Harga Nikel Turun ke Level 16248 USD per Metrik Ton Pagi Ini
Harga nikel dunia mengalami penurunan ke level 16.248,38 USD per metrik ton pada perdagangan Kamis, 2 Juli 2026. Penurunan sebesar 0,86 persen dari hari sebelumnya ini dipicu oleh rencana Indonesia meningkatkan kuota produksi tambang.
Kondisi pasar komoditas global menunjukkan bahwa kebijakan perluasan produksi domestik tersebut langsung menekan pergerakan harga di Bursa Logam London atau London Metal Exchange. Nilai transaksi saat ini tercatat mendekati level terendah sejak akhir Desember lalu.
Harga komoditas dapat berfluktuasi sewaktu-waktu. Berbelanja dengan bijak dan pantau informasi harga resmi dari pemerintah.
Analisis Penurunan Nilai Komoditas Nikel
Penurunan harga nikel hari ini memperpanjang tren koreksi yang terjadi sepanjang sebulan terakhir. Berdasarkan data perdagangan terbaru, harga nikel komoditas berjangka telah menyusut sebesar 13,66 persen dalam waktu satu bulan ke belakang.
Meskipun demikian, jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu, posisi harga saat ini sebenarnya masih tercatat 5,82 persen lebih tinggi. Pelaku pasar terus memantau dinamika pasokan global yang berpusat di kawasan Asia Tenggara.
Sebelumnya, pada perdagangan Rabu, 1 Juli 2026, harga nikel sempat mencatatkan kenaikan tipis ke posisi 16.390 USD per ton. Penguatan harian sebesar 0,49 persen tersebut terbukti tidak bertahan lama setelah sentimen kelebihan pasokan kembali mendominasi pasar.
Tren Kontrak Tiga Bulan di Bursa Logam
Mundur ke belakang pada akhir Juni, harga komoditas nikel untuk kontrak tiga bulan ke depan di bursa LME ditutup melemah pada angka US$16.405 per ton pada 30 Juni 2026. Nilai ini melorot dari hari sebelumnya yang berada di angka US$16.640 per ton.
Pergerakan harga kontrak tiga bulan tersebut tumbuh negatif 7,73 persen dalam seminggu terakhir Juni 2026. Adapun rata-rata nilai transaksi harian yang tercatat di bursa mencapai kisaran US$16,93 ribu per ton.
Sepanjang tahun berjalan hingga pertengahan 2026, nilai kontrak komoditas ini sudah menyusut sebesar 3,02 persen dari posisi awal tahun yang dibuka senilai US$16.915 per ton. Angka ini juga merefleksikan penurunan sebesar 16,62 persen dari harga tertingginya tahun ini.
Data historis menunjukkan bahwa pergerakan harga nikel sangat volatil dalam beberapa tahun terakhir. Pada awal tahun 2025, komoditas ini sempat dibuka pada nilai US$15.078 per metrik ton, yang menjadi titik terendah sejak periode 2020 menurut S&P Global.
Sebagai perbandingan, rata-rata harga sepanjang tahun 2024 tercatat sebesar US$15.328 per metrik ton, atau mengalami penurunan sebesar 7,7 persen dari tahun sebelumnya. Perubahan regulasi dan kapasitas fasilitas pengolahan sangat memengaruhi stabilitas nilai jual komoditas tersebut.
Berikut adalah rincian performa nilai transaksi nikel berdasarkan catatan data perdagangan komoditas dalam beberapa periode terakhir:
| Periode Transaksi | Nilai Komoditas (USD/MT) | Persentase Perubahan |
|---|---|---|
| Kamis, 2 Juli 2026 | 16.248,38 | -0,86% (Harian) |
| Rabu, 1 Juli 2026 | 16.390,00 | +0,49% (Harian) |
| Selasa, 30 Juni 2026 | 16.405,00 | -1,41% (Harian) |
| Rata-rata Mei 2026 | 19.010,00 | Tinggi Bulanan |
| Awal Tahun 2026 | 16.915,00 | Posisi Pembukaan |
Rekor Tertinggi dan Terendah Sepanjang Masa
Dalam rentang data panjang dari tahun 1993 hingga 2026, komoditas nikel pernah mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa. Rekor tersebut berada pada level 54.050 USD per metrik ton yang berhasil disentuh pada bulan Mei tahun 2007.
Sebaliknya, catatan harga terendah komoditas ini berada di angka 3.730,50 USD per metrik ton dalam rentang sejarah perdagangan yang sama. Kontrak standar nikel berjangka di Bursa Logam London sendiri memiliki berat total 6 ton per lot perdagangan.
Proyeksi Nilai Jual Kuartal Berikutnya
Meskipun pasar saat ini sedang mengalami tekanan akibat sentimen pasokan dari Indonesia, sejumlah analisis memperkirakan adanya potensi pemulihan harga secara bertahap pada sisa tahun ini. Permintaan industri hilir dinilai akan menjadi penopang utama jangka panjang.
Nikel diperkirakan akan diperdagangkan pada level 17.473,84 USD per metrik ton pada akhir kuartal berjalan ini. Estimasi pasar dalam jangka menengah menunjukkan nilai komoditas ini berpotensi mencapai 18.169,57 USD per metrik ton dalam waktu 12 bulan ke depan.
Kondisi regulasi kuota tambang domestik dan penyerapan industri baterai global tetap menjadi faktor kunci yang menentukan apakah target harga tersebut dapat terealisasi sesuai proyeksi pasar.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow