Harga Minyak Dunia Brent Turun ke 94 Dolar AS per Barel Akibat Pembukaan Selat Hormuz
Harga minyak dunia hari ini mencatatkan penurunan tajam hingga lebih dari 4 persen pada perdagangan Kamis (28/5/2026) seiring kembalinya stabilitas pasokan di Timur Tengah. Langkah pembukaan kembali jalur pelayaran strategis berhasil meredakan kekhawatiran global mengenai krisis pasokan energi yang sempat melambungkan nilai komoditas tersebut ke level tertinggi.
Berdasarkan data perdagangan kontrak untuk perbedaan atau Contract for Difference (CFD) yang dilansir dari Trading Economics dan Investing pada pekan ini, harga minyak mentah Brent merosot ke kisaran 94,94 USD hingga 94,96 USD per barel. Komoditas acuan internasional ini mencatatkan penurunan harian yang cukup signifikan berkisar antara 4,64 persen hingga 4,66 persen.
Koreksi serupa juga melanda varian minyak mentah West Texas Intermediate atau WTI. Harga minyak mentah WTI terbaru dilaporkan jatuh ke level 89,36 USD hingga 89,40 USD per barel, atau mengalami penurunan harian mencapai 4,78 persen hingga 4,82 persen dari sesi perdagangan sebelumnya.
Sinyal penurunan ini sebenarnya sudah mulai terkonfirmasi sejak dua hari lalu. Pada data perdagangan per 26 Mei 2026, Brent bertengger di level 99,35 USD per barel setelah turun 4,05 persen, sementara WTI berada di angka 93,38 USD per barel dengan penurunan sebesar 3,34 persen.
Penurunan harga minyak mentah ikut menyeret turun sejumlah produk turunannya di pasar berjangka internasional. Berikut adalah rincian performa harga komoditas energi berdasarkan data pasar terbaru:
| Jenis Komoditas | Harga Terkini (USD) | Perubahan Harian (%) | Perubahan Bulanan (%) | Perubahan Tahunan (%) |
|---|---|---|---|---|
| Minyak Mentah WTI | 89,40 | -4,82 | -10,58 | +44,57 |
| Minyak Mentah Brent | 94,94 | -4,66 | -9,07 | +47,63 |
| Bensin | 3,15 | -2,19 | -8,09 | +50,28 |
| Minyak Pemanas | 3,60 | -2,97 | -7,41 | +73,09 |
| Gas Alam | 3,08 | +2,49 | +14,64 | -13,28 |
| Etanol | 1,98 | -1,49 | – | – |
Meskipun performa bulanan menunjukkan tren koreksi yang berkisar antara 9 hingga 10 persen, nilai komoditas minyak global saat ini sejatinya masih jauh lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. Secara tahunan, harga minyak Brent masih tercatat 47 persen lebih tinggi, sementara WTI surplus hingga 44 persen.
Faktor Pembukaan Selat Hormuz dan Redamnya Ketegangan
Analis pasar modal menyebutkan bahwa sentimen utama yang menggerakkan pasar adalah perkembangan konflik Iran AS pasar energi yang mulai memasuki babak rekonsiliasi. Pemulihan arus lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz menjadi katalis utama runtuhnya premium risiko yang sebelumnya mengerek harga minyak.
Sebelumnya, pelaku pasar sempat mengkhawatirkan dampak perang Iran terhadap harga minyak yang bisa menembus angka psikologis baru akibat kehancuran infrastruktur. Laporan dari CNBC Indonesia menyebutkan bahwa konflik yang berlangsung selama tiga bulan tersebut telah menghancurkan puluhan kilang dan gudang penyimpanan energi di wilayah konflik.
Ketika akses pelayaran terganggu, muncul pertanyaan dari pelaku industri mengenai "selat hormuz ditutup pengaruhnya apa" terhadap inflasi global. Pejabat Federal Reserve, Logan, sempat memperingatkan bahwa dunia mungkin perlu mengurangi konsumsi energi secara drastis jika jalur pasokan utama tersebut tetap terisolasi dalam jangka waktu lama.
Kini, dengan dibukanya kembali jalur pelayaran tersebut sejak dua minggu terakhir, pasokan minyak mentah kembali mengalir lancar ke negara-negara konsumen utama di Asia dan Eropa. Ekspektasi melimpahnya kembali stok di pasar fisik membuat para spekulan melepas posisi beli mereka pada kontrak berjangka.
Dampak terhadap Kebijakan Bahan Bakar Nasional
Di dalam negeri, fluktuasi harga minyak mentah global ini terus mendapat pemantauan ketat dari pemerintah. Lonjakan harga yang sempat terjadi beberapa waktu lalu menimbulkan spekulasi dan pertanyaan di masyarakat mengenai "kenapa bbm bersubsidi tidak naik lebaran 2026" kemarin.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam keterangan resminya melalui laman Kementerian ESDM menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen menjaga stabilitas daya beli masyarakat. Pemerintah memastikan tidak ada kenaikan harga BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar demi menjaga momentum pemulihan ekonomi nasional.
Langkah penahanan harga tersebut didukung oleh kondisi ketahanan energi domestik yang solid. Pertamina bersama Kementerian ESDM terus memastikan kecukupan stok bbm nasional menjelang idul fitri 2026 yang lalu, sehingga tidak terjadi kelangkaan di jalur-jalur mudik utama meskipun tensi geopolitik global saat itu sedang memuncak.
Informasi harga komoditas ini merupakan dinamika pasar global yang dapat berfluktuasi sewaktu-waktu. Berbelanja dengan bijak dan pantau informasi harga resmi dari pemerintah.
Penurunan harga minyak ke level di bawah 95 USD per barel ini diharapkan dapat mengurangi beban subsidi energi pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk kuartal kedua tahun ini. Pemerintah dan badan usaha terkait kini berfokus pada strategi pengelolaan cadangan minyak mentah nasional guna mengantisipasi volatilidad lanjutan di paruh kedua tahun berjalan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow