Harga Minyak Mentah Dunia Anjlok Usai Perang AS Iran Mereda

Smallest Font
Largest Font

Sektor keuangan global dan pasar komoditas terpukul oleh gejolak konflik Timur Tengah, sebelum akhirnya harga minyak mentah merosot sekitar 5 persen pada perdagangan Senin (27/7). Penurunan terjadi setelah Amerika Serikat dan Iran menyepakati penghentian sementara aksi militer selama akhir pekan.

Tekanan pasar global sebelumnya sempat menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 1,88 persen ke level 6.195 pada akhir pekan. Selain menyeret saham teknologi akibat kekhawatiran belanja AI, investor asing mencatatkan aliran modal keluar mencapai US$118 juta dengan sektor energi dan properti sebagai penekan utama.

Perusahaan manajemen investasi Ashmore mengimbau para investor untuk mencermati dinamika Selat Hormuz, pergerakan harga minyak, serta arah kebijakan suku bunga The Fed. Investor disarankan mengalihkan fokus pada instrumen obligasi berpendapatan stabil dan saham-saham berkualitas tinggi.

Data perdagangan menunjukkan harga minyak mentah jenis Brent merosot US$4,89 atau 5,05 persen menjadi US$91,89 per barel, setelah sempat menembus ke bawah level psikologis US$90 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun US$4,67 atau 5,23 persen ke posisi US$84,64 per barel.

Pelemahan ini membawa kedua kontrak minyak ke harga terendah dalam hampir sepekan, menghentikan tren kenaikan selama tiga pekan berturut-turut. Sebelumnya, Brent sempat menyentuh level US$100 per barel akibat kemacetan distribusi di Selat Hormuz dan Laut Merah akibat serangan terhadap fasilitas minyak Arab Saudi.

Keputusan jeda militer diambil langsung oleh pihak otoritas AS demi memberi kesempatan pada proses perundingan.

"Harapan semakin besar bahwa jalur diplomatik yang nyata mulai terbuka," kata Analis pasar IG Tony Sycamore dalam sebuah catatan.

Ia menambahkan bahwa pemulihan memorandum of understanding (MOU) 14 poin terkait pengaturan navigasi di Selat Hormuz dapat menjadi modal awal yang positif bagi stabilitas kawasan.

Meski tensi militer mereda, lalu lintas pelayaran komoditas di Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb masih melambat. Data Kpler mencatat kurang dari 10 kapal pengangkut melintasi Selat Hormuz setiap hari sepanjang akhir pekan.

Proses pemulihan rute perdagangan diperkirakan memakan waktu karena pertimbangan keamanan.

"Harapan semakin besar bahwa jalur diplomatik yang nyata mulai terbuka," kata Analis MST Marquee Saul Kavonic.

Perusahaan pelayaran global dilaporkan masih menunggu jaminan keamanan yang pasti sebelum kembali mengirimkan armada kapal tanker kosong ke wilayah perairan tersebut.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed