Harga Minyak Dunia Brent Anjlok Jadi 86 Dolar AS Per Barel Pagi Ini

Smallest Font
Largest Font

Harga minyak dunia mencatatkan penurunan signifikan pada perdagangan hari ini, Sabtu (13/6/2026) pagi, menyusul menguatnya harapan kesepakatan geopolitik terbaru di kawasan Timur Tengah. Komoditas minyak mentah jenis Brent kini berada di posisi 86,71 dolar AS per barel setelah mengalami koreksi harian yang cukup tajam.

Berdasarkan data perdagangan komoditas terbaru, pelemahan ini dipicu oleh optimisme global terhadap perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Langkah diplomatik kedua negara tersebut membuka peluang besar bagi kelancaran arus distribusi energi di Selat Hormuz yang sebelumnya sempat menegang.

Harga Minyak Dunia Turun Signifikan Hari Ini | METRO TV

Detail Penurunan Harga Minyak Global

Penurunan harga komoditas energi ini terjadi secara serentak di pasar internasional. Kontrak minyak mentah Brent mencatat penurunan harian sebesar 4,06 persen, sementara komoditas Minyak Mentah (Crude Oil) turun 3,90 persen ke level 84,29 dolar AS per barel.

Koreksi ini menambah panjang tren penurunan harga energi sepanjang bulan ini, setelah sebelumnya sempat melonjak tinggi akibat eskalasi konflik. Meskipun melemah dalam beberapa hari terakhir, posisi harga saat ini secara akumulatif masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.

Perbandingan Kinerja Harga Energi Dunia

Dalam kurun waktu satu minggu terakhir, harga komoditas minyak dunia secara keseluruhan telah menyusut sekitar 6 persen. Kendati demikian, nilainya tercatat tetap lebih dari 20 persen lebih tinggi sejak peristiwa serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang terjadi pada 28 Februari lalu. Sebagai catatan historis, pergerakan harga komoditas strategis ini sempat menembus level tertinggi sepanjang masa.

Harga Minyak Mentah pernah mencapai rekor tertingginya di angka 410,45 dolar AS per barel pada Desember 2025 sebelum akhirnya berangsur melandai pada pertengahan tahun ini. Fluktuasi yang terjadi di pasar energi global tidak hanya berimbas pada minyak mentah, melainkan juga menekan produk turunannya seperti bensin dan minyak pemanas. Sebaliknya, komoditas gas alam justru menunjukkan arah pergerakan yang berbeda.

Berikut adalah rincian data perdagangan komoditas sektor energi global berdasarkan pencatatan resmi pasar pasar internasional terkini:

Tabel Data Perdagangan Komoditas Energi Global Per Juni 2026
Jenis KomoditasHarga Terkini (USD)Perubahan HarianPerubahan BulananPerubahan Tahunan
Minyak Mentah84,29-3,90%-16,56%15,50%
Brent86,71-4,06%-17,91%16,81%
Gas Alam3,141,68%9,60%-12,34%
Bensin3,04-1,98%-15,99%35,89%
Minyak Pemanas3,40-3,31%-14,36%42,60%

Faktor Sentimen Geopolitik AS dan Iran

Menurut data pasar komoditas yang dilansir dari Trading Economics, penurunan harga minyak hingga 3,2 persen pada beberapa sesi sebelumnya dipengaruhi secara langsung oleh meningkatnya harapan kesepakatan Amerika Serikat dan Iran terkait Selat Hormuz. Jalur laut ini merupakan salah satu urat nadi transportasi minyak terbesar di dunia.

Redanya ketegangan di Selat Hormuz memicu pelaku pasar untuk mengurangi aksi spekulasi, sehingga pasokan minyak global dinilai akan kembali stabil dalam jangka pendek. Dinamika ini berbanding terbalik dengan kondisi bulan lalu di mana kecemasan akan gangguan pasokan sempat melambungkan harga produk energi.

Selain komoditas minyak utama, pergerakan produk energi lain di pasar global juga menunjukkan pola volatilitas yang beragam sebagai berikut:

  • Harga bensin dunia berada di level 3,04 dolar AS dengan penurunan bulanan mencapai 15,99 persen.
  • Minyak pemanas bertengger di posisi 3,40 dolar AS, terkoreksi 14,36 persen dalam sebulan namun masih melesat 42,60 persen secara tahunan.
  • Gas alam menjadi satu-satunya yang menguat di level 3,14 dolar AS dengan kenaikan bulanan sebesar 9,60 persen.
Harga komoditas dapat berfluktuasi sewaktu-waktu. Berbelanja dengan bijak dan pantau informasi harga resmi dari pemerintah.

Penurunan harga minyak mentah ke kisaran 84 hingga 86 dolar AS per barel ini diharapkan dapat memberikan sentimen positif bagi negara-negara importir energi untuk meredam tekanan inflasi domestik. Pelaku pasar kini terus memantau realisasi kesepakatan diplomatik di Timur Tengah guna memastikan arah pergerakan harga komoditas pada pekan depan.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed