Harga Nikel Dunia Naik Tipis Menjadi US$ 18.707 per Ton Pagi Ini
Harga nikel berjangka global bergerak menguat tipis ke level US$ 18.707,38 per ton pada perdagangan Selasa (26/5/2026) pagi. Komoditas logam dasar ini mencatatkan kenaikan sebesar 0,15 persen dibandingkan dengan posisi penutupan pada hari sebelumnya.
Berdasarkan data perdagangan komoditas terbaru, pergerakan harga nikel hari ini merefleksikan pemulihan secara bertahap setelah sempat menyentuh level terendah dalam empat minggu terakhir di posisi US$ 18.555 per ton pada pertengahan Mei. Pergerakan pasar saat ini dipengaruhi oleh dinamika pasokan serta munculnya sinyal perubahan biaya produksi global.
Meskipun mengalami penguatan harian, performa nikel dalam rentang satu bulan terakhir tercatat masih membukukan penurunan sebesar 2,26 persen. Namun, jika dibandingkan dengan posisi pada periode yang sama tahun lalu, harga nikel saat ini masih jauh lebih tinggi dengan akumulasi kenaikan mencapai 21,63 persen.
Dinamika harga komoditas tambang ini terus bergerak fluktuatif jika ditinjau dari rekam jejak historis jangka panjang. Sebagai pembanding, tingkat harga tertinggi sepanjang masa atau all-time high untuk komoditas nikel berada di level US$ 54.050 per metrik ton yang sempat tercapai pada Mei 2007 silam, sedangkan titik terendahnya berada pada posisi US$ 3.730,50 per metrik ton dalam rentang data tahun 1993 hingga 2026.
Sebelum adanya laporan mengenai penyesuaian volume produksi dari negara produsen utama, sejumlah survei pasar telah memetakan perkiraan nilai rata-rata nikel untuk tahun 2026. Proyeksi tersebut mencakup angka rata-rata, nilai tengah, serta batas estimasi tertinggi dan terendah sebagaimana terangkum dalam data berikut:
| Indikator Proyeksi | Nilai (US$ per Ton) |
|---|---|
| Rata-rata | 15.857 |
| Median (Nilai Tengah) | 15.755 |
| Estimasi Tertinggi | 18.000 |
| Estimasi Terendah | 14.193 |
Data dari bursa komoditas menunjukkan bahwa pergerakan harga saat ini dipengaruhi kuat oleh aksi ambil untung oleh para pelaku pasar. Di sisi lain, penurunan biaya produksi secara umum turut menahan laju kenaikan harga agar tidak melonjak terlalu agresif di pasar internasional.
Dampak Kebijakan Produksi dan Kuota Indonesia
Faktor utama yang menjadi perhatian para pelaku pasar global saat ini adalah kebijakan operasional di Indonesia. Indonesia memegang peran yang sangat krusial dalam rantai pasok global karena memproduksi lebih dari 50 persen dari total output nikel di seluruh dunia dengan dukungan investasi besar dari korporasi Cina.
Pergerakan harga mendapatkan sentimen positif menyusul adanya langkah strategis dari pemerintah. Pemerintah Indonesia mengusulkan pengurangan volume produksi nikel sebesar 34 persen dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya atau RKAB untuk periode tahun 2026.
Langkah pengetatan kuota produksi ini diprediksi dapat mengurangi potensi banjir pasokan di pasar internasional yang sempat menekan harga pada periode-periode sebelumnya. Kebijakan pembatasan pasokan dari tanah air ini langsung direspons oleh pasar sebagai sinyal pengetatan suplai global.
Kondisi Operasional Sektor Hulu
Selain faktor regulasi kuota nasional, kondisi teknis di lapangan juga ikut memengaruhi volume ketersediaan barang. Berdasarkan laporan operasional industri, sekitar 10 persen hingga 15 persen dari total kapasitas produksi high-grade nickel pig iron atau NPI di kawasan Weda Bay Industrial Park dijadwalkan akan menjalani pemeliharaan rotasi dalam waktu dekat.
Proses pemeliharaan fasilitas pemurnian tersebut dipastikan akan menurunkan volume output NPI secara temporer. Hal ini memicu kekhawatiran jangka pendek terkait ketersediaan pasokan fisik nikel kadar tinggi di pasar, sehingga mendorong para pembeli untuk melakukan akumulasi posisi.
Harga komoditas dapat berfluktuasi sewaktu-waktu. Berbelanja dengan bijak dan pantau informasi harga resmi dari pemerintah.
Para pelaku industri saat ini terus memantau realisasi implementasi RKAB dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral serta tingkat permintaan dari sektor industri pembuatan baja tahan karat dan baterai kendaraan listrik global. Penyeimbangan antara volume produksi Indonesia dan serapan pasar dunia akan menjadi faktor penentu utama arah pergerakan harga nikel pada kuartal berikutnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow