Harga Nikel Berfluktuasi Tipis di Kisaran 16360 Dolar AS per Ton akibat Tekanan Pasar EV Global

Smallest Font
Largest Font

Harga nikel global bergerak fluktuatif di kisaran 16.360 dolar AS per ton pada perdagangan Rabu, 8 Juli 2026, akibat melemahnya permintaan dari industri kendaraan listrik dunia. Kondisi ini memperpanjang tren konsolidasi setelah komoditas logam tersebut sempat jatuh ke level terendah 16.300 dolar AS per ton pada awal bulan.

Pergerakan harga saat ini sangat kontras dengan situasi pada Mei 2026 lalu, ketika harga nikel sempat meroket tajam hingga mencapai level tertinggi dalam dua tahun terakhir. Lonjakan harga pada dua bulan lalu itu dipicu oleh kebijakan pembatasan kuota produksi tambang yang diberlakukan oleh pemerintah Indonesia selaku produsen utama.

Penurunan daya serap pasar terhadap komoditas nikel saat ini dipengaruhi kuat oleh melambatnya adopsi kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) di tingkat global. Industri hilir hilir yang diharapkan menjadi motor penggerak utama permintaan nikel ternyata tidak tumbuh seprogresif tahun sebelumnya.

Berdasarkan data riset Benchmark Mineral Intelligence (BMI), penjualan kendaraan listrik secara global sepanjang periode Januari hingga Mei 2026 tercatat hanya tumbuh sekitar 0,9% secara year-on-year (yoy). Angka pertumbuhan tersebut merosot drastis jika dibandingkan dengan capaian sepanjang tahun 2025 yang mampu menembus pertumbuhan sekitar 20%.

Meskipun pasar global tengah lesu, Indonesia tetap memegang posisi strategis yang sangat krusial dalam peta komoditas internasional. Sebagaimana dilaporkan dalam data industri tahun 2026, Indonesia menguasai cadangan nikel terbesar di dunia yang diperkirakan mencapai 62 juta ton atau setara dengan 44,3% dari total cadangan global.

Tantangan Biaya Produksi Smelter HPAL Domestik

Di dalam negeri, operasional pabrik pengolahan nikel dengan teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL) juga menghadapi tantangan berat akibat lonjakan harga bahan baku pendukung. Pabrik HPAL di Indonesia yang menghasilkan mixed hydroxide precipitate (MHP) terpaksa melakukan penyesuaian kapasitas produksi akibat dinamika ini.

Riset dari Shanghai Metals Market (SMM) menunjukkan bahwa volume produksi nikel MHP dari smelter hidrometalurgi di Indonesia menyusut menjadi 29.900 metrik ton (mt) nikel pada Juni 2026. Angka produksi ini turun signifikan dari masa puncaknya yang sempat menyentuh 42.000 mt nikel pada Januari 2026.

Penurunan output MHP ini merupakan imbas langsung dari lonjakan harga sulfur global, yang menjadi komponen kimia utama dalam proses pengolahan HPAL. Hubungan antara kebutuhan sulfur dan hasil produksi MHP dapat dilihat pada rincian teknis di bawah ini:

  • Rasio produksi membutuhkan sekitar 10 hingga 12 ton sulfur untuk menghasilkan 1 ton MHP.
  • Tingginya ketergantungan menyebabkan pasokan dalam negeri sangat sensitif terhadap gejolak harga internasional.
  • Indonesia saat ini masih harus memenuhi sekitar 75% kebutuhan sulfur domestik melalui skema impor.

Data ekspor-impor menunjukkan Indonesia telah mengimpor sekitar 1,23 juta ton sulfur selama periode Januari hingga April 2026, dengan proyeksi impor pada bulan Mei 2026 mencapai 350.000 ton. Selain sulfur mentah, volume impor asam sulfat Indonesia sepanjang periode Januari hingga Mei 2026 juga tercatat berada di angka 449.000 ton.

Harga Nikel Dunia Melonjak karena Kuota Produksi Tambang Nikel Dipangkas | CNBC Indonesia

Dampak Konflik Geopolitik Terhadap Harga Bahan Baku

Lonjakan harga sulfur dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya blokade wilayah perairan yang berlangsung selama 3,5 bulan akibat perang antara Iran dan Amerika Serikat. Wilayah Timur Tengah sendiri berkontribusi terhadap 25% produksi sulfur global, di mana 45% jalur perdagangannya harus melewati Selat Hormuz.

Selama masa pemblokiran selat tersebut, volume sulfur yang berhasil terkirim hanya mencapai 80.000 mt, sehingga mengakibatkan penumpukan kargo sebesar 800.000 hingga 1 juta mt di Teluk Persia. Menurut data SMM, setelah jalur laut tersebut dibuka kembali, baru sekitar 640.000 mt sulfur yang berhasil keluar dari kawasan konflik.

Kondisi logistik yang tersumbat ini membuat harga sulfur meroket lebih dari 126% sepanjang semester pertama tahun 2026. Pada awal tahun, harga komoditas ini masih berada di kisaran 563 dolar AS per mt, namun harga acuan sulfur yang tiba di pelabuhan Indonesia sempat menyentuh level 1.250 hingga 1.300 dolar AS per mt pada 10 Juni 2026, sebelum akhirnya melandai ke tingkat 1.100 hingga 1.200 dolar AS per mt pada akhir Juni.

Daftar Harga dan Parameter Industri Nikel 2026

Berikut adalah tabel ringkasan pergerakan harga komoditas utama dan indikator industri nikel yang tercatat hingga periode Juli 2026:

Tabel 1: Data Pergerakan Harga Komoditas dan Volume Industri Semester I-2026
Indikator Komoditas / IndustriNilai / Harga Awal TahunNilai / Harga Kuartal II / Juli 2026
Harga Nikel Global (per Ton)16.360 dolar AS
Pertumbuhan Penjualan EV Global (yoy)20% (Sepanjang 2025)0,9% (Januari–Mei 2026)
Produksi MHP Smelter Indonesia (Mmt)42.000 mt (Januari)29.900 mt (Juni)
Harga Sulfur Internasional (per mt)563 dolar AS1.100–1.200 dolar AS
Total Impor Asam Sulfat Indonesia449.000 ton (Januari–Mei)

Di tengah volatilitas harga komoditas global, komitmen investasi jangka panjang pada sektor hilirisasi nikel tanah air tetap berjalan di bawah pengawasan regulasi ketat pemerintah. Salah satu proyek strategis yang terus dipantau adalah operasional smelter bijih nikel PT Gunbuster Nickel Industry (GNI) yang berlokasi di Sulawesi.

Smelter yang sudah dibangun sejak tahun 2019 tersebut diresmikan pada 27 Desember 2021 dengan total nilai investasi yang ditanamkan mencapai sekitar 2,7 miliar dolar AS. Proyek hilirisasi skala besar ini secara resmi masuk ke dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) yang diatur berdasarkan Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 7 Tahun 2021.

Harga komoditas dapat berfluktuasi sewaktu-waktu. Berbelanja dengan bijak dan pantau informasi harga resmi dari pemerintah.

Hingga saat ini pelaku industri hilir nikel nasional masih mencermati perkembangan pemulihan rantai pasok sulfur global serta realisasi kuota tambang domestik untuk menjaga stabilitas margin usaha di paruh kedua tahun ini.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed