Harga Emas Dunia Melonjak 1 Persen Tembus USD4416 per Ons
Harga emas dunia di pasar spot menguat hingga 1,1 persen ke level USD4.416,15 per troy ons pada perdagangan Rabu, 12 Agustus 2026. Lonjakan yang membawa harga logam mulia ke titik tertinggi dalam dua bulan terakhir ini dipicu oleh rilis data inflasi Amerika Serikat bulan Juli yang sesuai dengan ekspektasi pasar.
Berdasarkan data Biro Statistik Tenaga Kerja AS, inflasi bulanan Juli tercatat sebesar 0,1 persen, sementara inflasi tahunan melambat menjadi 3,4 persen. Inflasi inti tahunan melandai ke angka 2,5 persen, yang menjadi level terendah sejak Maret 2021 dan memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve akan menahan suku bunga acuan.
Data ekonomi terbaru tersebut dinilai memberikan ruang bagi bank sentral AS untuk bersikap lebih fleksibel mengenai kebijakan moneter.
"Kejutan besarnya adalah tidak ada kejutan, semua data sesuai dengan ekspektasi pasar. Laju inflasi tidak terakselerasi. Ditambah dengan pasar tenaga kerja yang lemah, ini memberi waktu bagi The Fed untuk menunggu," kata Chris Zaccarelli, Chief Investment Officer di Northlight Asset Management.
Perhitungan CME FedWatch mencatat probabilitas FOMC untuk mempertahankan suku bunga pada September mendatang meningkat hingga 60 persen. Selain sentimen suku bunga, harga emas juga terdorong oleh pembelian konsisten Bank Sentral Tiongkok yang menambah cadangan emas sebesar 640 ribu troy ounce pada Juli.
Dari sisi analisis teknikal, indikator Relative Strength Index 14 hari berada di level 68 yang menunjukkan emas masih di zona bullish. Namun, indikator Stochastic RSI yang mencapai angka 100 mengindikasikan kondisi jenuh beli sehingga harga berpotensi mengalami koreksi jangka pendek.
Analis Pasar Senior IG Tony Sycamore menilai pergerakan emas masih berhadapan dengan area resistensi ketat sebelum bisa melanjutkan peningkatannya.
"Emas saat ini menghadapi area resistance di sekitar USD4.460 per ons, sementara rata-rata pergerakan 200 hari berada di kisaran USD4.495. Emas perlu menembus dan bertahan di atas kedua level tersebut untuk membuka peluang penguatan lebih lanjut menuju USD5.000 per ons," kata Tony Sycamore, Analis Pasar Senior IG.
Pasar kini menantikan rilis indeks harga produsen AS sebagai masukan tambahan untuk indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi yang menjadi acuan utama inflasi The Fed.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow