Harga Minyak Dunia Anjlok Usai AS dan Iran Sepakat Tunda Serangan

Smallest Font
Largest Font

Harga minyak mentah dunia merosot hingga empat persen pada Senin (27/7/2026) setelah Amerika Serikat dan Iran menyepakati penundaan aksi militer. Keputusan penghentian gempuran tersebut langsung meredakan kekhawatiran pelaku pasar terkait potensi gangguan pasokan energi global dari kawasan Timur Tengah.

Koreksi tajam melanda dua minyak mentah acuan internasional pada sesi perdagangan tersebut. Patokan harga minyak mentah jenis Brent anjlok 3,96 dolar AS atau sekitar 4,1 persen ke tingkat 92,82 dolar AS per barel, setelah sempat menembus ke bawah batas 90 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal AS merosot 4,02 dolar AS atau 4,5 persen menjadi 85,29 dolar AS per barel.

Kesepakatan jeda serangan ini memberikan ruang aman bagi jalur pelayaran niaga vital di Selat Hormuz yang sebelumnya terancam lumpuh akibat eskalasi militer selama dua pekan. Sebelum penundaan militer tercapai, konflik bersenjata sempat mendorong kenaikan harga minyak Brent hingga menyentuh angka US$ 100 per barel pada perdagangan Kamis (23/7/2026).

Data Organisasi Maritim Internasional (IMO) mencatat sebanyak 61 kapal dagang diserang di kawasan Teluk Persia, Selat Hormuz, dan Teluk Oman sejak 1 Maret. Rangkaian insiden keamanan tersebut mengakibatkan 17 pelaut tewas serta puluhan lainnya mengalami luka-luka.

Pihak Marisks menilai bahwa serangan terhadap kapal tanker merupakan bagian dari perang ekonomi untuk membatasi sumber daya lawan. Iran tercatat meningkatkan intensitas serangan di sekitar Selat Hormuz sepanjang bulan ini, sedangkan kelompok Houthi di Yaman menembaki dua kapal tanker Arab Saudi di Laut Merah.

"Iran dan Houthi bersama-sama kini memberikan pukulan yang sangat signifikan terhadap kepentingan nasional Amerika, perusahaan minyak Amerika, dan tentu saja Arab Saudi. Namun mereka tidak berhasil sepenuhnya menekan ekspor," kata Dimitris Maniatis, CEO Marisks.

Selain ketegangan di Timur Tengah, dinamika pasar komoditas energi global juga dipengaruhi oleh eskalasi konflik antara Rusia dan Ukraina. Ukraina mengklaim telah menargetkan lebih dari 150 kapal terkait armada bayangan Rusia di wilayah Laut Azov dan Laut Hitam.

"Pasar minyak saat ini sedang menghadapi perang di berbagai lini," kata Helima Croft, kepala strategi komoditas global.

Kondisi pasar kian tertekan akibat kebijakan pembatasan pengiriman komoditas energi yang diberlakukan oleh pemerintah Rusia.

"Rusia kini telah memberlakukan larangan ekspor produk dan kilang-kilang mereka telah terpukul sangat parah oleh Ukraina. Rusia adalah salah satu pengekspor produk terbesar, salah satu pengekspor diesel terbesar. Hal ini benar-benar memperketat pasar produk serta pasar minyak mentah," kata Croft.

Meredanya aksi militer antara AS dan Iran kini membuka peluang diplomasi untuk memulihkan keamanan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed