Harga Nikel Hari Ini Melemah ke Level US$ 16.651 per Ton
Harga nikel hari ini, Selasa, 30 Juni 2026, ditutup melemah di level US$ 16.651 per ton di bursa London Metal Exchange (LME) akibat tekanan surplus pasokan global yang terus berlanjut. Penurunan harian sebesar 0,93 persen ini membawa harga komoditas logam tersebut kian mendekati level terendah sejak akhir Desember 2025.
Koreksi harga nikel hari ini memperpanjang tren negatif yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Berdasarkan data perdagangan bursa global, dalam sepekan terakhir harga nikel telah anjlok sebesar 5,95 persen, sementara akumulasi penurunan dalam satu bulan ke belakang mencapai 11,04 persen dari posisi sebelumnya yang sempat bertahan di kisaran US$ 16.805 per ton.
Harga komoditas dapat berfluktuasi sewaktu-waktu. Berbelanja dengan bijak dan pantau informasi harga resmi dari pemerintah.
Penyebab Harga Nikel Turun di Pasar Global
Faktor utama penyebab harga nikel turun dipicu oleh kondisi kelebihan pasokan (surplus) yang belum terserap sepenuhnya oleh industri hilir. Transaksi di pasar fisik dilaporkan lesu akibat penurunan aktivitas pengadaan dari produsen prekursor dan komponen baterai di sektor global.
Sentimen Pasar Nikel Sulfat dan Shanghai Futures Exchange
Kelesuan ini juga tercermin pada komoditas turunannya seperti nikel sulfat kelas baterai yang mencatatkan penurunan harga rata-rata SMM. Berdasarkan data tinjauan pasar, faktor sentimen keinginan menjual di sisi hulu berada di angka 1,8, sementara faktor sentimen pengadaan prekursor hilir berada di level 2,5, dan sentimen perusahaan terintegrasi tercatat sebesar 2,4.
Tidak hanya di bursa London, tekanan jual juga melanda bursa regional Shanghai Futures Exchange (SHFE). Perdagangan nikel di SHFE terkoreksi signifikan sebesar 2,46 persen, yang turut menyeret harga produk hilir seperti baja tahan karat (stainless steel) turun sebesar 2,45 persen.
Dampak Harga Nikel Anjlok dan Prospek Saham Tambang
Penurunan harga nikel dunia memberikan sentimen campuran terhadap kinerja emiten komoditas dan prospek industri nikel indonesia secara keseluruhan. Kendati harga global tertekan, sejumlah emiten dalam negeri masih mencatatkan volume produksi yang kuat pada awal tahun ini.
Kinerja Keuangan Emiten dan Perbandingan Logam Industri
Sebagai gambaran, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) melaporkan pendapatan sebesar US$ 455 juta pada kuartal pertama tahun 2026. Angka tersebut mencerminkan penurunan sebesar 9 persen secara kuartalan (QoQ), namun masih tumbuh 24 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu (YoY) berkat volume produksi bijih nikel yang lebih tinggi.
Di sisi lain, pergerakan nikel kontras dengan beberapa komoditas logam industri lain seperti timah yang justru mencatatkan performa positif di pasar global. Berikut adalah komparasi harga beberapa logam industri utama per lini perdagangan terbaru:
| Jenis Komoditas | Harga Per Ton (US$) | Perubahan Harian (%) | Perubahan Mingguan (%) |
|---|---|---|---|
| Timah | 50.553 | +0,34 | -5,14 |
| Aluminium | 3.162 | -1,15 | -5,85 |
| Nikel | 16.651 | -0,93 | -5,95 |
Kondisi makroekonomi global ikut memengaruhi pergerakan harga melalui fluktuasi mata uang asing. Indeks dolar AS dilaporkan turun tipis 0,06 persen ke level 98,21, sementara data CME Fed Watch menunjukkan probabilitas bank sentral Amerika Serikat mempertahankan suku bunga acuan tetap tinggi berada di level 96,4 persen untuk periode jangka pendek.
Para pelaku industri kini terus memantau realisasi kuota produksi serta kebijakan regulasi domestik terkait pengelolaan volume ekspor. Langkah ini dinilai krusial untuk menyeimbangkan kembali neraca pasokan dan permintaan di pasar internasional agar harga komoditas nikel dapat kembali stabil dalam beberapa bulan ke depan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow