Harga Bitcoin Tertekan ke Level US$ 77.929 akibat Sikap Hawkish The Fed
Pasar aset kripto kembali mengalami penurunan setelah harga Bitcoin tertekan ke kisaran US$ 77.929 pada perdagangan Senin (31/8/2026). Koreksi ini dipicu oleh sentimen makroekonomi global serta ketidakpastian arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) di Amerika Serikat.
Sebelumnya, pergerakan harga Bitcoin sempat menembus level US$ 81.000 pada akhir pekan. Selain itu, data CoinMarketCap per Kamis (27/8/2026) mencatat Bitcoin berada di kisaran US$ 80.000, atau menguat 2,13 persen dalam 24 jam dan melonjak 11,76 persen dalam sepekan. Sementara itu, harga Ether melemah 0,51 persen dalam 24 jam ke level US$ 2.454 per Senin (31/8/2026).
Penguatan Bitcoin sebelumnya ditopang oleh perubahan likuiditas pasar keuangan AS akibat kebijakan pengembalian pembeli obligasi jangka panjang pemerintah, serta respons positif terhadap progres rancangan regulasi CLARITY Act yang didorong Presiden Donald Trump untuk membagi kewenangan SEC dan CFTC.
Co-Founder CryptoWatch sekaligus Pengelola Channel Duit Pintar Christopher Tahir menilai pergerakan dua aset kripto utama tersebut masih layak diamati pasar.
"Menurut saya, keduanya layak untuk diperhatikan. Namun, untuk investor pada umumnya, tidak disarankan untuk melirik koin yang lebih kecil, dikarenakan dapat mengekspos risiko yang terlalu besar," kata Christopher Tahir.
Christopher menambahkan bahwa belum ada sentimen internal kripto yang cukup kuat untuk menggerakkan harga secara signifikan dalam waktu dekat.
"Untuk saat ini, belum ada katalis yang mendasar yang dapat menggerakkan harga keduanya. Sehingga, saat ini penggerak utamanya hanya berdasarkan faktor makro, yaitu harapan ataupun ekspektasi suku bunga untuk The Fed nantinya," jelas Christopher Tahir.
Christopher mengingatkan potensi koreksi lanjutan jika ada sentimen negatif mendasar yang mengubah pandangan pasar secara luas.
"Koreksi lebih dalam dapat terjadi jika adanya faktor negatif yang secara fundamental dapat mengubah sentimen pasar secara umum," ujar Christopher Tahir.
Sebagai langkah antisipasi fluktuasi harga, Christopher menyarankan penggunaan teknik dollar-cost averaging (DCA). Hingga akhir 2026, ia memproyeksikan Bitcoin berpotensi turun ke US$ 50.000 dan Ether ke bawah US$ 2.000.
Direktur Operasional Bittime Ryan Lymn menyatakan perkembangan regulasi di AS memberikan dorongan pada dinamika harga kripto.
"Penguatan Bitcoin menunjukkan bahwa sentimen pasar dapat berubah dengan cepat ketika muncul perkembangan positif terkait regulasi. Namun, investor tetap perlu melihat kondisi pasar secara menyeluruh karena volatilitas aset kripto masih cukup tinggi," ujar Ryan Lymn.
Ryan menekankan agar investor tidak hanya memantau kenaikan harga teknis semata, tetapi juga memperhitungkan faktor makro dan geopolitik secara luas.
"Dalam kondisi seperti sekarang, investor perlu melihat penguatan Bitcoin bukan hanya dari pergerakan harga, tetapi juga dari faktor yang mendasarinya. Kebijakan moneter, kondisi ekonomi global, dan perkembangan regulasi masih dapat mengubah sentimen pasar dengan cepat," kata Ryan Lymn.
Dinamika pasar aset digital diprediksi akan terus terhubung secara erat dengan perkembangan kebijakan moneter AS dan arah pasar keuangan global.
"Bittime menilai perkembangan Bitcoin dalam beberapa pekan ke depan akan tetap dipengaruhi kombinasi antara sentimen regulasi, kebijakan moneter AS, serta kondisi ekonomi global. Investor pun perlu mencermati perkembangan tersebut secara menyeluruh, seiring pasar aset digital yang semakin terhubung dengan dinamika pasar keuangan global," pungkas Ryan Lymn.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow