Harga Batu Bara Naik Dijepit Kebijakan China dan Pembelian AS

Smallest Font
Largest Font

Harga batu bara acuan menguat 0,34 persen ke posisi US$134,05 per ton pada perdagangan Senin (17/8/2026) akibat pengetatan pasokan tambang di China, lonjakan produksi listrik di Belanda, serta rencana insentif energi di Amerika Serikat.

Kenaikan harga ini ditopang oleh penguatan harga minyak global dan lonjakan permintaan batu bara termal di wilayah produksi utama China sebesar CNY 5-10 per ton. Kebijakan inspeksi keselamatan tambang yang makin ketat di Tiongkok memaksa banyak produsen membatasi volume produksi harian mereka.

Berdasarkan survei Sxcoal terhadap 117 tambang batu bara pada 17 Agustus, sebanyak 20 tambang menaikkan harga rata-rata sebesar CNY 15,1 per ton, sementara 97 tambang lainnya mempertahankan harga tetap stabil dan tidak ada tambang yang menurunkan harga.

Tekanan pasokan makin terasa di Yulin setelah 112 fasilitas pencucian batu bara di Distrik Yuyang diperintahkan menghentikan operasional sejak 13 Agustus untuk inspeksi mandiri hingga pertengahan September. Selain itu, insiden semburan gas di tambang Hunan yang menyebabkan tujuh orang hilang diperkirakan memicu pengetatan standar keselamatan nasional.

Di sisi permintaan, gelombang suhu panas 33-35 derajat Celsius di wilayah tengah, timur, dan selatan China mendorong konsumsi listrik pembangkit. Stok batu bara di enam kelompok pembangkit listrik pesisir utama China tercatat turun menjadi 14,08 juta ton per 14 Agustus, atau menyusut 0,72 persen secara mingguan.

Sementara itu di Eropa, pembangkit listrik tenaga uap berbasis batu bara di Belanda mencatatkan lonjakan produksi tertinggi dalam beberapa tahun terakhir akibat melambungnya harga energi dan permintaan ekspor listrik ke Belgia yang sedang mengalami pemeliharaan dua reaktor nuklir utama.

Peningkatan operasional pembangkit batu bara tersebut dilaporkan telah melampaui total produksi listrik sepanjang tahun 2024, dipicu oleh keterbatasan pasokan gas alam di kawasan regional.

"PLTU batu bara juga turun tangan karena permintaan listrik dari luar negeri meningkat. Kami mengekspor banyak listrik ke luar negeri," kata Martien Visser, Dosen Emeritus Bidang Transisi Energi di Hanze University of Applied Sciences Groningen.

Ia menambahkan bahwa pemanfaatan pembangkit batu bara tersebut memberikan dampak positif bagi stabilitas cadangan energi nasional Belanda di tengah dinamika pasar.

"Dengan menggunakan PLTU batu bara, kami menghemat 60 juta meter kubik gas setiap pekan. Gas tersebut bisa digunakan untuk mengisi kembali cadangan gas kami," kata Martien Visser, Dosen Emeritus Bidang Transisi Energi di Hanze University of Applied Sciences Groningen.

Dari kawasan Amerika Utara, Presiden Amerika Serikat Donald Trump bersiap mengocorkan dana pemerintah sebesar US$425 juta atau sekitar Rp6,7 triliun menggunakan kewenangan Defense Production Act 1950 untuk menopang 13 pembangkit listrik batu bara di sejumlah negara bagian.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed