Harga Minyak Dunia Melonjak Imbas Eskalasi Militer Amerika Serikat dan Iran
Harga minyak dunia melonjak signifikan pada perdagangan hari Jumat, 10 Juli 2026. Kenaikan tajam ini dipicu oleh pecahnya konflik militer terbuka antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di kawasan strategis Teluk sejak beberapa hari terakhir.
Eskalasi bersenjata yang melibatkan serangan udara dan pembalasan rudal tersebut langsung memicu kekhawatiran global terhadap gangguan pasokan energi. Para pelaku pasar minyak mentah merespons situasi ini dengan melakukan aksi beli yang mendorong harga ke level tertinggi baru.
Berdasarkan data perdagangan komoditas terbaru, ketegangan geopolitik di Timur Tengah merusak sentimen pasar yang sebelumnya sempat tenang. Sentimen positif dari perundingan interim pada Juni 2026 yang sempat menekan harga minyak mentah Brent ke kisaran 72 dolar AS per barel kini sepenuhnya sirna.
Laporan dari pasar menunjukkan bahwa ketegangan bersenjata berdurasi dua hari berturut-turut telah membalikkan tren harga komoditas energi secara drastis dalam waktu semalam.
Pergerakan Harga Minyak Mentah Brent dan WTI
Pada sesi perdagangan sebelumnya di pasar global, harga minyak mentah Brent sempat melemah tipis pada perdagangan awal Eropa hari Kamis, 9 Juli 2026. Namun, situasi berubah cepat seiring meluasnya laporan serangan balasan dari pihak Iran.
Mengutip laporan keuangan CNBC, minyak mentah Brent untuk kontrak pengiriman September sempat berada di level 77,73 dollar AS (sekitar Rp1,40 juta dengan kurs Rp18.066) per barel, sebelum akhirnya ditutup melonjak hingga 5,9 persen ke level 78,55 atau 78,66 dolar AS per barel. Bahkan, harga Brent sempat menembus level psikologis 80 dolar AS per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kontrak pengiriman Agustus juga mencatatkan lonjakan serupa. Setelah sempat berada di 73,40 dollar AS (sekitar Rp1,32 juta) per barel, harga WTI naik 54 sen atau melonjak hingga 5,1 persen intraday menuju level 74,05 atau 74,06 dolar AS per barel, setelah sempat menembus level 75 dolar AS per barel.
Berikut adalah perbandingan pergerakan harga minyak mentah dunia berdasarkan data perdagangan terbaru:
| Jenis Minyak Kontrak | Harga Awal Eropa (USD) | Harga Penutupan/Tertinggi (USD) | Persentase Kenaikan Maksimal |
|---|---|---|---|
| Brent (September) | 77,73 | 78,55 / 78,66 | 5,9% |
| WTI (Agustus) | 73,40 | 74,05 / 74,06 | 5,1% |
Kronologi Konflik Berskala Besar AS-Iran
Lonjakan harga komoditas ini merupakan dampak langsung dari kontak senjata intensif yang bermula pada Selasa, 7 Juli 2026 malam. Saat itu, militer Amerika Serikat meluncurkan serangan gelombang pertama yang menargetkan wilayah pesisir Hormozgan dan Mahshahr di Iran.
Operasi militer AS tersebut menyasar lebih dari 80 target strategis. Target-target tersebut mencakup sistem pertahanan udara, jaringan komando, radar pantai, kemampuan rudal antikapal, serta lebih dari 60 kapal kecil milik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Serangan Hari Kedua dan Balasan Iran
Konflik kian memanas pada Rabu, 8 Juli 2026 ketika AS kembali meluncurkan serangan hari kedua ke wilayah Iran. Pihak Iran tidak tinggal diam dan langsung membalas dengan menyerang 85 instalasi militer AS yang berada di kawasan Teluk.
Serangan balasan Iran tersebut menggunakan kombinasi rudal dan drone yang diarahkan ke pangkalan-pangkalan penting AS, termasuk Pangkalan Armada ke-5 di Pelabuhan Salman (Bahrain) dan Pangkalan Udara Ali Al Salem (Kuwait). Kementerian Kesehatan Iran melaporkan bahwa rangkaian serangan militer selama dua hari tersebut telah menewaskan 14 orang dan menyebabkan 78 orang luka-luka.
Pencabutan Keringanan Sanksi dan Dampak Pasar Energi
Selain aksi militer di lapangan, ketegangan ini diperparah oleh langkah diplomasi keras dari Washington. Departemen Keuangan AS secara resmi mencabut kembali keringanan sanksi (waiver) perdagangan minyak mentah yang sebelumnya diberikan kepada Iran.
Keringanan sanksi yang menjadi bagian dari kesepakatan damai sementara tersebut tercatat hanya berjalan selama kurang lebih 60 hari sebelum akhirnya dibatalkan. Keputusan ini secara otomatis memangkas potensi pasokan minyak mentah sah dari Iran ke pasar internasional.
Kondisi ini juga memberikan sentimen positif bagi emiten sektor energi di pasar modal global. Dana pemodal bersama berbasis saham energi (ETF XLE) mengalami kenaikan sebesar 1,76 persen ke level 55,60 dolar AS akibat sentimen konflik ini, meskipun secara keseluruhan nilainya masih mencatat penurunan sebesar 12,6 persen dalam tiga bulan terakhir.
Harga komoditas dapat berfluktuasi sewaktu-waktu. Berbelanja dengan bijak dan pantau informasi harga resmi dari pemerintah.
Hingga saat ini, situasi keamanan di jalur perdagangan laut Selat Hormuz masih berada dalam status waspada tinggi, dengan potensi eskalasi lanjutan yang terus dipantau oleh para pelaku pasar energi global.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow