Harga Minyak Dunia Turun Tipis ke Level 84 Dollar AS akibat Konflik Militer di Iran
Harga minyak mentah dunia bergerak turun tipis pada perdagangan yang berakhir Jumat, 18 Juli 2026 pagi WIB. Penurunan komoditas energi ini terjadi setelah sempat melonjak tajam sepanjang pekan akibat ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran.
Berdasarkan data perdagangan komoditas, kontrak minyak mentah Brent untuk pengiriman September ditutup melemah 72 sen atau sekitar 0,9 persen ke level 84,23 dollar AS per barel. Pelemahan ini menghentikan reli panjang yang sempat membawa Brent menyentuh level tertinggi sejak pertengahan Juni lalu.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate atau WTI untuk kontrak Agustus juga ditutup merosot 65 sen atau 0,8 persen menjadi 78,95 dollar AS per barel. Tekanan jual di pasar berjangka memicu koreksi teknis setelah komoditas energi ini mencatatkan kenaikan mingguan yang sangat signifikan.
Dinamika Perubahan Harga Minyak Mentah
Meskipun ditutup melemah pada akhir pekan ini, harga minyak dunia sebenarnya sempat melonjak lebih dari 11 persen sepanjang pekan berjalan. Pasar terus memantau dampak eskalasi geopolitik di Timur Tengah terhadap kelancaran distribusi energi global.
Perbandingan Harga Berdasarkan Data Pasar
Data dari Investing.com menunjukkan variasi pergerakan tipis pada penutupan pasar, di mana Brent sempat melemah 0,1 persen ke posisi USD 84,90 per barel. Pada perdagangan intraday hari Rabu sebelumnya, Brent berhasil menembus level tertinggi sejak 12 Juni 2026, sedangkan WTI mencapai posisi puncaknya sejak 15 Juni 2026.
Memasuki Jumat pagi, 17 Juli 2026, pasar spot mencatatkan pembukaan harga Brent di kisaran US$ 84,95 per barel. Pada saat yang sama, minyak mentah jenis WTI diperdagangkan pada kisaran US$ 79,55 per barel sebelum akhirnya menetap di level yang lebih rendah.
Estimasi Nilai dalam Mata Uang Rupiah
Penurunan harga minyak dunia ini turut memengaruhi proyeksi nilai keekonomian komoditas energi di dalam negeri. Berdasarkan kurs acuan jual konversi rupiah yang berada di level Rp18.015 per dolar AS pada 17 Juli 2026 pukul 08.05 WIB, nilai minyak mentah dunia dapat dikonversikan sebagai berikut:
| Jenis Minyak Mentah | Harga per Barel (USD) | Estimasi Harga per Barel (IDR) |
|---|---|---|
| Brent Crude (Kontrak September) | 84,23 | Rp1.530.574 |
| WTI Crude (Kontrak Agustus) | 78,95 | Rp1.433.093 |
Faktor Ketegangan Militer dan Jalur Pasokan Global
Penurunan tipis harga minyak hari ini tertahan oleh kekhawatiran pelaku pasar terhadap keamanan jalur pasokan global. Serangan militer Amerika Serikat terhadap infrastruktur di Iran memicu alarm kewaspadaan di kalangan pelaku industri minyak berjangka.
Dampak Serangan terhadap Infrastruktur Iran
Laporan dari lapangan menyebutkan bahwa serangan militer Amerika Serikat menyasar sejumlah infrastruktur penting di wilayah Iran hingga Kamis, 16 Juli 2026 malam. Kejadian ini menandai operasi militer yang terjadi selama lima malam berturut-turut.
Salah satu target spesifik dari serangan udara tersebut adalah jembatan yang menghubungkan wilayah Bandar Abbas dan Lar. Kerusakan pada akses transportasi ini memicu kekhawatiran terjadinya gangguan logistik pada pelabuhan-pelabuhan utama di sekitarnya.
Penyusutan Aktivitas di Selat Hormuz
Faktor utama yang menjaga harga minyak tetap berada di dekat level tertingginya adalah ancaman penutupan Selat Hormuz. Jalur perairan ini merupakan urat nadi distribusi energi yang sangat vital bagi pasokan minyak mentah dunia.
- Sebelum konflik bersenjata ini pecah, sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas alam cair dunia melintasi Selat Hormuz setiap harinya.
- Pemantauan dari lembaga Kpler menunjukkan transit minyak mentah dan kondensat yang melintasi Selat Hormuz turun signifikan sebesar 62 persen menjadi sekitar 4,1 juta barel per hari.
- Aktivitas pemuatan minyak di tingkat regional juga mengalami penyusutan hingga 47 persen akibat risiko keamanan yang meningkat.
Kondisi Jalur Alternatif dan Pasokan Negara Produsen
Di tengah kemerosotan aktivitas di Selat Hormuz, jalur pengiriman energi melalui Selat Bab el-Mandeb di Laut Merah justru mencatatkan tren yang berbeda. Pelaku pasar melihat adanya pengalihan rute guna menghindari zona konflik utama. Data dari lembaga Kpler mengungkapkan bahwa sekitar 7,4 juta barel minyak dan produk minyak melintasi Selat Bab el-Mandeb setiap hari pada Juni 2026.
Angka tersebut mencakup sekitar 7 persen dari total volume produksi minyak global dunia. Volume pengiriman di Laut Merah tersebut mengalami peningkatan yang cukup drastis jika dibandingkan dengan periode tahun lalu. Pada periode yang sama di tahun sebelumnya, volume perdagangan minyak di selat tersebut hanya berada di kisaran 4,2 juta barel per hari.
Di sisi lain, peningkatan pasokan dari negara produsen luar konflik turut meredam lonjakan harga yang lebih tinggi. Pengiriman minyak mentah dari Irak pada paruh pertama Juli 2026 dilaporkan meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi rata-rata sekitar 1,2 juta barel per hari.
Harga komoditas dapat berfluktuasi sewaktu-waktu. Berbelanja dengan bijak dan pantau informasi harga resmi dari pemerintah.
Hingga saat ini, pelaku pasar komoditas energi masih terus memantau perkembangan situasi di koridor laut Timur Tengah secara ketat. Pergerakan harga minyak mentah ke depan akan sangat bergantung pada intensitas konflik militer dan jaminan keamanan pada jalur-jalur pelayaran internasional.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow