Harga Karet Dunia Melorot Jadi 220,80 Sen AS per Kilogram Akibat Koreksi Pasar

Smallest Font
Largest Font

Harga karet dunia bergerak melorot ke level 220,80 sen AS per kilogram pada perdagangan Sabtu (23/5/2026). Penurunan tipis sebesar 0,54 persen dari hari sebelumnya ini dipengaruhi oleh dinamika pasar global serta koreksi teknis setelah komoditas perkebunan tersebut sempat menyentuh angka tertinggi beberapa waktu lalu.

Pergerakan nilai komoditas ini menjadi perhatian besar bagi para pelaku industri dan petani lokal karena secara langsung memengaruhi daftar harga karet tingkat petani. Perubahan permintaan dari negara konsumen utama turut memicu fluktuasi perdagangan di bursa internasional.

Meskipun mengalami penurunan harian, kinerja harga karet secara umum masih menunjukkan tren positif jika ditarik dalam rentang waktu yang lebih panjang. Sepanjang satu bulan terakhir, harga komoditas ini tercatat masih menguat sebesar 5,54 persen.

Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu, harga karet alam bahkan mengalami lonjakan signifikan mencapai 30,27 persen. Volatilitas ini menunjukkan bahwa fluktuasi harian merupakan bagian dari dinamika pasar komoditas global yang wajar terjadi.

Di kawasan Asia Tenggara, pergerakan harga komoditas ini bervariasi bergantung pada jenis dan standar mutu perdagangan masing-masing negara. Berdasarkan data resmi Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), berikut adalah rincian harga karet di wilayah ASEAN:

Daftar Harga Karet Berdasarkan Standar Wilayah ASEAN hari ini:
Asal Negara dan Jenis KaretHarga Resmi (Sen AS/Kg)
Thailand STR 20141,89
Thailand RSS 3160,65
Indonesia SIR 20140,70

Data di atas memperlihatkan bahwa karet jenis RSS 3 dari Thailand masih memimpin nilai perdagangan tertinggi di kawasan regional. Sementara itu, karet standar Indonesia SIR 20 bersaing ketat dengan jenis STR 20 milik Thailand dengan selisih yang relatif tipis.

Kenaikan Harga Karet Membuat Petani Berharap Tembus Target Baru | Banjarmasin Post News Video

Faktor Penyebab Harga Karet Naik Turun

Para analis pasar komoditas mencatat ada beberapa faktor kompleks yang menjadi penyebab harga karet naik turun di pasar internasional. Beberapa faktor utama yang memengaruhi pergerakan nilai komoditas karet meliputi:

  • Volume permintaan dari industri otomotif global, khususnya manufaktur ban kendaraan di China dan Amerika Serikat.
  • Pergerakan harga minyak mentah dunia, mengingat karet alam sering kali bersaing dengan produk karet sintetis berbasis minyak bumi.
  • Kondisi cuaca ekstrem di negara produsen utama yang mengganggu kelancaran proses penyadapan getah di perkebunan.
  • Kebijakan ekspor dan regulasi perdagangan yang diterapkan oleh negara-negara anggota produsen karet terbesar.
Harga komoditas dapat berfluktuasi sewaktu-waktu. Berbelanja dengan bijak dan pantau informasi harga resmi dari pemerintah.

Dalam sejarah perdagangannya, komoditas ini pernah mencatat rekor tertinggi sepanjang masa yang menyentuh angka 815,00 sen AS per kilogram pada Februari 2025 lalu. Sebaliknya, batas harga terendah dalam histori data jangka panjang sejak 1997 berada di level 115,00 sen AS per kilogram.

Kondisi Produktivitas dan Syarat Tumbuh Pohon Karet

Secara teknis budidaya, para petani sering kali menghadapi tantangan terkait dengan produktivitas lahan perkebunan mereka. Hingga saat ini, rata-rata produktivitas lahan perkebunan karet tergolong masih rendah, yaitu hanya berkisar di angka 300 kg per hektar dalam jangka waktu setahun.

Rendahnya hasil panen ini sering memicu pertanyaan di kalangan pengamat mengenai berapa hasil panen karet per hektar setahun yang ideal bagi kesejahteraan petani. Optimalisasi hasil panen tersebut sangat bergantung pada perawatan tanaman, penggunaan bibit unggul, serta kecocokan kondisi lingkungan geografis lahan.

Faktor alam memegang peranan krusial karena syarat tumbuh pohon karet sangat spesifik dan tidak bisa diabaikan. Tanaman penghasil getah ini hanya dapat tumbuh secara optimal di daerah tropis dengan tingkat kelembaban udara berkisar 80 persen serta suhu lingkungan di antara 20 hingga 34 derajat Celsius.

Mayoritas pasokan global saat ini dikuasai oleh negara-negara di kawasan Asia. Anggota ASEAN Rubber Business Council (ARBC) dilaporkan menyumbang sekitar 71 persen dari total jumlah produksi karet alam di seluruh dunia.

Produsen terbesar komoditas ini mencakup China, Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Selain negara-negara utama tersebut, pasokan dunia juga didukung oleh negara penghasil lain seperti Papua Nugini, Filipina, Singapura, Sri Lanka, Vietnam, Kamboja, dan India.

Berdasarkan model makro global Trading Economics dan ekspektasi para analis pasar, harga komoditas ini diperkirakan akan diperdagangkan pada level 223,88 sen AS per kilogram pada akhir kuartal ini. Lebih lanjut, harga karet diproyeksikan berpotensi merangkak naik mencapai 235,19 sen AS per kilogram dalam waktu 12 bulan ke depan.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed