Harga Emas Tembus US$4.650 Didukung Yield SBN Naik dan Ketidakpastian Fiskal AS

Smallest Font
Largest Font

Harga emas dunia melampaui US$4.650 per troy ounce pada Senin pagi, 24 Agustus 2026, dipicu oleh pelemahan dolar AS dan risiko ketidakpastian fiskal Amerika Serikat di tengah kondisi geopolitik yang memanas di Selat Hormuz.

Emas spot tercatat mencapai US$4.650,56 per ons, naik 1,01% dibandingkan sebelumnya dan sempat menyentuh puncak US$4.656,44, menguji resistance di level US$4.653, menurut data Bareksa.

Yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik tipis menjadi 6,96% per 21 Agustus 2026, naik 3 basis poin dari 6,93% sebelumnya, yang menyebabkan fluktuasi pada nilai aktiva bersih reksadana pendapatan tetap, tetapi tren bulanan masih menunjukkan penurunan yield, menguntungkan harga obligasi dan reksadana tersebut.

Rahmat Hidayat, Investment Specialist Bareksa, mengatakan, "Kenaikan yield SBN 10 tahun dapat memicu koreksi harian pada reksadana pendapatan tetap, terutama yang berdurasi panjang." Ia menambahkan, "Strategi terukur adalah mengakumulasi secara bertahap ketika nilai aktiva bersih terkoreksi, bukan menilai prospek dari perubahan yield sehari."

Selain itu, Sukuk Ritel seri SR025 yang mulai ditawarkan sejak 21 Agustus hingga 16 September 2026 memberikan kupon tetap tertinggi sejak 2020 dengan kisaran 6,8%–6,9% per tahun, menjadi opsi bagi investor yang membutuhkan arus kas bulanan dengan horizon investasi tiga sampai lima tahun.

Sigma Kinasih, Investment Strategist Bareksa, menjelaskan, "SR025T3 cocok untuk investor dengan horizon pendek, sedangkan SR025T5 menawarkan kupon 0,1 poin persentase lebih tinggi dengan tenor dua tahun tambahan." Ia menekankan pentingnya memilih tenor sesuai kebutuhan likuiditas, bukan hanya mengejar selisih kupon.

Reksadana pasar uang juga menjadi pilihan untuk menjaga likuiditas dana jangka pendek, terutama menjelang data inflasi PCE AS dan simposium The Fed di Jackson Hole pekan ini. Nilai reksadana pasar uang relatif stabil dan likuid, walaupun hasil tidak dijamin.

Dari sisi teknikal, harga emas telah menembus resistance pertama di US$4.653 secara intraday, dan jika bertahan di atas level tersebut pada penutupan, potensi kenaikan harga menuju US$4.853 terbuka. Namun, support terdekat berada di US$4.454 dan US$4.383.

Harga emas digital pada 24 Agustus pagi tercatat berbeda di beberapa platform, seperti Rp2.674.685 per gram di Treasury, Rp2.632.000 di Pegadaian, dan Rp2.617.152 di Indogold, dipengaruhi oleh spread, premi, dan kebijakan masing-masing penyedia.

Secara makro, kenaikan harga emas juga didorong oleh keputusan Departemen Keuangan AS yang memperbesar pembelian kembali Treasury jangka panjang, yang memberikan sinyal kebijakan untuk menekan yield tenor panjang dan melemahkan dolar AS, sehingga mendukung harga emas sebagai instrumen lindung nilai.

Kevin Warsh, mantan pimpinan The Fed, mengatakan, "Kenaikan biaya pinjaman jangka panjang berfungsi memperketat kondisi finansial, tetapi intervensi Treasury yang meningkatkan pembelian kembali surat utang membantu memperbaiki likuiditas segmen yang tertekan." Hal ini menunjukkan keterlibatan pemerintah dalam mengelola biaya pembiayaan jangka panjang.

Perubahan struktural juga terlihat dari meningkatnya porsi emas dalam cadangan bank sentral global yang mencapai sekitar 26,3% dibandingkan 20,2% untuk US Treasuries. Survei World Gold Council memperkirakan 89% responden bank sentral akan meningkatkan cadangan emas dalam 12 bulan ke depan, menandakan emas semakin dipandang sebagai aset moneter penting.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed