Harga Emas Dunia Melonjak Enam Persen dalam Sepekan
Harga emas dunia melonjak lebih dari 5 persen sepanjang pekan ini hingga Jumat (21/8/2026), memicu tren kenaikan mingguan selama tiga pekan berturut-turut. Penguatan logam mulia ini didorong oleh pelemahan dolar Amerika Serikat serta pengumuman skema pembelian kembali obligasi oleh Departemen Keuangan AS.
Berdasarkan data Refinitiv, harga emas spot ditutup menguat 1,88 persen ke level 4.602,6 dollar AS per troy ounce pada Jumat (21/8/2026). Sementara itu, Reuters mencatat harga emas spot menguat 2,4 persen ke posisi 4.623,94 dollar AS per troy ounce setelah sempat menyentuh 4.631,99 dollar AS per troy ounce yang merupakan posisi tertinggi sejak 15 Mei 2026. Di bursa berjangka AS, emas ditutup menguat 2,4 persen pada level 4.680,60 dollar AS per troy ounce.
Lonjakan harga emas berbanding lurus dengan tekanan pada mata uang dolar AS yang mendekati titik terendah sejak pertengahan Mei. Penurunan terjadi usai Departemen Keuangan AS mengumumkan perluasan program buyback obligasi pemerintah bertenor panjang guna menjaga kelancaran perdagangan pasar surat utang.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengonfirmasi rencana perluasan pembelian kembali obligasi pemerintah pada Kamis (20/8/2026). Langkah tersebut diambil sehari setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan akan menggandakan nilai buyback obligasi berjangka panjang.
Secara teknikal, harga emas berhasil menembus indikator pergerakan rata-rata 200 hari di kisaran 4.513 dollar AS per troy ounce. Keberhasilan menembus level penting ini dipandang para analis sebagai sinyal kuat berlanjutnya tren kenaikan harga.
"Kalau seandainya di hari Senin terkoreksi maka support pertama harga emas di US$ 4.520 per troy ounce kemudian support kedua di US$ 4.437 per troy ounce," kata Ibrahim Assuaibi, Direktur PT Traze Andalan Futures.
Ibrahim memproyeksikan pergerakan emas dalam sepekan mendatang berpotensi bergerak di rentang batas bawah 4.437 dollar AS hingga batas atas 4.766 dollar AS per troy ounce. Ia menilai lonjakan utang pemerintah AS hingga 4 miliar dollar AS dalam program buyback obligasi mendorong investor kembali memburu aset safe haven.
"Secara jangka pendek ini cukup membuat investor kembali melakukan penjualan terhadap obligasi AS tetapi ini hanya bersifat jangka pendek yang membuat harga emas ini kembali naik. Namun kenaikan utang Amerika Serikat akan dimanfaatkan oleh para investor untuk kembali melakukan pembelian terhadap aset safe haven (emas)," beber Ibrahim Assuaibi.
Ibrahim juga menggarisbawahi pengaruh ketegangan geopolitik di Timur Tengah akibat sanksi ekonomi baru AS terhadap Iran yang berpotensi memengaruhi pasar minyak via Selat Hormuz, serta konflik Rusia-Ukraina dan perselisihan Israel-Suriah.
"Faktor besarnya tentu saja teknikal. Target berikutnya adalah US$ 4.700 jika momentum ini berlanjut, tetapi saya juga menilai kenaikan ini sangat didorong oleh pelemahan dolar AS," kata Bart Melek, Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities.
Analis Goldman Sachs melaporkan bahwa lonjakan harga emas turut dipicu oleh meningkatnya permintaan opsi beli emas (gold call option) untuk lindung nilai makroekonomi. Selain itu, keputusan The Federal Reserve yang mempertahankan suku bunga pada Juli 2026 memperkuat minat spekulatif di bursa COMEX dan produk Exchange-Traded Fund (ETF).
Di pasar fisik global, data World Gold Council (WGC) mencatat volume pembelian emas oleh bank sentral naik 2 persen pada semester I-2026. Meskipun demikian, lonjakan harga terbaru ini mulai menahan volume pembelian ritel di India, sementara permintaan di China terpantau stabil dan Bank Sentral Polandia memperlambat pembelian menjadi 7,8 ton pada Juli 2026.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow