HDC Pelopori Diplomasi Kemanusiaan dalam Perdamaian Aceh

Smallest Font
Largest Font

Organisasi non-pemerintah asal Jenewa, Centre for Humanitarian Dialogue (HDC), menjadi mediator penting yang meletakkan fondasi diplomasi kemanusiaan dalam meretas kebuntuan konflik Aceh pada periode 1999 hingga 2003.

Inisiatif mediasi yang diusung HDC memfokuskan negosiasi pada pengurangan tingkat kekerasan dan penyaluran bantuan kemantuan, guna mencairkan hubungan kaku antara pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Pendekatan informal diawali oleh Profesor Sultan Barakat dari University of York melalui komunikasi budaya dengan Presiden Abdurrahman Wahid. Langkah ini membuahkan kesepakatan Jeda Kemanusiaan pada 12 Mei 2000 serta pembentukan Komite Bersama Kemanusiaan dan Keamanan.

Pengelolaan dinamika meja perundingan dilanjutkan oleh Dr. Louisa Chan-Boegli yang menerapkan pendekatan kesehatan publik, sementara pendiri HDC Martin Griffiths merancang kerangka Cessation of Hostilities Agreement (COHA) yang disepakati pada Desember 2002.

Di tingkat tapak, Head of Mission HDC Banda Aceh David Gorman memimpin operasional harian dan mengelola Joint Security Committee (JSC) bersama perwakilan TNI, GAM, serta pengawas sipil internasional untuk memverifikasi gencatan senjata.

Meskipun proses mediasi HDC berakhir pasca-kegagalan evaluasi di Tokyo yang memicu penetapan status Darurat Militer pada 19 Mei 2003, saluran komunikasi dan pengalaman merancang gencatan senjata tersebut menjadi referensi krusial bagi proses perdamaian Aceh selanjutnya.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed