Kali, Aktivitas Vulkanik Tinggi

Smallest Font
Largest Font

Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda mengalami empat kali erupsi dalam kurun waktu satu jam pada Jumat pagi, 4 September 2026, memperlihatkan aktivitas vulkanik yang masih sangat tinggi.

Tiga letusan pertama terjadi berturut-turut pada pukul 04.11, 04.19, dan 04.28 WIB, dengan amplitudo maksimum masing-masing 33 mm, 60 mm, dan 70 mm yang hanya terekam oleh seismograf.

Erupsi keempat terjadi pukul 05.46 WIB, dengan kolom abu setinggi sekitar 300 meter di atas puncak gunung, berwarna hitam pekat dan bergerak ke arah barat dan barat laut.

Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau, Suwarno, menyatakan aktivitas tersebut menunjukkan gunung masih aktif dan masyarakat harus tetap waspada.

"Erupsi tidak selalu terlihat secara visual. Ada yang hanya terekam di seismograf sehingga pemantauan kegempaan tetap penting," ujar Suwarno.

Pada pengamatan antara pukul 12.00-18.00 WIB, tercatat 12 gempa hembusan, 18 gempa harmonik, 9 gempa low frequency, 6 gempa hybrid, satu gempa vulkanik dalam, dan tremor menerus.

Suwarno mengingatkan masyarakat dan wisatawan tidak menganggap kondisi gunung aman hanya karena letusan tidak selalu terlihat secara kasat mata.

"Yang perlu diperhatikan adalah rekomendasi keselamatan. Jangan mendekati kawah aktif meskipun kondisi di sekitar gunung terlihat tenang," ujarnya.

Gunung Anak Krakatau setinggi sekitar 157 meter di atas permukaan laut itu berada di wilayah Lampung Selatan. Asap kawah berwarna kelabu dan hitam dengan intensitas sedang hingga tebal mencapai 50-300 meter dari puncak pada Jumat sore.

Petugas juga mengimbau agar masyarakat, pengunjung, dan pendaki tidak mendekati kawasan dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif.

"Ikuti selalu rekomendasi petugas dan informasi resmi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau. Jangan mengambil risiko mendekati kawasan kawah aktif," ujar Suwarno.

Kepala PVMBG Badan Geologi Kementerian ESDM, Rita Susilawati, mengingatkan bahwa meski status Gunung Anak Krakatau naik ke Level III atau Siaga sejak Juli 2026, erupsi yang terjadi tidak otomatis memicu tsunami.

"Masyarakat yang tinggal di sekitar gunung berapi mohon agar memahami kondisi sekitarnya dan mematuhi rekomendasi dari PVMBG," ujar Rita dalam konferensi pers daring.

Rita juga menepis anggapan bahwa erupsi beberapa gunung api secara bersamaan menunjukkan adanya hubungan magmatik yang sama.

"Bersamaan waktunya, belum berarti berhubungan prosesnya," katanya.

Untuk mencegah masyarakat dan wisatawan memasuki zona berbahaya, tim gabungan dari BKSDA, Satpolair Polres Lampung Selatan, Ditpolair Polda Lampung, dan Sie Dokkes Polres Lamsel memperketat patroli di sekitar Anak Krakatau.

Kasat Polair Polres Lampung Selatan, Iptu Panpan Hermayadi, mengatakan patroli menyasar perairan sekitar gunung untuk mengawasi aktivitas masyarakat dan mengantisipasi pelanggaran zona terlarang.

Pada patroli Minggu pagi, petugas menemukan nelayan yang menjaring ikan di dalam radius terlarang dan langsung memberikan teguran serta meminta menjauh demi keselamatan.

Selain nelayan, petugas juga mendeteksi speedboat yang mendekati kawasan Anak Krakatau, namun kapal tersebut berbalik arah setelah didekati petugas.

"Kami berikan pemahaman dan meminta yang bersangkutan segera menjauh demi keselamatan," kata Panpan Hermayadi.

Patroli gabungan akan terus dilakukan untuk memastikan kawasan larangan tidak dimasuki dan menghindari risiko dari aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed